Bir adalah Minuman Universal

Sejarawan menyebut di abad 14, satu diantara 13 rumah tangga di Eropa Barat membuka usaha kedai bir. Itu setara dengan 1 RT di negeri kita saat ini. Artinya kebutuhan suatu kampung di Eropa pada bir sedemikian tinggi, hingga perlu memiliki 1 tempat kedai berkumpul minum bir. Demikian juga di Jepang bahkan hingga 3 dekade setelah Restorasi Meiji pun, pemasukan terbesar kas negara berasal dari pajak sake (segolongan dengan bir). Besarannya mencapai lebih dari separuh pendapatan negara. Hal menyolok serupa didapatkan pada data muatan persediaan makan dari para penjelajah barat di abad 16. Dikatakan satu kapal galeon umumnya memuat beberapa ratus tong bir, beberapa puluh tong anggur, dan beberapa tong air bersih. Ya. Cuma bebebapa tong air bersih!

Tentunya hal itu tidak masuk akal bagi kebanyakan rakyat kita. Sudah terbayang di benak, para pelaut Barat sehari-hari hidupnya bermabukan dan teler. Kenyataannya tidak. Kehidupan pelaut adalah sedemikian keras dan disiplin, hingga tidak punya keluangan untuk sering bersenang-senang. Lantas mengapa minum bir dan anggur? Bukankah itu minuman keras yang bikin orang mabuk dan kehilangan akal? Demikian komentar nyinyir. Jawabannya adalah minum bir dan anggur bagi orang Barat dan Asia Timur bukan untuk mendapatkan kemabukan. Bir dan anggur diminum seperti halnya minuman air, atau teh bagi kita. Dan ia punya satu bonus luarbiasa: nutrisi yang demikian tinggi.

Pernyataan bir memabukkan keliru besar. Faktanya bir mengandung kurang lebih 5 persen alkohol saja, hingga dibutuhkan banyak minum bir agar seseorang dengan kesehatan normal bisa mabuk. Sebelum sempat mabuk, orang sudah kekenyangan.

Dalam sejarahnya, bir adalah minuman yang universal. Catatan terkuno pembuatan bir ada di Iraq dan Mesir kuno 5 hingga 7 ribu tahun lampau. Tapi di berbagai wilayah budaya lain seperti di Amerika kuno atau Himalaya, varian bir bisa ditemukan. Sake, dan berbagai jenis ciu di asia timur, pada dasarnya juga merupakan keluarga bir.

Definisi bir sederhana saja: Minuman beralkohol hasil fermentasi alami dari bahan zat pati. Jadi sari tape pun masuk kategori bir. Namun beda antara pemanfaatan bir di negeri Barat dan Nusantara, di negeri Barat (dan juga Cina, Korea, Jepang, serta Vietnam) bir benar-benar jadi alat pemuas dahaga dan pemenuhan nutrisi. Sementara anak-bangsa kita yang mulai gemar bir baru memanfaatkannya sebagai sarana bersenang-senang, bahkan gaya-gayaan, lebih konyol lagi: untuk mabuk-mabukan. Karena bir secara alami tidak memadai untuk mabuk, akhirnya sebagian orang mengoplosnya dengan vodka, ciu, jenis alkohol industrial lainnya, atau obat nyamuk dan bodrex sekalian.

Di sinilah salah kaprah itu terjadi. Secara pukul rata bangsa kita mengira minuman keras sama saja: zat beralkohol, yang memabukkan, haram, dan merusak kesehatan. Padahal alkohol ada beragam jenisnya. Minuman beralkohol terburuk adalah oplosan, campuran dari alkohol medik atau industri yang lantas diaduk dengan sirup, autan, spiritus, dan sebagainya. Hasilnya adalah kematian, kebutaan. Ragam yang kurang buruk adalah hasil destilasi/sulingan semisal vodka, whisky, rhum, dan sebagainya yang sangat memabukkan. Dan yang ketiga adalah alkohol alami semisal jenis bir (fermentasi zat pati, yang di antaranya adalah sake, ang ciu, bir, chang, sari tape, dan peuyeum), wine dan cider (hasil fermentasi dari buah-buahan), serta mead (hasil fermentasi madu).

Banyak fakta penelitian kesehatan membuktikan bahwa asupan minuman alkohol alami justru sangat membantu kesehatan. Wine ditemukan mampu mengatasi penyakit jantung dan kepikunan. Bir terbukti mengandung antioksidan pencegah kanker serta mencegah parkinson/alzheimer alias kepikunan. Dan mead bisa meningkatkan libido, kualitas sperma dan ovum. Toh temuan itu selalu ditolak kaum moralis religius dan fundamentalis kesehatan, mirip penolakan mereka terhadap konsumsi tembakau.

 

Panji Prakoso

Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.