Bir dan Penguasaan

Dalam sejarah manusia, penemuan bir dan wine adalah simultan dengan revolusi pertanian (domestikasi biji-bijian) pada ribuan tahun lampau.

Kalangan herbalis barat percaya bahwa bir dan wine telah membuat bangsa kulit putih menjadi berjaya. Mead atau minuman fermentasi madu yang bisa juga dicampur dengan buah-buahan mereka katakan menjadi penyebab bangsa Nordik tinggi besar dan kuat. Anggur mereka katakan meningkatkan IQ sehingga orang Eropa Selatan berbudaya tinggi. Bir mereka sebut membuat bangsa Eropa Barat kuat dan tinggi posturnya, gigih bekerja, produktif, dan kreatif. Mereka percaya bahwa minuman-minuman itulah yang menyebabkan gen orang Barat bermutasi dan berevolusi jadi unggul. Sepintas mitos ini bias ras.

Namun jika kita luaskan perhatian ke budaya dan peradaban timur, tradisi minum wine dan bir juga demikian kuat di negeri-negeri semacam Cina, Korea, dan Jepang, yaitu sake, ang ciu, soju, dll. Celakanya, negeri-negeri Timur ini jugalah yang saat ini (atau sejak dulu) menjadi penghasil teknologi dan budaya canggih dunia.

Jika kita bandingkan bangsa yang tak minum alkohol, faktanya mengagetkan: negeri-negeri non peminum wine dan bir, teknologi dan budayanya jauh tertinggal. Daerah Timur Tengah, khususnya Mesopotamia yang menjadi asal muasal penemuan bir dan wine, yang dulunya adalah penemu astronomi, matematika, seni, aksara, dan pengetahuan lainnya, kini menjadi ladang perang, sektarianisme, ketertinggalan teknologi, dan kejumudan fikiran.

Jadi, apakah benar bahwa bahwa bir dan wine-lah yang membuat suatu peradaban berjaya? Berita buruk bagi para moralis dan anti miras, dengan fakta yang sudah disebut bahwa bir dan wine bisa jadi salah satu penyebabnya. Penelitian-penelitian biologi dan kedokteran mengkonfirmasikan, bahwa asupan bir, wine, dan mead adalah salah satu elemen yang telah meningkatkan intelegensia dan keunggulan fisik nenek moyang manusia modern.

Merujuk para pelaut Eropa yang mengangkut ratusan tong bir dan puluhan wine. Air jernih cuma dibawa sedikit, karena air sebersih dan semurni apapun jika dibawa dalam jangka waktu lama akan berlumut, bau, dan berparasit.

Dalam sejarah manusia, penemuan bir dan wine adalah simultan dengan revolusi pertanian (domestikasi biji-bijian) pada ribuan tahun lampau. Saat panen, konon mereka menemukan bahwa biji yang terendam air dalam ruang tertutup, lantas berubah jadi cairan yang lezat, menggembirakan, dan bergizi. Di negeri-negeri empat musim, hal ini berarti mereka bisa menyimpan timbunan zat makanan dan minuman untuk masa paceklik atau musim dingin.

Pada era-era selanjutnya, jika masyarakat non peminum wine atau bir hanya memiliki persediaan makan saja, sementara zat minuman tergantung pada air yang bisa mengering dan keruh, maka masyarakat Eropa dan Asia Timur punya keuntungan besar selalu punya stok asupan minuman yang bernutrisi tinggi dalam bentuk bir.

Nusantara sebenarnya tak asing dengan alkohol, karena kita punya tuak dan saguer. Sayangnya minuman itu tidak bisa disimpan lama. 3 hari sudah rusak. Kita tak biasa menyimpan, karena sedemikian mudahnya kita mendapatkan makanan, sedemikian dimanjanya oleh alam. Tuak atau saguer juga bukan minuman pengganti air putih. Ia diminum sekedarnya saja sebagai teman hidangan, karena toh air bersih melimpah ruah. Lebih gawat lagi, lantas alkohol dilarang, hingga pemenuhan nutrisi dari minuman fermentatif pun menghilang. Standar gizi masyarakat Asia Tenggara pun merosot.

Etos masyarakat Barat dan Asia adalah berjuang melampaui alam, bertarung untuk menjadi berjaya di bidang teknologi, budaya, intelegensia, menguasai belah-belah dunia lain, dan memperbaiki terus kualitas fisik mereka. Masyarakat Barat dan Asia Timur gigih bertahan terus dari musim ke musim, berkreasi agar kehidupan jadi mudah dan sejahtera; di sisi lain mereka mendapatkan asupan bir dan wine yang menguatkan fisik dan mental mereka.

Merujuk para pelaut Eropa yang mengangkut ratusan tong bir dan puluhan wine. Air jernih cuma dibawa sedikit, karena air sebersih dan semurni apapun jika dibawa dalam jangka waktu lama akan berlumut, bau, dan berparasit. Sementara bir dan wine bisa diangkut kesana-kemari selama bertahun bahkan puluh tahun tanpa rusak dan beracun, justru karena alkohol mampu mengawetkan minuman dan membunuh kuman. Para penjelajah Eropa lantas mampu mengarung lautan hingga ribuan kilometer tanpa harus perlu istirahat mencari air bersih di pulau-pulau singgah. Mereka pun lantas menguasai dan menjajah bangsa lain.

Lantas bagaimanakah dengan kita? RUU anti minuman keras yang mengkriminalisasi konsumen sedang digodog DPR. Seturut dengan itu ada aturan tidak boleh menjual bir di minimarket dan kios-kios sudah diberlakukan. Akankah kita hanya menjadi penonton kejayaan bangsa-bangsa lain di dunia? Tentu bagi yang meyakini bahwa bir dan wine adalah haram itu sah-sah saja dan harus menjauhinya dengan tidak serta merta memaksakan keyakinannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita perlu mencontoh Vietnam, negeri tetangga satu kawasan dengan konsumsi bir tinggi sekali. Dengan bir, mereka bisa mengalahkan tentara Perancis dan Amerika. Vietnam punya Bia Hanoi dan Bia Saigon, menjamin Vietkong bisa bertempur selama bertahun-tahun tanpa letih. Dalam penelitian, orang Vietnam juga memiliki skor IQ tertinggi di masyarakat Asia Tenggara.

Panji Prakoso

Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.