Bunuh Diri Egoistik?

Belum lama berlalu masyarakat di Jepang dihebohkan kasus bunuh diri Haruo Hayashizaki. Sebenarnya tak ada yang istimewa. Profil Hayashizaki termasuk dalam ciri-ciri umum pelaku bunuh diri di Jepang saat ini: tua, hidup sendirian di rumah susun, terisolasi, diabaikan anak-anak dan keluarga, miskin dan banyak hutang. Jadi fenomenal barangkali karena caranya. Pria 71 tahun itu naik sebuah kereta api supercepat, Shinkansen. Di dalam kereta api itu dia mengambil jerigen dari tas ranselnya, menuangkan bensin ke tubuhnya, memantik korek, membakar diri dan tewas. Tak hanya bunuh diri, tindakan Hayashizaki juga membunuh orang lain.

Belakangan bunuh diri jadi fenomena sosial yang cukup meresahkan. Tak hanya bagi Jepang, tapi juga melanda dunia. Tiap tahun trend-nya cenderung naik. Khusus di Jepang, rata-rata setiap hari 70 orang bunuh diri. Angka ini enam kali lipat lebih tinggi daripada jumlah kecelakaan lalu lintas di negeri itu. Ini tentu angka yang sangat tinggi bagi sebuah negara maju dan kaya.

Ya, benar Jepang memiliki catatan sejarah panjang tentang bunuh diri. Orang bunuh diri lazimnya didorong oleh rasa frustasi dan nirharapan, entah itu problem asmara, kehilangan orang yang dicintai, sakit berkepanjangan, himpitan hutang, tekanan sosial atau politik. Namun di Jepang, cara pandang dunia atau sistem keyakinan masyarakat nampaknya turut memberi andil munculnya gejala bunuh diri. Orang sering menyebut tradisi “bunuh diri terhormat” sebagai penjelasan tentang tingginya angka bunuh diri itu.

Masyarakat Jepang menyebutnya seppuku, orang luar lebih mengenal dengan istilah hara-kiri. Seppuku adalah bunuh diri dengan cara merobek perut sendiri dengan pedang pendek, sebuah cara terhormat untuk mencabut nyawa sendiri yang umum dilakukan kalangan samurai. Ada ritus dan upacara khusus dalam bunuh diri terhormat ini. Pada masa Tokugawa, tradisi seppuku menjadi hukuman resmi negara bagi seorang samurai yang bersalah; dan dihapuskan pada masa Restorasi Meiji.

Konon, seorang samurai memang dilatih siap menghadapi kematian. Daidoji Yuzan dalam The Code of Samurai mengatakan, seorang samurai dilatih untuk menjaga state of mind-nya setiap saat, sejak bangun tidur pada pagi hari hingga malam menjelang tidur pikirannya selalu dilatih menyadari bahwa ia harus siap untuk mati, kapanpun itu. Seppuku dilakukan seorang samurai bukan semata mengakhiri hidupnya, tapi menggenapkan tugasnya selaku kesatria. Dalam Japanese Ritual Suicide, Jack Seward menyimpulkan seppuku adalah kata kunci spirit Bushido, yaitu etik kaum samurai. Tak heran sebagian orang memaknai Bushido sebagai jalan seorang samurai, semangat kekesatriaan sekaligus jalan kematian.

Jalan kematian seorang samurai ini demikian fenomenal ditempuh tentara Jepang pada momen PD ke-2. Kamikaze, korp serangan udara bunuh diri dengan cara menabrakan pesawat pada sasaran musuh jelas menggemparkan dunia kemiliteran. Cukup satu atau tiga pilot gugur, satu kapal induk tenggelam. Ide ini disambut sangat antusias oleh para pemuda Jepang. Bergabung dalam korps Kamikaze jadi sebuah panggilan ‘tugas suci’. Mereka pergi untuk tak kembali. Kamikaze bukan hanya taktik perang dari satuan khusus Jepang untuk menggempur Amerika, melainkan juga sebuah jalan bunuh diri terhormat bagi para pemuda.

Sementara, di Indonesia adalah Gunung Kidul yang memiliki angka bunuh diri tertinggi. Di sana dikenal istilah “pulung gantung”. Diyakini oleh masyarakat sana, orang bunuh diri karena pada awalnya dia memperoleh “pulung” atau “wahyu” berupa semacam bintang berekor di malam hari yang jatuh mengarah rumahnya. Mitos “pulung gantung” ini selalu muncul dari mulut ke mulut, sesudah bunuh diri itu terjadi. Meski demikian umumnya sudah jadi “pengetahuan umum” warga sekitar, bahwa si-pelaku bunuh diri memiliki persoalan yang sekian lama tak terpecahkan, entah itu berupa sakit yang tak kunjung sembuh, putus asa karena patah hati, dibelit hutang, dan sebagainya.

Emile Durkheim dalam Suicide (1897) membagi empat jenis bunuh diri, yaitu tipe egoistik, altruistik, anomik, dan fatalistik. Bunuh diri egoistis muncul karena lemahnya integrasi antara individu dan sistem sosialnya. Bunuh diri altruistis muncul karena kuatnya integrasi antara individu dan sistem sosialnya. Bunuh diri anomik ditandai fakta keadaan sosial yang kacau balau, tanpa peraturan atau norma. Sedang bunuh diri fatalistik muncul karena struktur sosial begitu menindas sehingga sama sekali tidak memberi harapan akan masa depan.

Meminjam klasifikasi Durkheim, tradisi seppuku boleh jadi termasuk kategori bunuh diri altruistik. Ini ditandai integrasi dan ikatan kolektivisme yang kuat antara individu dan sistem sosialnya, juga hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin cenderung menciptakan kultus dan menuntut pengabdian total. Akibatnya apabila kelompoknya menuntut pengorbanan diri maka dimaknai tugas atau kewajiban. “…if even happens that the individual kills himself purely for the joy of sacrifice” ujar Durkheim.

Terang Hayashizaki tak termasuk itu. Barangkali dia lebih termasuk kategori bunuh diri egoistik. Tanpa kecuali warga Gunung Kidul, meskipun berbalut mitos “pulung gantung”, tak khayal nampaknya juga masuk kategori bunuh diri egoistik. Dan bukan tak mungkin pula sebagaian besar kasus bunuh diri di dunia termasuk klasifikasi jenis itu.

Bunuh diri, mengapa orang memutuskan meniadakan hidupnya sendiri? Dalam Mite Shisypus, Albert Camus mengawali pembicaraannya dengan mengatakan, “…there is but one truly serious philosophical problem, and that is suicide.Camus mempermasalahkan bunuh diri sebagai problem filosofis yang sangat serius. Menilai bahwa hidup ini layak atau tak layak dijalani; itulah pertanyaan dasar filsafat. Menurut Camus, alasan utama orang bunuh diri ialah rasa ketiadaaan makna (meaningless) dari kehidupan yang dijalaninya. Bunuh diri dan kematian bertujuan mengakhiri perasaan absurditas hidupnya. Mati dirasakan lebih baik daripada hidup.

Namun dia bukan lantas bersetuju, sebaliknya justru menolak bunuh diri. Camus tak percaya ada orang nekat mati karena sepenuhnya demi membela prinsip-prinsip yang sangat ontologis, Barangkali saja ada kasus sebuah keyakinan spiritual atau religius seseorang turut andil memantik peristiwa bunuh diri itu, akan tetapi bagi Camus orang bunuh diri, apapun dalihnya, justru mengisyaratkan dia telah kalah dalam hidup dan tak pernah mengerti dirinya sendiri.

Panji Prakoso

Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.