Cak Nun: Siapa yang Antitembakau Akan Saya Laporkan Kepada Allah

“Suka dan tidak suka, adalah wajar bagi manusia, dan sah-sah saja. Keduanya saling mengisi, menghormati dan tidak boleh saling memaksa. Mereka yang suka tanaman tembakau mempunyai budaya tersendiri, harus dihormati, begitu juga sebaliknya.”

Cak Nun. Foto diambil dari caknun.com

Tiap kali saya membuka akun Facebook, selalu ada tulisan Cak Nun (panggilan akrab) yang dishare oleh teman-teman. Siapa yang tidak kenal dengan Cak Nun? Nama lengkapnya Emha Ainun Najib, sebagian masyarakat mengakuinya sebagai tokoh agama dan budayawan.

Banyak karya buku dan tulisan pendeknya, memberikan informasi yang terkadang tidak terpikir oleh orang pada umumnya. Baginya, sesuatu yang rumit disederhanakan, agar masyarakat mudah memahami.

Ada banyak tulisan dan guyonan Cak Nun yang saya suka. Gaya bahasa yang sederhana, lugas penuh makna, adalah daya tarik bagi saya. Disini saya menukil (mengambil ) sebagaian tulisannya. Mencoba menggali makna dengan cara baca yang berbeda (tafsiran/interpretasi). Hanya bisa menafsir karena tidak akan mungkin seseorang bisa menjelaskan perkataan orang lain yang sesuai dengan yang dimaksud orang yang mengucapkannya.

Salah satu guyonan Cak Nun yang selalu teringat adalah, “Allah yang menciptakan tembakau, siapa antitembakau? Akan saya laporkan kepada Allah.”

Kalau dilihat sepintas seakan-akan memang betul guyonan. Cak Nun tidak mungkin akan melaporkan antitembakau pada Allah. Cak Nun itu orang yang sangat menghargai perbedaan.

Jika ditelaah, ada makna yang sangat mendalam guyonan Cak Nun tesebut.

Pertama, hanya Tuhan yang bisa menciptakan tanaman tembakau. Alam seisinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang tidak akan bisa menciptakan alam dan seisinya, termasuk di antaranya adalah tembakau. Manusia hanya bisa menanam, merawat, dan membudidayakan tanaman tembakau.

Oleh karena itu, Tuhan juga menurunkan air hujan untuk menyirami agar semua tanaman tumbuh dengan baik sehingga tanaman tembakau bisa dimanfaatkan oleh manusia, baik pemanfaatan segi ekonomi, ataupun pemanfaatan kandungannya dan kegunaannya.

Kedua, terjadi keseimbangan relasi sosial. Ada antitembakau, berarti ada yang protembakau. Antitembakau orang yang tidak suka tanaman tembakau, tidak bisa dan tidak tahu manfaat tembakau, mereka akan menjauhi tanaman tembakau.

Suka dan tidak suka, adalah wajar bagi manusia, dan sah-sah saja. Keduanya saling mengisi, menghormati dan tidak boleh saling memaksa. Mereka yang suka tanaman tembakau mempunyai budaya tersendiri, harus dihormati, begitu juga sebaliknya. Sangat tidak baik, jika satu dengan yang lain saling mengolok dan menjatuhkan.

Ketiga, laporan kepada Tuhan bentuknya adalah mendoakan, tidak ada bentuk yang lain. Sebagai tokoh agama, sudah selayaknya Cak Nun mendoakan yang tidak baik jadi baik, yang melenceng supaya lurus, yang tidak tahu menjadi tahu, dan seterusnya.

Cak Nun berupaya mendoakan antitembakau, sebagai bentuk rasa kasihan dan sayangnya. Supaya Tuhan memberikan hidayah dan pemahaman terhadap yang antitembakau, betapa besar manfaat tanaman tembakau untuk kepentingan manusia (individu) dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Cak Nun berupaya membela para petani tembakau, seperti halnya petani di Kabupaten Temanggung terutama yang hidup dilereng gunung. Mereka menggantungkan hidupnya pada tanaman tembakau. Adanya kearifan lokal, lahan dengan kemiringan tertentu yang hanya bisa ditanami tembakau. Secara umum, bagi masyarakat Temanggung tanaman tembakau lebih menghasilkan secara ekonomi daripada tanaman lain.

Serapan daun tembakau mayoritas sebagai bahan dasar membuat rokok dan rokok di Indonesai terkena pajak yang dinamakan cukai. Artinya setiap orang yang membeli rokok, otomatis sudah membayar pajak untuk Negara.

Informasi terkini yang dialnsir dari koran Media Indonesia, terbit pada tanggal 7 November 2017, bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, telah defisit sebesar 9 triliun. Kemudian pemerintah membuat kebijakan mengambil uang dari pungutan cukai rokok sebesar 5 triliun untuk menambal defisit tersebut. Berbanggalah bagi orang yang merokok, telah membantu sesama.

Cak Nun seorang perokok, banyak sekali gambar Cak Nun di media sosial sedang merokok. Menurut Cak Nun, dilansir dari beberapa tulisannya, menyebutkan bahwa sesungguhnya rokok dan tembakau itu banyak manfaatnya, termasuk juga untuk kesehatan. (http://www.naqsdna.com/2017/09/rokok-itu-menyehatkan-kata-cak-nun.html)

Lanjut lagi, Cak Nun sangat tidak setuju, jika rokok satu-satunya barang yang mendapatkan label “bahaya dan membunuh”. Ia menggambarkan, bahwa semua yang ada di dunia ini potensi membunuh dan berbahaya bagi diri sendiri.

Nasi, gula, kambing, minuman suplemen, dan lainnya sama bahayanya dengan rokok. Jika dikonsumsi tidak teratur dan berlebihan dapat membahayakan diri sendiri. Ia menegaskan, jika semuanya berpotensi berbahaya sebaiknya diberi gambar peringatan, tidak hanya rokok.

Cak Nun sebenarnya mengajak kita semua untuk berpikir obyektif. Kematian adalah kepastian Tuhan, tidak dapat diperpanjang atau diperpendek, tidak bisa diminta atau jauhi. Kematian harus disandarkan pada sang pencipta.

Menurutnya lagi, dari pengalaman Cak Nun, ia merokok karena cinta Allah, sebab Allah yang membuat tembakau. Orang itu pada dasarnya sudah dapat mengukur kemampuannya. Buktinya kalau mau makan, setiap manusia sudah tahu takarannya sendiri, begitu juga kalau mau minum dan lain sebagainya. (http://masdjenar.blogspot.co.id/2015/05/cak-nun-jangan-terlalu-menganiaya-rokok.html)

Cak Nun mengingatkan pada semua, merokok dan tidak merokok itu pilihan seseorang, jangan sampai saling mencemooh dan saling menghakimi.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).