Cengkeh Adalah Jati Diri Masyarakat Maluku

“Berbeda saat pohon cengkeh sedang mengalami panen raya, banyak anak-anak petani pergi sekolah ke luar daerah, membangun rumah, bahkan sampai membeli barang-barang berharga seperti membeli motor baru, dan lain sebagainya.”

Hampir setiap hari matahari di Maluku tertutup awan mendung, curah hujan cukup tinggi sepanjang tahun 2017. Situasi ini sedikit menyulitkan bagi masyarakat Maluku, khususnya mereka yang bekerja dan hidup dari tanaman cengkeh. Ya, tanah tempat “nenek moyang” tanaman cengkeh berasal memang sedang dilanda kemurungan hasil panen.

Namun demikian, kondisi tersebut telah disadari oleh mereka yang hidup dari cengkeh. Bahwa jenis tanaman cengkeh merupakan tanaman musiman. Tanaman cengkeh akan berbuah dan panen raya 1:2 yang artinya jika satu musim telah panen raya, maka tahun berikutnya tidak berbuah dengan baik. Kemudian tahun berikutnya lagi, buahnya sedikit, baru tahun kemudian panen raya lagi dengan hasil yang melimpah.

Cengkeh di Maluku mungkin sedikit berbeda dengan daerah lain penghasil cengkeh. Setelah pohon cengkeh ditanam, pohon tersebut dibiarkan tumbuh dan berkembang bersama alam, tak ada perawatan khusus seperti pemupukan atau lainnya. Secara geografis hal ini memang sangat memungkinkan. Cengkeh yang tumbuh di antara pegunungan dan pantai, serta terpaan angin laut memungkinkan cengkeh dapat tumbuh subur dengan kualitas yang baik sekalipun tak ada perawatan khusus.

Walaupun demikian, masyarakat Maluku tetap selalu mengandalkan cengkeh sebagai komoditas yang sangat memberikan nilai ekonomi tinggi selain pala. Bagi masyarakat maluku yang ada di kepulauan, seperti di Maluku Tengah atau di pulau Seram bagian Barat, tanaman cengkeh adalah tanaman tabungan untuk jangka panjang. Cengkeh difungsikan untuk membiayayi kebutuhan yang membutuhkan dana besar, seperti membangun rumah, menyekolahkan anak, pernikahan, bahkan sampai perayaan hari besar mereka.

Pada satu waktu pernah terjadi harga cengkeh di Maluku anjlok, terjadi sekitar tahun 1990-an, saat adanya monopoli dagang yang dilakukan pemerintah saat itu melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Nilai cengkeh anjlok sampai hanya sekitar Rp2.000 per kg. Harga yang tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk pembersihan lahan kebun, jika menjelang panen. Di saat itu pula, masyarakat maluku banyak yang tidak bisa menyekolahkan anaknya, membangun rumah, bahkan perayaan untuk hari besar diselenggarakan dengan sangat sederhana dan biaya seadanya.

Cerita Clifford Kissya, petani asal negeri Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, bahwa pada tahun 1990 ia dan teman sebayanya tidak ada yang sekolah karena orang tuanya tidak memiliki biaya lebih, bisa untuk makan tiap hari itu saja sudah cukup bagus. Apalagi yang dialami orang tuanya Cliff saat itu, hasil cengkeh merugi, hingga banyak buah cengkeh dibiarkan di pohon (tidak dipanen). Masyarakat memilih tidak melakukan aktifitas yang membutuhkan dana besar, lebih memilih hidup irit dan sederhana.

Berbeda saat pohon cengkeh sedang mengalami panen raya, banyak anak-anak petani pergi sekolah ke luar daerah, membangun rumah, bahkan sampai membeli barang-barang berharga seperti membeli motor baru, dan lain sebagainya.

Cengkeh tuni salah satu jenis cengkeh yang ditanam masyarakat, dan merupakan endemik asli dari Maluku umurnya sudah ratusan tahun. Konon, diceritakan oleh Toni Tebeary petani cengkeh yang pernah menjabat Kepala Dusun Ursana, Desa Hunitetu Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat, bahwa cengkeh tuni yang sekarang beredar di Maluku dahulu berasal dari hutan daerah Seram.

Di saat portugis memonopoli pedagangan cengkeh, hingga membakar lahan cengkeh di seluruh daerah maluku, ada seorang raja (sebutan untuk tokoh masyarakat di maluku) di salah satu negeri (sebutan desa adat) wilayah Seram, menyelamatkan bibit cengkeh dan pala untuk di tanam dalam hutan yang tidak terjangkau bangsa Portugis.

Sayangnya, raja tersebut meninggal sebelum mengembalikan tanaman cengkeh di wilayah negeri. Namun, pada akhirnya diselamatkan oleh masyarakat Saparua dengan membawa, dan menanam bibit tuni di hamparan kebun daerah Saparua. Hingga sekarang di daerah Saparua terlihat banyak pohon cengkeh berumur ratusan tahun.

Bagi para pedagang, cengkeh jenis tuni adalah yang terbaik diantara jenis cengkeh lainnya, termasuk dibandingkan dengan cengkeh zanzibar sekalipun. Salah satunya pedagang cengkeh bernama Hasan Basri Orela, biasa disapa petani cengkeh dengan sebutan Aston. Ia berdagang cengkeh sudah 17 tahun, dan satu satunya pedagang keturunan asli desa Tulehu Kec. Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Cengkeh tuni berbeda dengan cengkeh lainnya, selain bobotnya berat, kandungan minyak cengkehnya banyak, dan disukai para eksortir di Kota Ambon. sayangnya para petani sering menjual cengkeh tuni dicampur dengan zanzibar. Pada akhirnya harga cengkeh tuni disamakan dengan zanzibar, sebetulnya, harga tuni lebih mahal dari zanzibar. harga cengkeh saat ini, jenis raja atau hutan hanya Rp.98.000 per kg, untuk zanzibar dan tuni Rp.125.000 per kg.

Cengkeh bagi orang maluku adalah jati diri mereka. Selain mempunyai nilai ekonomi yang tinggi di banding tanaman lainnya, juga memiliki nilai identitas bagi masyarakat Maluku. Masyarakat Maluku sangat malu jika tidak mempunyai tanaman cengkeh. Sebaliknya, mereka tidak akan malu saat tidak mempunyai mobil, motor dan lainnya. Cengkeh bagi mereka adalah aset dan tabungan untuk kehidupan jangka panjang.

Dalam rangkuman sejarah tanaman cengkeh di Maluku, terdapat tiga kejadian besar yang hampir saja tanaman cengkeh lenyap di bumi Maluku. Yaitu saat penjajahan portugis, saat kebijakan pemerintah BPPC, dan saat terjadi tragedi konflik 1999 yang mengakibatkan banyak pohon cengkeh terbakar.

Namun pada akhirnya, tanaman cengkeh tetap ada dan menjadi tanaman kebanggaan orang Maluku. Kehadiran cengkeh bagi masyarakat Maluku adalah sumber kehidupan yang sangat penting secara ekonomi, secara budaya, secara sosial, dan sebuah harapan akah kehidupan yang lebih baik.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).