Cerita Cengkeh Dari Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan

“Sejak 1979, Nurjanah mengaku tidak ada satupun petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang memberikan penyuluhan tentang cengkeh. Bantuan pemerintah juga tidak pernah diberikan kepadanya.”

Duas areal perkebunan cengkeh di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, diperkirakan sebesar 16 ribu hektar yang tersebar di 20 kecamatan. Adapun Kecamatan Larompong, Larompong Selatan, Suli, dan Suli Barat merupakan penghasil cengkeh tertinggi. Dengan kemampuan produksi mencapai 9.000 ton dengan tingkat produktifitas 700kg/ha, jumlah petani cengkeh di Luwu diperkirakan sebanyak 14 ribu orang.

Pada anggaran tahun 2017, sebesar Rp700 juta disiapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu yang secara umum diperuntukan bagi perkebunan. Dengan detail spesifik digunakan untuk pembagian bibit, pengembangan kopi di desa Latimonjong, pembagian bibit kakao, dan lain-lain. Sementara khusus untuk cengkeh memang belum memiliki plot khusus untuk tahun ini, namun akan dimasukan sebagai usulan pada tahun mendatang, dengan program peremajaan cengkeh yang mati akibat dari terserang penyakit jamur akar putih.

Dinas Perkebunan Kabupten Luwu sampai sekarang belum mendengar akan ada program dari Kementerian Pertanian untuk menggalakkan pengadaan bibit rempah (pala, lada, cengkeh, dll) senilai 2 triliun dari pemerintah pada tahun 2018.

“Ke depan kita bangkitkan komoditas yang strategis untuk ekspor, seperti dulu daerah rempah-rempah. Rempah itu seperti, merica, pala, lada, cengkih, dan kakao, kami siapkan bibit senilai Rp2 triliun pada 2018. Mudah-mudahan ada tambahan lagi,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, seperti dikutip dari Antara, di Kementan, Jakarta, Selasa 30 Mei 2017.

Cerita tentang rencana besar pemerintah mengembalikan kejayaan rempah (cengkeh) sepertinya masih dalam satu tahap wacana, mengingat struktur pemerintah di tingkat bawah belum mengetahui hal tersebut. Jika demikian, bisa saja ditingkat petani seperti Nurjanah (54) hal tersebut juga belum diketahui.

Perempuan yang tinggal di Dusun Tampumia, Desa Tampumia, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu ini memiliki 500 pohon cengkeh. Ia menanam pohon cengkeh itu sejak 1979, tak semuanya tumbuh dengan baik karena banyak yang terkena hama dan kemudian roboh. Namun demikian hanya 100 pohon saja yang dapat dikatakan masih produktif. Cengkeh yang masih berbuah rata-rata pada saat panen menghasilkan 500 kilogram cengkeh. Sedangkan 400 lainnya masih berumur dua tahun.

Empat anak Nurjanah dua tahun yang lalu berinisiatif menanam sejumlah 400 pohon untuk Nurjanah dan suaminya, masing-masing anak menyumbang 100 pohon. Anak-anak Nurjanah berinisiatif menanam cengkeh untuk orang tuanyakarena mereka dahulu disekolahkan dari uang hasil penjualan cengkeh. Nurjanah sendiri mempunyai enam orang anak yang semuanya menjadi sarjana. Zulfikar, anaknya yang terakhir meskipun menyandang gelar sarjana memilih pulang ke kampung halaman, dan menekuni profesi sebagai petani.

Selain menanam cengkeh di Dusun Tampumia, pada umumnya petani menanam jagung dan padi. Dari jumlah penduduk di Dusun Tampumia tempat Nurjanah tinggal, 75% penduduknya menanam cengkeh. Rata-rata mereka memliki lebih dari 200 batang pohon cengkeh. Pada masa Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) orang-orang di Tampumia disuruh menebang pohon cengkehnya, bagi yang menebang akan diberikan ganti rugi sebesar 50 ribu rupiah. Namun Nurjanah dan suaminya tidak menebang satupun pohon cengkehnya.

Untuk penanaman cengkeh di Tampumia biaya yang dikeluarkan cukup besar. Gambaran biaya dari penuturan Bu Nurjanah saat anak-anaknya akan menanam 400 batang pohon cengkeh yang diberikan kepada Nurjanah dan suaminya. Untuk upah pekerja buka lahan sebesar Rp2 juta untuk 5 orang. Pembukaan lahan ini dikerjakan satu hari.

Setelah lahan dibuka kemudian sisa-sisa kayunya dibakar. Untuk pembakaran dan pembersihan lahan ini mengerahkan tenaga kerja sebanyak 3 orang, per orang diupah 100 ribu, dikerjakan selama 3 hari. Berarti biaya yang dikeluarkan sebesar 900 ribu rupiah. Untuk pembukaan lahan dan pembersihannya sudah menghabiskan biaya sebesar Rp2,9 juta.

Setelah lahan dibersihkan kemudian melakukan pembuatan lubang untuk menanam cengkeh dan melakukan pemupukan. Pada tahap ini Nurjanah mempekerjakan dua orang selama empat hari. Setelah cengkeh ditanam, perawatan yang dilakukan adalah menyiram seminggu dua kali.

Sejak 1979, Nurjanah mengaku tidak ada satupun petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang memberikan penyuluhan tentang cengkeh. Bantuan pemerintah juga tidak pernah diberikan kepadanya. Sehingga jika wacana besar pemerintah untuk mengembalikan kejayaan rempah dengan anggaran yang besar, hal tersebut dapat tersampaikan dan terdistribusi dengan baik sampai di level paling bawah.

mm

Zulvan Kurniawan

Ketua Pekerja

Penikmat tembakau, teh, dan camilan yang renyah. Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK)