Chet Baker yang Kerap Bosan

Let’s defrost in the romantic mist
Let’s get crossed off everybody list
(Let’s Get Lost—Chet Baker)

Dalam keramaiannya yang sunyi ia tidaklah sendiri. Sebut saja Van Gogh, Miles Davis, adalah seniman-seniman yang menemukan siapa dirinya dalam kesunyian. Chet Baker, musisi kelahiran Oklahoma ini adalah pentrompet fenomenal, berkali-kali ia keluar-masuk penjara akibat kebiasaannya mengkonsumsi kokain. Pada suatu kali Chet pernah ditanya oleh kawannya.

“Do you find life boring ?”.

“Under some circumctance, it can be very boring. In front of a lot of people it can be boring, very boring. Being hungry. Being cold.” jawab Chet.

Bernama asli Chesney Henry Baker. Ia lahir dari keluarga pemusik. Ayahnya adalah pemain gitar profesional. Ia pada awalnya dibelikan oleh ayahnya sebuah trombone, namun menurutnya alat itu terlalu besar untuk dimainkan anak kecil. Baru kemudian ketika sang ayah mengganti trombone menjadi trumpet, Chet langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia terus berlatih hingga akhirnya wajib militer membuat ia masuk menjadi bagian dari korps musik pada Perang Dunia II.

Chet memutuskan tidak melanjutkan kontrak dengan militer dan bergabung bersama Gerry Mulligan Quartet Band, sebuah band jazz ternama pada masa itu. Melalui bakat musiknya, pilihannya bergabung dengan group itu merupakan lompatan mudah yang membuatnya terkenal. Di masa-masa ini ia mulai menjalin pertemanan dengan Stan Getz, seorang maestro saxophone.

Ada satu masa ia pernah meringkuk di beberapa penjara karena kasus kokain. Italia, Jerman dan Inggris, merupakan beberapa negara yang pernah memenjarakan Chet karena kasus pemalsuan resep obat bius. Hingga sebuah peristiwa membuatnya karir bermusiknya nyaris hancur ketika ia dipukuli orang dan mengalami kerusakan embouchure (tulang mulut depan) saat melakukan transaksi kokain. Ketergantungannya pada obat bius membuat karir musik Chet menurun drastis, namun bersamaan itu kebutuhan obat biusnya melonjak drastis pula. Ini membuatnya melakukan apapun, termasuk menjadi tukang servis pipa gas.

Chet tidak sendiri. Ia figur pria yang dikagumi banyak wanita. Sekilas tampilannya mirip James Dean, dan sering membuat banyak wanita jatuh cinta padanya. Banyak kisah flamboyan dalam catatan hidupnya, meski demikian Chet tetaplah seorang pria yang lebih memilih sendiri walaupun kekaguman banyak orang mengejarnya. Selesai menjalani perawatan untuk embouchure-nya, Chet kembali bermusik. Ia banyak bermain di San Francisco yang belakangan jazz dari belahan ini disebut West Coast Jazz. Di sini ia bermain bersama gitaris Jim Hall hingga tahun 1978, di mana ia lebih memilih Eropa sebagai tujuan karir pemain jazz professional.

Nama Chet Baker sangat lekat dengan lagu ‘My Funny Valentine’ yang dibawakan sangat lirih dan dingin olehnya. Ia tahu bahwa karakter musik dan hidupnya berada pada wilayah-wilayah yang penuh kegalauan. Kesan itu dapat dirasakan dari album Blue Note dimana ia menyanyikan ‘Let’s Get Lost’. Seperti nyanyian seorang yang sedang mabuk namun dilagukan dengan penghayatan yang sangat dalam. Chet menyihir pendengarnya dari setiap lengkingan lembut trompet dan lirih vokalnya.

Chet tewas jatuh dari lantai dua apartemennya di Amsterdam dini hari pukul tiga. Di apartemennya ditemukan heroin dan kokain, namun tanpa tanda-tanda kekerasan. Ia mengalaminya tak sendiri. Van Gogh harus berhadapan dengan pistol yang menerjang sisi samping kepalanya. Modigliani harus mati karena TBC dan kecanduan alkohol. Mereka yang telah melihat bagaimana rahasia hidup tak perlu takut untuk mati tanpa perlu dicari.

Kisah hidupnya sempat difilmkan oleh sutradara Bruce Weber di tahun 1988, berjudul ‘Let’s get lost’, diambil dari salah satu lagu yang ia bawakan dalam album Chet Baker Sing. Bruce Weber ingin menghadirkan film ini sebagai gambaran nyata kehidupan Chet Baker. Weber membuat film tersebut dalam format hitam putih dan dilengkapi dengan kumpulan-kumpulan foto William Claxton yang banyak mendokumentasikan perjalanan karir Chet Baker. Beberapa rekannya juga mendokumentasikan pandangan pertemanan mereka bersama Chet. Dalam film ini Weber berhasil membawa kesan grunge dan dingin dari sebuah kehidupan seorang Chet Baker.

Dan yang penting pula untuk dicatat. WordPress sebagai sebuah software yang menjadi favorit para blogger memberikan penghormatan kepada para musisi jazz dengan menyematkan nama mereka pada tiap-tiap versi yang dirilis. WordPress versi 2.8 menyematkan nama  Chesney Henry (Chet) Baker sebagai  ikon. Dimana pada versi Baker, wordpress menyempurnakan design antarmuka widget-nya untuk lebih memudahkan para blogger. Pada versi sebelumnya, WordPress 2.7 – Coltrane, didedikasikan untuk musisi John Coltrane. Ihwal dekatnya WordPress dengan musik jazz tentu ada sebabnya, yaitu sang pendiri, Matt Mullenweg, adalah seorang pecinta berat jazz. Nama-nama musisi jazz lainnya seperti Miles Davis, Ella Fitzgerald dan Duke Ellington adalah nama-nama yang pernah disematkan WordPress dalam versi-versi sebelumnya.

‘Dont fill your life with someone else’s life. Live your life the way you like. Be yourself and be it.’ Mungkin ini adalah aforisma yang tepat untuk menggambarkan bagaiamana Chet berpikir akan konsep hidupnya. Ia tak mau sibuk dengan cara-cara orang menilai hidupnya. Ia hanya ingin menjalani hidupnya sebagai dirinya. Bagaimana dengan kita. (((Kita))) ? Let’s get lost.

Belajar dari ‘kesasar’ pada akhirnya kita
menjadi sadar siapa sesungguhnya kita di dalam pasar.

Jibal Windiaz

Seniman kopi pahit dan kretekus sampai nanti.