Haryono Haryoguritno dan Kerisologi

Haryono mengatakan, bangsa Indonesia sebagai pewaris keris harus bisa menerangkan kepada dunia segala sesuatu tentang keris, apapun itu, baik ilmiah maupun non-ilmiah. Semua harus bisa dijelaskan dengan argumentasiyang rasional atau logis.

HARYONO HARYOGURITNO DAN KERISOLOGI

Berbicara soal keris, senjata tradisional Nusantara, ia memiliki kompleksitas dan kedalaman kebudayaan masyarakat Nusantara. Ada filosofi, nilai-nilai, etik dan juga sikap diri diguratkan. Tanpa terkecuali momot ekspresi seni dan estetik. Ada ungkapan melekat pada keris, yaitu curiga manjing warangka, warangka manjing curiga, jumbuhing kawulo lan gusti, yang bisa dimaknai secara sederhana sebagai bentuk kesatuan antara manusia dengan penciptanya. Sehingga keris menjadi simbol spiritualisme, setidaknya bagi budaya Jawa, dan bukan sekedar sebuah senjata (kebendaan), atau lebih jauh hanya dianggap sekedar gaya hidup. Lebih jauh soal keris, mau tidak mau kita harus berguru ke salah satu sesepuh keris Indonesia, yaitu Haryono Haryoguritno.

Kami menemui sosok pria, yang mungkin lebih pantas kami panggil Eyang (usianya 83 tahun), di rumahnya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Arsitektur rumah serta interior-nya sangat menunjukkan kecintaannya terhadap seni. Di rumahnya, mantan ajudan terakhir Presiden Soekarno (1966-1970) itu menyimpan berbagai koleksi seni-budaya, bukan hanya yang berasal dari Nusantara, tapi juga dari berbagai negara.

Khusus untuk keris, Haryono Haryoguritno sudah dikenal masyarakat luas sebagai salah satu pegiatnya, melalui lembaga yang didirikannya yaitu Yayasan Damartaji. Ia menggelorakan dunia perkerisan, menulis buku dan penelitian tentang keris, serta mengikuti berbagai kegiatan yang memajukan wacana keris sebagai salah satu warisan budaya Nusantara. Puncaknya adalah pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan budaya tak benda dunia asal Indonesia. Penghargaan ini diberikan pada 25 November 2005.

Sambil menyulut tembakau di pipanya, Haryono bertutur tentang kekeliruan banyak orang dalam mengapresiasi keris, justru dengan memisahkan aspek intangible (non-bendawi) dan tangible (bendawi)-nya.

“Kebanyakan orang mempelajari keris secara parsial belaka. Ini jelas keliru”, katanya.

Sebenarnya aspek intangible dan tangible adalah satu kesatuan pemahaman yang utuh. Bahkan pada sisi paling permukaan sekalipun yakni tentang seni estetika keris (tangible), kalau bicara soal desain motif pamor, misalnya, itu tak bakal termaknai utuh seandainya aspek intangible-nya dihilangkan.

Hal ini tak lepas dari perkembangan ilmu perkerisan di fase klasik, yang menurut Haryono, lebih merupakan bentuk ‘seserepan’ atau ‘kawruh’. Maksudnya adalah, keris pada masa lalu tumbuh dan berkembang di atas tradisi lisan (cerita/dongen turun temurun), bukan tradisi tulisan. Akhirnya wacana local knowledge perkerisan tidak cukup terwariskan dengan baik. Transfer ilmu dan wacana antar generasi lebih banyak diwarnai dengan diskontinuitas dan distorsi.

Dari sinilah, Haryono Haryoguritno mencoba membangun lahirnya Kerisologi, atau perspektif keilmuan dalam meninjau dunia keris dengan metode ilmiah. Ia membagi khasanah keris dalam tiga fase atau tahapan.

Pertama, fase klasik. Fase ini ditandai dengan model pendekatan yang bersifat legenda, mitologis, atau tafsiran subyektivisme. Itu mengacu pada Serat Centhini yang ditulis oleh Empu Rangga Sutrasna pada zaman Pakubuwono V di Surakarta.

“Ilmu perkerisan pada fase klasik itu bukanlah ilmu dalam arti modern, melainkan lebih ke bentuk kawruh paduwungan atau tradisi lisan tadi”, kata Haryono.

Kedua adalah fase tradisional. Fase ini dipelopori oleh Gusti Pangeran Haryo Hadiwidjaya pada tahun 1920-an di Surakarta. Ini juga belum bisa dikatakan sebagai model pendekatan ilmiah karena fase tradisional ini masih merupakan penajaman dari fase sebelumnya.

Ketiga adalah fase kerisologi. Lahirnya fase kerisologi ini lah yang menjadi harapan Haryono menjadi tugas masyarakat Indonesia sebagai konsekuensi dari pemberian sertifikat oleh UNESCO. Menurutnya, ini adalah hutang Indonesia pada dunia.

Kita harus menyediakan alih pengetahuan tentang keris dengan metode dan penjelasan yang baru serta ilmiah”, tegasnya sambil menghembuskan asap tembakau dari pipanya.

Haryono mengatakan, bangsa Indonesia sebagai pewaris keris harus bisa menerangkan kepada dunia segala sesuatu tentang keris, apapun itu, baik ilmiah maupun non-ilmiah. Semua harus bisa dijelaskan dengan argumentasiyang rasional atau logis. Bahkan, kalaupun ada fenomena spiritual atau mistis pada perkerisan, itu tetap bisa dijelaskan dengan bukan mengacu pada benda atau kasusnya itu sendiri, melainkan secara fenomenologis melalui disiplin metode ilmu lain.

“Dengan demikian Kerisologi jelas membutuhkan kehadiran cabang-cabang ilmu pengetahuan lain, misalnya metalurgi, antropologi, arkeologi, sosiologi, histori atau ilmu-ilmu lainnya”, sambung bapak dua anak dan dua cucu ini.

HH3 copyNaga Sasra copy

Dedikasi Hidup Untuk Keris

Haryono Haryoguritno mengakui, masyarakat Indonesia secara umum dan masyarakat pengeris secara khusus masih belum siap memasuki fase ilmu perkerisan yang modern. Sehingga perkembangan fase kerisologiini memang masih berupa embrio gagasan.

“Pemerintah selama ini juga masih terkesan abai”, kata dia.

Tanpa berkecil hati, langkahnya terus berderap maju. Pada Januari 2006ia menulis buku berjudul “Keris Jawa—Antara Mistik dan Nalar”Ini adalah buah dedikasi hidupnya terhadap dunia tosan aji keris. Buku ini juga menjadi ujud tanggung jawabnya menyebarkan pengetahuan tentang keris yang dimilikinya.

Tidak berhenti di situ. Di usia yang sepuh pun beliau masih memiliki keinginan kuat untuk menulis lagi sebuah buku tentang keris. Pucuk dicinta ulam tiba, dua putri tercintanya yang menjadi konsultan hukum, sudah setuju menyokong pembiayaan penulisan buku tersebut. Saat ini proses penyusunan buku itu masih dilakukan.

“Di ulang tahun saya ke-83 ini, anak-anak saya memberi saya uang untuk membiayai rencana penulisan dan penerbitan buku kedua saya. Ini tentu sungguh membahagiakan saya” kata Haryono.

Materi bahasan buku masih tetap seputar dunia perkerisan dengan perspektif budaya Jawa. Judulnya cukup provokatif. Kami dapat bocorannya langsung dari mulut beliau, kira-kira begini : “Tanpa Keris, Jawa bukanlah (lagi) Jawa”.

Mendengar tuturan kecintaannya pada dunia keris, mengingatkan pada kisah pengembala domba bernama Santiago dalam novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Ada kata kunci yang sama antara tokoh Santiago dalam novel itu dan Haryono Haryoguritno dalam dunia keris. Legenda pribadi. Sinonim dengan mimpi dan cita-cita, atau passion, hasrat dari dalam diri untuk mengejar sebuah cita-cita dan obsesidiri.

Mundur jauh ke belakang, Haryono Haryoguritno mengenal keris sejak usia 6 tahun, yaitu dari keris pertama pemberian kakeknya. Terus tumbuh sebagai seorang pemuda yang mencintai seni budaya, ia pun dikenalkan oleh atasannya di militer ke Presiden Soekarno karena kegilaannya pada seni.

Pada kunjungan kami ke rumahnya beberapa bulan lalu, istrinya Indreswari Radityani bercerita, suaminya itu tidak jarang membawa keris naik ke ranjang bersanding tigaan dengannya. Sambil tertawa, perempuan lulusan insinyur sipil ITB dan pengajar di Universitas Indonesia itu pun mengaku sempat muncul rasa cemburu. Mendengar cerita itu, tawa kamipun lepas, sementara sepuh keris itu santai saja menghisap pipa tembakaunya.

Kisah kegilaan lainnya terjadi pada tahun 1970-an saat Haryono menukarkan Mercy 280 S Tiger 1972 miliknya dengan tiga bilah keris milik bangsawan Solo. Lagi-lagi, istrinya menambahkan, rumah yang baru mereka tempati dulu masih terasa kosong tanpa barang, sementara koleksi keris sang suami bertambah terus.

Dari situ patut kiranya dikatakan, bagaimanapun juga keris telah menjadi legenda pribadi bagi seorang Haryono Haryoguritno.

mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.

  • artikel sangat menarik…keren !