Hidup Sehat Jiwa dan Raga

Hidup sehat jelas tidak sesederhana slogan empat sehat lima sempurna, juga tak sesederhana perihal kebiasaan tidak merokok.

hidupsehat-001

Sejak kecil kita diajari konsep hidup sehat, “empat sehat lima sempurna.” Bahkan sebelum saya lahir pun, ungkapan itu sudah begitu populer. Konsep ini juga diajarkan di sekolah-sekolah. Dan luar biasanya, konsep hidup sehat itu diterima tanpa reserve. Yah, hal umum yang telah disepakati bersama kadangkala memang bisa serta merta jadi “kebenaran.” Justru yang anti mainstream terhadap konsep mayoritas lazimnya lantas dianggap sebuah “kegilaan.”

Apa benar yang empat itu betul-betul membuat kita sehat?  Dan apa benar yang kelima itu sebagai kesempurnaannya? Dari sekian banyak bentuk makanan yang bisa dimakan dan yang telah tersedia di alam ini, masa’ hanya empat bentuk yang menyehatkan? Dan hanya susu yang kelima sebagai kesempurnaannya? Kita bisa bertanya susu apa dan susu siapa? Mari kita berdialektika dengan konsep ini dengan smart berlandaskan argumentasi yang baik dan benar.

Tentu saja konsep hidup “empat sehat lima sempurna” bisa dianggap benar dengan asupan makanan nasi, lauk-pauk, sayur-mayur dan buah-buahan, plus susu. Lantas apakah roti, air mineral, cokelat, penganan ringan yang mengandung banyak gizi, juice, yoghurt, teh, kopi, atau bahkan bir, dan lain-lain itu tidak menyehatkan? Saya kira semua bisa sepakat sekiranya makanan dan minuman itu tidak bertentangan dengan kondisi fisik seseorang, maka hal tersebut bisa disebut menyehatkan atau setidaknya tidaklah berbahaya.

Sesungguhnya makanan dan minuman itu sendiri tidak selalu otomatis menyehatkan. Sebagian makanan dan minuman itu bisa jadi justru membuat kita sakit, terlebih kita mengonsumsinya overdosis. Biarlah di sini masalah makanan dan minuman sehat bisa kita peroleh dari penjelasan ahli gizi atau dokter. Sumbangsih pemikiran mereka terus mewarnai pola hidup sehat masyarakat dunia, terwarisi dari generasi ke generasi selama ratusan atau bahkan ribuan tahun lamanya, sekalipun belakangan sistem industri kapitalistik ternyata seringkali mendistorsi spirit idealisme profesi mereka.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin bermain-main dengan dialektika pemikiran dan visi filosofis kesehatan. Proposisi filosofis saya ialah, bahwa hidup sehat dan menderita sakit adalah suatu yang alamiah. Pasalnya kita berada dalam lingkungan yang terus-menerus berubah sehingga tentu saja kita mengikuti alur perubahannya. Bahwa makanan dan minuman serta pola mengonsumsinya ikut menentukan urusan kesehatan dan penyakit kita, saya tidak mengingkarinya. Tapi apakah hanya makanan dan minuman yang membuat kita sehat? Tentu saja tidak.

Terlepas dari produk makanan dan minuman sudah menjadi alat industrialisasi serta institusi kebijakan ekonomi-politik kapitalistik, saya percaya bahwa untuk hidup sehat kita harus menjani kehidupan sesuai aturan. Dari menjaga kebugaran fisik dengan cara praktis tertentu, memberi asupan gizi yang cukup, baik makanan dan minuman maupun pola hidup sehat, hingga yang terpenting ialah bagaimana piawai mengelola “state of mind” kita. Konon, berdasar temuan sains termuthakir sekalipun hal ini masih debatable, semua fenomema orang sakit itu sesungguhnya adalah fenomena psikosomatis yang notabene berkaitan sangat erat dengan state of mind. Lebih jauh, menurut saya menderita sakit adalah efek dari kita yang tidak ingin sehat. Sejatinya yang eksis itu adalah sehat, sedangkan sakit itu hanyalah akibat dari menghindar terhadap sesuatu yang menyehatkan.

Kalau ada ungkapan filosofis bahwa “manusia adalah apa yang ia pikirkan”, maka di belahan Barat juga berkembang ungkapan, “bagaimana kamu, tergantung apa yang kamu makan.” Artinya, menu makanan yang ia asup akan memengaruhi kondisi fisiknya. Ini persis seperti ungkapan-ungkapan lain, misal “kamu adalah apa yang kamu baca.” Kalau kamu biasa membaca koran yang ini, maka isi kepalamu begini dan kalau kamu biasa membaca majalah yang itu, maka isi kepalamu begitu. Maksudnya, apa yang biasa kita lakukan dan membentuk pola hidup tertentu akan sangat berkaitan dengan pembentukan kualitas diri kita. Jadi, kalau kita ingin selalu menikmati hidup sehat, selayaknyalah kita harus membangun kausalitas dari aktivitas yang memperkuat dan mengarah pada terbentuknya kualitas hidup sehat itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan kebiasaan orang yang cenderung merusak diri, katakanlah biasa merokok. Penilaian sebagian orang bahwa merokok itu merusak kesehatan sangat bergantung pada pengetahuan tentang efek buruk dari aktivitas merokok. Bisa jadi itu benar. Tapi apakah benar bahwa rokok itu betul-betul merusak kesehatan?

Di sebagian produk rokok khususnya kretek, terdapat sebagian masyarakat malah mensinonimkannya dengan produk herbal yang berfungsi sebagai obat. Di beberapa daerah pedalaman baik desa, hutan, maupun gunung banyak orang sehat-sehat saja meski tampak jelas bahwa kesehariannya adalah perokok. Bahkan dari kalangan kaum hawa pun terbiasa dengan merokok, dan mereka sehat-sehat saja. Artinya, jika benar bahwa merokok itu faktor utama perusak kesehatan fisik seseorang, maka seharusnya setiap yang merokok aktif itu pasti serta merta akan sakit. Sementara, faktanya jelas tidak begitu! Jadi, mudah diduga, premis merokok itu serta merta membuat orang sakit pun sekadar mitos laiknya ungkapan empat sehat lima sempurna.

Maksud saya begini, kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh makanan, minuman, atau kebiasaan merokok dan atau minum kopi yang dianggap buruk. Namun, kesehatan itu dipengaruhi oleh banyak faktor dan sebab. Dari aspek kualitas lingkungan, pola hidup, kebiasaan hidup, keseimbangan aktivitas, pikiran, norma yang ia yakini, dan bahkan hingga aspek spiritualitas seseorang. Sebagai contoh dalam agama tertentu mengenal konsep halal-haram dalam setiap zat makanan dan bagaimana ia peroleh makanan itu. Artinya, meski secara zat makanan itu halal tapi dalam perolehannya melalui cara-cara yang haram, maka jiwa seseorang itu akan rusak rusak juga. Dan kerusakan jiwa seseorang itu lebih jauh berbahaya ketimbang sekadar kerusakan fisiknya.

Orang yang arif akan sadar betul terhadap kesehatan dirinya. Artinya, apa yang membuatnya sehat akan selalu diupayakan dan apa yang membuatnya kurang sehat akan dijaga bahkan dihindari. Misalnya begini, hukum bila ia lapar tentu ia akan makan, dan bila ia haus maka ia akan minum. Secara hukum sebab akibat ia telah tunaikan persoalan itu. Tapi makan sambil berbicara atau makan secara overdosis tentu bukanlah hal bijaksana. Makanlah bila lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Makan sambil berbicara bisa berbahaya, salah masuk lubang atau rongga pernapasan, bisa tersedak dan bisa menyebabkan kematiannya. Makan terlalu kenyang bisa menyebabkan penumpukan kolesterol, lambung jadi melar, usus bisa terganggu yang bisa memicu berbagai macam bentuk penyakit. Maka dari itu, dalam agama tertentu ada konsep pola makan yang diterima secara medis yaitu 1/3 lambung manusia berisi makanan, 1/3 adalah cairan, dan sisanya lagi yang 1/3 berisi udara. Ini menyehatkan.

Jadi menurut anda sekarang apakah yang membuat kita sehat? Kita adalah bagian dari tatanan kosmos yang memiliki hukum-hukum alamiah. Sebagai hukum tentu ia bersifat tetap, tidak berubah, dan harmonis. Sebagai hukum yang bersifat tetap, kita tidak mungkin bisa melanggarnya. Hanya saja, aturan-aturan yang menjelaskan hukum itulah yang sering kita langgar atau tidak kita indahkan sehingga memforsir kapasitas organik tubuh. Dengan begitu hidup sehat pasti memiliki alur logika yang sesuai dan tidak boleh meleset.

Demikianlah hidup sehat adalah saling berkaitannya antara faktor lingkungan bersih, pola makan, olahraga, cara berpikir (state of mind), norma-norma yang kita anut, keseimbangan gaya hidup, spiritualitas dan lain-lain. Semua itu saling mendukung dan harus dipahami dengan bijaksana. Yang tahu kadar atau ukuran kemampuan kesehatan fisik kita adalah kita sendiri. Sensor alamiah manusia bekerja melalui syaraf-syaraf yang selalu mengingatkan kita pada gejala-gejala tertentu. Maka pelajarilah dan renungkan. Bukankah mencegah terjadinya penyakit atau tindakan preventif itu terlihat lebih arif daripada mengobati?

Saya kira memahami kesehatan kita, perlu dilihat dari barbagai sisi, baik rohani maupun jasmani. Hidup sehat jelas tidak sesederhana slogan empat sehat lima sempurna, juga tak sesederhana perihal kebiasaan tidak merokok. Urusan kesehatan itu berkaitan dengan banyak hal dan kompleks.

Masroni Wijaya

Aktif menulis di kafecendekia.com, tinggal di sekitar Jakarta