So I’ll Start a Revolution From My Bed

“Ia teguk air putih langsung dari botol, dan menyalakan sebatang rokok usai pekerjaan rumahnya selesai, baru kemudian ia membuat secangkir kopi. Membuka laptop, tapi bukan untuk bekerja, sekadar mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.”

Kemarin pagi Noel memulai hari bukan dengan segelas kopi. Tak benar-benar pagi sebetulnya, pukul 10.40 WIB. Mungkin tak pantas juga untuk disebut pagi, tapi bagi Noel, atau bagi sebagian orang mungkin itu masih bisa dikatakan pagi. Tak perlu diperdebatkan lebih lanjut perihal itu masih pagi, menjelang siang, atau sudah siang karena setiap orang punya “paginya” sendiri.

Beberapa barang yang berserakan di lantai, dan pinggir kasurnya dirapikan. Termasuk di antaranya adalah gelas kopi sisa semalam yang menemani Noel bekerja menyunting sebuah artikel tentang cengkeh di Maluku. Struktur tulisan lompat-lompat, cerita kurang mengalir baik, cepat berpindah dari satu topik ke topik lain tanpa perantara yang asik. Tak masalah baginya, memang tugasnya untuk merapikan, sembari memaklumi penulis yang mungkin lelah selama perjalanan liputannya.

Tak terlalu bagus hasil suntingannya, tapi harus segera diterbitkan untuk Senin pagi. Mungkin juga karena tak ada di lokasi, membuatnya kesulitan membayangkan suasana dan gambaran lokasi yang sebenarnya bisa memperindah tulisan, dan membimbing pembaca berimajinasi.

Sisa ampas kopi dibuangnya, dicuci gelasnya. Membuang sampah dalam keranjang yang telah menggunung di sudut rumah, menyapu lantai dengan bersih, hingga tak tersisa lagi sehelai rambut pun yang sepertinya menjadi kotoran yang selalu ada di tiap rumah di seluruh dunia. Mengepel lantai adalah kerja berikutnya, dan diakhiri dengan menyemprot tiap ruangan dengan pewangi.

Ini Senin pagi, bukan Sabtu atau Minggu, waktu biasanya orang membersihkan rumah. Hal yang wajar baginya mengingat sebagai pekerja lepas waktu, ia memang tak memiliki jam dan waktu kerja sebagaimana umumnya para pekerja. Sementara Senin pagi di negara tetangga, seorang teman barunya sedang memulai jalan-jalan menyusuri Grand Palace, Bangkok. Asiknya.

Ia menawarkan hendak membelikan cindur mata dari Bangkok, tapi Noel belum memikirkan ingin dibelikan apa. Sejauh ini di kepalanya hanya ada jersey klub sepakbola kesayangannya. Konon kabarnya jersey KW buatan Thailand memang cukup terkenal, dengan harga yang relatif terjangkau, hanya berbeda tipis secara kualitas dari jersey original. Nyaris tak terlihat. Namun di sisi lain ia juga tak ingin dioleh-olehi gantungan kunci atau tempelan kulkas, cendera mata khas dari luar negeri. 

Noel tak mau berlebihan soal ini, tak elok baginya jika meminta oleh-oleh dengan harga yang mahal, sekalipun teman barunya itu memiliki uang yang banyak dan berlimpah. Entah uangnya atau bukan yang pasti ia pergi ke sana selama seminggu untuk mengikuti seminar soal keuangan, sembari menyisihkan waktu untuk berlibur dengan biaya dari perusahaan. Tak ada salahnya, aji mumpung. Jika Noel yang mendapatkan kesempatan itu, mungkin dua minggu dihabiskannya di sana.

Senin itu, tak seperti bukan hari Senin, tak ada cerita tentang keharusan kerja di pagi hari, diburu kemacetan Jakarta yang semakin hiruk-pikuk, kepadatan gerbong kereta, dan keceriaan di wajah ojek online karena mendulang uang. Di aplikasi Whats App yang ia buka sesaat mata terbuka dari tidur, dan tubuh masih tergeletak di kasur, tak ada satupun cerita tentang kerja.

Ia teguk air putih langsung dari botol, dan menyalakan sebatang rokok usai pekerjaan rumahnya selesai, baru kemudian ia membuat secangkir kopi. Membuka laptop, tapi bukan untuk bekerja, sekadar mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Lantunan lagu Oasis, dan Coldplay ada dalam playlist-nya. Ikut berdendang, terkadang sedikit menghentakan suaranya yang tak seberapa merdu itu, atau sesekali memejamkan mata mencoba menghayati tiap lirik lagu, sementara jemarinya juga sibuk berbalas chating dengan orang-orang.

Sore hari Noel berencana mengolah raganya, lari beberapa kilo untuk mendapatkan keringat segar. Keringat segar dari aktivitas olahraga ia percayai dapat mengeluarkan hormon endorphin, Zat ini bertindak seperti morphine, bahkan dikatakan 200 kali lebih besar dari morphine.Endorphin mampu menimbulkan perasaan senang dan nyaman hingga membuat seseorang berenergi.

Fungsi zat itu adalah untuk kekebalan tubuh yang artinya selain mencegah memburuknya emosi, meningkatkan rasa bahagia, juga merangsang timbulnya zat imunitas. Dengan endorphin perasaan kita akan lebih rileks, dan tentunya kita akan lebih mudah mengontrol perasaaan. Mengontrol diri dari amarah sekaligus berpikir positif dengan mengutamakan kesabaran. Begitu cerita tentang endorphin yang ia dapatkan dari wikipedia.

Entah apakah dalam tiap batang rokok yang ia isap juga mengandung endorphin. Rokok selama ini ia fungsikan sebagai sebuah media untuk relaksasi, menghilangkan stres, meredakan emosi, menambah konsentrasi, dan sebagainya. Untuk hal ini ia tak mencari informasinya di internet, sudah tahu ia tak akan mendapatkan informasi itu di sana. Semua hanya berisi tentang keburukan rokok, hingga ia memilih berhenti untuk membaca perihal rokok di internet.

Noel tak sendiri dalam melihat rokok sebagai medium relaksasi. Beberapa bulan lalu ia sempat ikut dalam sebuah riset yang mempertanyakan kenapa orang miskin masih saja mengkonsumsi rokok. Ternyata sebanyak 98% dari 400 responden yang disurvei di Gunung Kidul, Jogja, menyatakan bahwa rokok adalah bentuk relaksasi dan rekreasi bagi mereka. Hal yang tak bisa digantikan dengan rekreasi lain yang mungkin butuh biaya lebih besar.

Pada pertanyaan lain, menyebutkan sebanyak 33% responden merasakan bahwa merokok dapat menyegarkan pikiran, 22% responden beranggapan merokok dapat menghilangkan stres, 15% responden mengatakan merokok membuat fokus dalam bekerja, dan 21% responden menyatakan merokok menjadikan pikiran tenang. Hanya 9% responden yang menganggap aktivitas merokok berakibat kecanduan, ketagihan, merasa biasa saja, dan menghilangkan kantuk.

Noel bukan responden, ia hanya bertugas membantu riset itu berlangsung dengan baik. Namun sepertinya ia memiliki satu ikatan yang sama dengan para responden perihal rokok. Ia sebenarnya tak terlalu ambil pusing ia soal pro-kontra rokok ini, selama ia menikmati dengan uangnya sendiri, dan berusaha untuk tetap menjaga etika ketika mengkonsumsinya, hingga tak mengganggu orang lain yang tak suka dengan kebiasaanya itu.

Noel sudah membayangkan menu makanan yang akan disantapnya usai olahraga. Lalu pulang dengan tubuh yang lelah namun segar, membersihkan diri, beribadah malam, dan kembali sibuk dengan gawainya sampai akhirnya bunga tidur berbayang pada mata yang terpejam, dan otak yang beristirahat. Meninggalkan orang-orang yang sedang diajaknya bicara di WA, tanpa berpamitan.

Keringat segar membasahi tubuhnya yang kecil, tujuh kilo ia lahap malam itu. Sepertinya apa yang dibayangkannya tadi benar dilakukannya, dan ia akan lelap dengan sangat nikmat malam ini. Hal itu yang ia harapkan karena esok pagi harus bangun lebih awal, menjadi kuli selama seminggu. Nah, di sini rasanya masalah baginya untuk memulai revolusi dari tempat tidur muncul. Sederhana saja, ia selalu kesulitan untuk bangun pagi, sementara alarm tak pernah mempan untuk membangunkannya. Snooze.

mm

Alfa Gumilang

REDAKTUR

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.