Jalanan dan Perubahan

alanan adalah sebuah “panggung” terbuka di ruang publik, yang siapapun bebas untuk menorehkan maknanya. Namun, kebebasan itu sendiri tentu tak hadir cuma-cuma. Ada negosiasi kepentingan terus-menerus, tak sesekali konfrontasi dan bakan duel hidup-mati, untuk memaknai ruang publik yang berlangsung di ruang publik sesungguhnya yaitu “jalanan”.

Di jalanan sudah tentu beragam komunitas saling berlomba-lomba mengekspresikan dirinya di ruang-ruang kota, para seniman jalanan juga bisa berkesenian mementaskan karya-karyanya, namun tak kurang kelompok preman “bekerja” minta setoran sana-sini. Sementara di sisi lain aparat pemerintah bermaksud menertibkan “kebebasan” di ruang publik itu, membuat regulasi, memungut pajak resmi dan non-resmi dan menerapkan saksi. Tentu juga tak ketinggalan pihak korporasi getol berburu ruang di jalanan untuk beriklan atau berlomba-lomba menjual produknya.

Tumpah ruahnya beragam warna budaya dan aneka kepentingan di ruang publik membentuk apa yang lazim disebut “kultur urban”. Sedang jalanan adalah bagian pembentuk ruang publik, wahana subkultur dari kultur urban. Dulu umum disebut dengan istilah “budaya jalanan” (street culture).

Jelas, ada dinamika tersendiri yang tak semua orang dapat dengan mudah memahami. Konon, budaya jalanan adalah identik dengan kekerasan dan anti norma-norma mapan. Budaya jalanan adalah sebuah gambaran tentang kondisi kaum miskin perkotaan, yang melahirkan beragam sektor informal seperti kerja asongan, kaki lima, pekerja seni, dsbnya. Budaya jalanan, jika didedah mendalam, bukan tak mungkin adalah potret sekaligus rekaman jejak proses peralihan, persilangan dan pertukaran aneka rupa dan ragam budaya yang berbaur menjadi satu, dengan segala capaian kemajuan dan keganjilannya sebagai bagian pembentuk rupa budaya urban.

Dijalanan kami sandarkan cita cita
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta
Oh oh
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Buku “Catatan Seperempat Abad, KELOMPOK PENYAYI JALANAN, Jakarta 1982 – 2007” setidaknya merupakan potret parsial tentang budaya jalanan itu, khususnya kehidupan para pekerja seni di wilayah Jakarta. Perjalanan KPJ yang menempuh lebih dari setengah abad jelas menggambarkan banyak dinamika dan perubahan. Tak hanya terkait perubahan tataruang kota Jakarta; gagalnya proyek pembangunan Soeharto nampak dari semakin membanjirnya jumlah pengamen; dan, yang terpenting ialah catatan sejarah perubahan dan capaian KPJ sendiri. Dari yang awalnya hanya dimaksudkan menghadapi para preman Blok M, kemudian berhasil membangun kantong-kantong komunitas pekerja seni di banyak kota di Indonesia, hingga lebih jauh keberadaan KPJ sanggup memberdayakan kelembagaan dirinya mengemban fungsi edukasi maupun ekonomis bagi anggotanya.

2 Mei 1982 adalah momentum historis lahirnya KPJ. Bermula di emperan gedung Hall D Gelanggang Remaja Bulungan dideklarasikan sebuah wadah bernama “Kelompok Penyanyi Jalanan” atau nanti lebih populer disebut KPJ. Sebutlah Anto Baret, Yono Selalu, Bagong, Brins Bresley, Eko Suro (alm), Iwan Medan, Fredly Lamandau, Yoyik Lembayung, Athoq Klobot, Didi Kiswara, Puji, Mukhlis Arbi, adalah nama-nama pendiri KPJ. Ditunjuk sebagai ketua Yoyik Lembayung, sementara bendahara Anto Baret.

Tentu tak ada kantor sekretariat, juga tak ada perlengkapan kerja sebagaimana normalnya satu organisasi. Meski tak bersekretariat, namun kesadaran akan pentingnya uang kas sebagai penunjang kegiatan organisasi KPJ telah muncul kuat. KPG sepakat mengumpulkan iuaran dari para anggota, besarannya Rp. 100 perbulan.

Uang kas dan bendahara sebenarnya juga sebuah siasat menghadapi palakan preman. Adalah Mat nama preman Blok M waktu itu. Para anggota KPJ mudah menolak uang setoran yang diminta oleh Mat dengan melemparkannya fungsi keberadaan uang kas dan bendahara, dan Anto Baret bersiap dengan segala resiko menghadapi Mat. Dan benar, akhirnya duel pun terjadi. Pada suatu malam Mat dengan senjata terhunus menyerang Anto Baret, untungnya luput, dan terjadilah perkelahian antara keduanya. Mujur polisi segera datang dan Mat digelandang ke kantor polisi. Apa yang penting diingat, sejak malam takbiran di tahun 1982 hingga kini para anggota KPJ terbebas dari ancaman dan palakan preman Blok M.

Pentas perdanan KPJ bertajuk “Aksi Ngamen 82” berlangsung di Gelanggang Remaja Bulungan. Pentas ini tak berlangsung hingga selesai karena dibubarkan polisi. Sementara album perdana KPJ adalah Serenada, rilis tahun 1984. Dalam album ini, KPJ berkolaborasi dengan Iwan Fals. Iwan Fals bernyanyi penuh pada lagu Kembang Pete, Kupaksa Untuk Melangkah, dan Dua Menit Sepuluh Detik, Barangkali karena pertimbangan popularitas Iwan Fals, album berjudul Serenada kemudian diganti dengan judul Kembang Pete.

KPJ bukan hanya mengusung gagasan jalanan sebagai media ekspresi, melainkan juga jalanan sebagai media bisnis. Pada 1989 Anto Baret yang pada waktu itu sudah jadi ketua KPJ berhasil melobi sebuah distributor minuman ringan, dan kini setidaknya mereka menyuplai warung-warung di sekitar jalanan Bulungan, Mahakam, Sampit dan sekitarnya. Juga bisnis ayam bakar Ganthari yang dikelola oleh adiknya Anto Baret, kini telah memiliki 13 cabang. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga mempunyai cabang di Bali.

Semangat pemberdayaan KPJ semakin bertambah-tambah. 19 Oktober 2002 diresmikanlah Wapress, yang merupakan akronim dari kata “warung” dan “apresiasi”. Benar, bahwa bentuknya adalah warung makan atau kafe sederhana, tapi spirit yang diusungnya ialah tempat orang mengapresiasi karya, sesuai dengan namanya. Pembacaan puisi, bedah buku dan film, tak kecuali pemeran lukisan, sering dilakukan. Apa yang menarik jika kita berkunjung ke Wapress adalah tercipta suasana hangat dan akrab. Ya, Wapress memang dimaksudkan jadi oase di tengah hiruk-pikuk kehidupan industrial dan budaya urban yang bentuk-bentuk hubungan sosialnya semakin serba fungsional.

Sadar dengan kehidupan budaya jalanan yang serba keras, dan juga melihat tak sedikit anak jalanan sebenarnya memang memiliki potensi ‘berantem’, pada awal 2000-an Anto Baret menginisiasi terbentuknya wadah kegiatan olahraga tinju dengan nama KPJ BBC (Kelompok Petarung Jalanan Bulungan BoxingCamp). Ide ini ternyata gayung bersambung dengan Pemkot Jakarta Selatan, maka pada 17 Maret 2001 walikota meresmikan berdirinya Arena Tinju Bulungan. Apa yang menarik dicatat, Anto Baret dengan BBC-nya itu tak pernah mengambil sama sekali honor petinju, padahal lazimnya menurut aturan KTI (Komisi Tinju Indonesia) 60% buat petinju dan 40% buat sasana.

Ya, membaca Anto Baret dan KPJ-nya setidaknya dapat dengan mudah kita simpulkan, bahwa Anto Baret memahami dengan baik dinamika budaya jalanan, khususnya di kawasan Blok M. Ya, di jalanan butuh akal dan okol, ujarnya suatu ketika. Dan Anto Baret dengan modal akal dan okol itu berhasil melakukan proses negoisasi kepentingan khalayaknya berhadapan dengan jaring-jaring kuasa di sana: pemerintah, aparat, preman dan korporasi.

Lebih dari itu, bahkan tak hanya sekadar memahami, tapi Anto Baret dan KPJ-nya adalah salah satu agregat utama dan agent of change yang berperan signifikan sebagai pembentuk wajah budaya jalanan. Tapi, sayangnya Anto Baret dan KPJ-nya adalah sekadar wajah parsial sekitaran wilayah Bulungan itu saja dan bukan wajah budaya urban DKI Jakarta secara keseluruhan.

Haryanto

Mahasiswa yang meyakini akan sukses dengan kerupuk dan teh botol.