Jung

D

engan sebaran 17.000 pulau-pulau besar dan kecil yang membentuk lanskap Indonesia sebagai archipelagic state ditambah garis pantai terpanjang kedua di dunia sudah tentu ekosistemnya memprasyaratkan hadirnya budaya bahari. Sejarah kebesaran Sriwijaya dan Majapahit dengan demikian tak bisa tidak adalah bagian dari catatan kisah bangsa bahari itu. Bahkan jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus melakukan ekspedisi pelayaran samudera, konon para penjelajah laut Indonesia sudah dikenal piawai menjelajahi bumi. Apa buktinya?

Tulisan ini bermaksud melacak catatan sejarah tentang keberadaan kapal di Indonesia. Lazim disebut dengan nama “jung”. Mari kita telusuri.

Oliver W. Wolter (1967) mengatakan, pada abad ke V – VII hubungan perdagangan melalui laut antara China dan Indonesia, juga antara China dan India serta Persia (Arab), ada pentunjuk awal bahwa bangsa China hanya mengenal pengiriman barang melalui kapal-kapal bangsa Indonesia. Selain itu, juga kita temukan tulisan Diego de Couto yang berjudul Da Asia terbit 1645, yang dikutip oleh Anthony Reid (2000): “Orang Jawa adalah orang-orang yang sangat berpengalaman dalam seni navigasi, sampai mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini, walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang China lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa. Tetapi yang pasti adalah orang Jawa yang dahulu berlayar ke Tanjung Harapan dan mengadakan hubungan dengan Madagaskar, di mana sekarang banyak dijumpai penduduk asli Madagaskar yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan orang Jawa.”

Dari prasasti Kedukan Bukit (682 M), diceritakan penguasa Sriwijaya awal yakni Dapunta Hyang Sri Jayanasa berangkat dari Minańa membawa 20.000 pasukan dan 200 peti perbekalan. Sayangnya, prasasti itu tak memberi informasi lanjutan tentang bentuk dan kapasitas tonase kapal-kapal itu. Namun dari sumber informasi catatan China, I-Tsing (671-695 M), kita bisa menduga-duga. Diceritakan ketika I-Tsing berpergian dari Kanton menuju Perguruan Nalanda di India Selatan ia naik kapal milik Sriwijaya. Dalam catatan itu disebutkan kapal itu ditaksir memiliki panjang hampir 50 meter dan memiliki beban 600 ton.

Sementara bicara prototipe kapalnya, yang paling populer adalah situs Borobudur dari abad ke-8. Borobudur yang secara geografis berada jauh di pedalaman, namun limabelas panel relief candi itu memberikan informasi tentang rancang bangun kapal Indonesia. Ya, model kapal cadik yang belakangan populer disebut “kapal Borobudur.” Ya, dinasti Syailendra, salah satu klan penguasa Mataram Kuno itu memang memiliki pertalian keluarga dengan penguasa Sriwijaya di sana. Jadi, wajar seandainya dinasti yang membangun kompleks Borobudur-Mendut-Pawon itu, tak alpa mendokumentasikan capaian teknologi kapal masa itu.

Menurut penelitian Robert Dick-Read, rancang bangun kapal pada relief candi itu sudah pasti adalah kapal buatan Indonesia dan bukan kapal-kapal dari India seperti dugaan Mookerji. Dari kontruksi kapalnya yang kukuh, jenis kapal itu terbukti sanggup melakukan perjalanan jauh. Dick-Read menyebut kapal ini fungsinya setara Boeing atau Airbus. Fantastis, bukan!

Itu belum seberapa. Melompat ke depan memasuki abad ke-16 dan ke-17, Denys Lombard mencatat bahwa di sepanjang jalur pelayaran Laut China Selatan pada masa itu telah muncul kapal-kapal berukuran raksasa. Mengambil contoh kapal yang dipakai raja kedua Kerajaan Islam Demak, Pati Unus, untuk menyerang Portugis di Malaka, menurut Lombard memiliki tiga anjungan dan mampu memuat seribu penumpang. Kapal raksasa lain yang juga disebut Lombard adalah kapal milik laksamana Aceh, yang pada tahun 1629 juga membuat tercengang orang Portugis. Kapal ini konon berukuran panjang 100 meter, memiliki tiga anjungan dan seratus pucuk alteleri.

Gambaran keampuhan kapal Indonesia juga tercatat dramatis dalam tulisan Dick-Read. Kisah ini dikutip dari catatan penulis sejarah Portugis, Gaspar Correia, yang menceritakan kunjungan pertama Gubernur Alfonso de Albuquerque ke Selat Malaka dan kisah pertempuran dua hari dua malam. Begini kisahnya:

“Karena junco itu memulai serangan, sang Gubernur mendekatinya bersama seluruh armadanya. Kapal-kapal Portugis mulai menembaki junco, tetapi tak ada pengaruhnya sama sekali, lalu junco berlayar pergi…. Kapal-kapal Portugis lalu menembaki tiang-tiang junco…dan layar-layarnya berjatuhan. Karena sangat tinggi, orang-orang kami tidak berani menaikinya, dan tembakan kami tidak merusaknya sedikit pun karena junco memiliki empat lapis papan. Meriam terbesar kami hanya mampu menembus tak lebih dari dua lapis…. Melihat hal ini, Sang Gubernur memerintahkan nau-nya untuk merapat ke samping junco. (Kapal Portugis) ini adalah Flor de la Mar, kapal Portugis yang tertinggi. Dan ketika berusaha menaiki junco, ternyata bagian belakang kapal hampir tak dapat mencapai jembatannya…. Awak junco juga berhasil mempertahankan diri dengan baik sehingga kapal Portugis terpaksa berlayar menjauhi kapal itu lagi. (Setelah pertempuran selama dua hari dua malam) sang Gubernur memutuskan untuk mematahkan dua buah dayung yang ada di luar kapal.”

Setelah itu, barulah junco itu kalah dan menyerah. Akan tetapi kutipan dari tangan pertama itu patut disimak kritis. Bukankah terkesan janggal, sejarawan Portugis yang terkesan juga turut naik kapal Flor de la Mar itu mengapa sama sekali tidak melaporkan adanya perlawanan balik dari junco yang digempur habis-habisan tersebut (?). Patut diduga kapal itu bukanlah jenis kapal perang. Sangat mungkin kapal itu adalah sekadar kapal dagang. Bisa dibayangkan betapa raksasanya sekiranya kapal itu adalah jenis kapal perang.

Menurut Lombard, sangat mungkin bahwa kapal-kapal raksasa itu diilhami oleh kapal China, juga barangkali hasil dari meniru armada Zheng He (Cheng Ho) pada awal abad ke-15. Lombard mendasarkan analisisnya ini pada Kidung Sunda dari abad ke-16, yang membicarakan keberadaan sebuah jung bertingkat sembilan yang dibuat berdasarkan model jung dari China, pada masa Raden Wijaya, Majapahit. Pada Kidung Sunda bangsa China disebut dengan istilah Tartar, karena itu Lombard menduga bahwa kapal itu tiruan yang dibuat setelah ekspedisi Cina-Mongolia yang gagal itu.

Barangkali dugaan Lombard benar, China memang adalah kekuatan terbesar di Timur sejak jauh hari masa silam. Hingga tahun 500 SM, China telah mengembangkan berbagai macam kapal. Pada akhir abad keenam, ketika peradaban Barat masih tenggelam dalam Abad Kegelapan, capaian teknologi kapal China sudah sangat tinggi. Ini dapat dilihat dari kontruksi kapal perangnya yang dibangun lima tingkat, dengan tinggi lebih dari 30-an meter, dan mampu membawa 800 tentara angkatan laut di luar jumlah awak kapal yang mengoperasikan kapal itu.

Ya, meski hipotesa Lombard itu benar, tapi penting dicatat di sini bahwa kapal-kapal raksasa itu bukanlah impor atau sekadar produk industri assembling. Ingat, kapal-kapal itu diproduksi secara nasional oleh produsen dalam negeri waktu itu alias made in Nusantara. Sejak zaman Majapahit, Lasem yang kini berada di Kabupaten Rembang itu, selain dikenal sebagai pusat industri kapal dan galangan terbesar di Asia Tenggara juga merupakan kota pelabuhan dengan bandar lautnya yang menonjol pesat.

Di Timur waktu itu, ya di Timur pada zaman dulu sebelum masuknya pengaruh budaya dan kolonialisme Barat, selain China sebagai kekuatan bahari Asia, konon keberadaan Nusantara juga patut diperhitungkan. Kini zaman modern bangsa China mulai tampil kembali sebagai kekuatan dunia. Tapi, bagi bangsa Indonesia, semua itu nampaknya tinggal kenangan. Ya, nenek-moyangku (memang) orang pelaut, tapi anak cucunya jelas bukan!

www.bolehmerokok.com

Bolehmerokok adalah ruang berisi cerita dan informasi ringan, tempat untuk bersantai tanpa harus curiga.