Keluarga Tembakau

Sepeninggal Nyai Trodiyo, Notominem dibantu suaminya Notosumar, 80 tahun, melanjutkan tradisi berdagang tembakau. Ia kemudian mengenalkan tembakau kepada Fatimah, anaknya.

KELUARGA TEMBAKAU
Bicara tembakau tidak melulu soal pabrik dan buruhnya, atau petani dan kebunnya, ataupun penikmatnya. Ini adalah cerita soal orang-orang yang berdagang tembakau turun temurun, dari orangtua ke anak hingga ke cucu. Mereka, pedagang kecil yang memegang nilai tinggi soal pentingnya tembakau dalam hidup, terancam kehilangan penerus tradisi itu.

Saat saya datang, Fatimah, 37 tahun, baru saja selesai menata dagangannya di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Berbagai macam jenis tembakau ia jajakan, mulai dari tembakau Boyolali, tembakau Ngiri Semarang, Trowono, Siluk, Kedu, tembakau Pakem, dan tembakau Arum Bandung, serta tembakau Mole. Semua itu diwadahi kantung plastik besar, diletakkan berjajar di depannya. Ia sendiri duduk di sisi agak ke belakang dan sedang asik mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan sehelai kertas. Tempatnya berdagang terletak di bagian belakang sisi utara pasar dan berdekatan dengan para penjual barang bekas peralatan elektronik. Para pedagang tembakau memang berada di bagian belakang di sisi utara dan selatan pasar. Kedua bagian kelompok pedagang tembakau itu dibelah oleh jalan masuk pintu belakang dari arah swalayan Progo. Jalan yang memisahkan kelompok pedagang tembakau itu juga digunakan sebagai area parkir sepeda motor pengunjung pasar.

Fatimah, 37 tahun, adalah cucu Mbah Trodiyo, pedagang tembakau di pasar Beringharjo, Yogyakarta.
Fatimah, 37 tahun, adalah cucu Mbah Trodiyo, pedagang tembakau di pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Sumber Foto: Eko Susanto)

Sejak lulus SMA pada 1990 Fatimah sudah berdagang tembakau di pasar tradisional ini. Iaadalah generasi ketiga dalam keluarganya. Ibunya, Notominem, kini berusia 80 tahun, sejak umur 7 tahun sudah dikenalkan dengan dunia tembakau oleh simbahnya, Nyai Trodiyo, dengan cara diajak berjualan tembakau di Pasar Bringharjo. Karena sering diajak berjualan, Notominem kemudian meneruskan usaha dagang tembakausaat Nyai Trodiyo menginjak usia tua. Nyai Trodiyo wafat 3 tahun lalu pada usia 127 tahun.

Sepeninggal Nyai Trodiyo, Notominem dibantu suaminya Notosumar, 80 tahun, melanjutkan tradisi berdagang tembakau. Ia kemudian mengenalkan tembakau kepada Fatimah, anaknya. Notosumar, ayah Fatimah adalah perokok berat. Sedang Notominem mempunyai kebiasaan nginang. Karena semakin lanjut usia kedua orantuanya, maka Fatimah meneruskan tradisi berdagang tembakau di Pasar Beringharjo, hingga saat ini.Ayahnya Notosumar wafat pada usia 85 tahun.

Tembakau yang dijual Fatimah saat ini adalah tembakau yang disuplai oleh pedagang besar dari luar kota. Ia tidak kulakan sebagaimana dulu simbah dan ibunya. Para pedagang besar dari Boyolali, Madura, Bandung, dan Kedu, hampir tiap minggu mengantarkan tembakau ke pasar. Pembeli dagangan Fatimah juga kebanyakan pedagang tembakau yang dijual di pasar-pasar kecil di pedesaan.

Mencari Penerus Usaha Keluarga

Kini sudah 25 tahun Fatimah menekuni dunia pertembakauan di Pasar Beringharjo sebagai generasi penerus keluarga pedagang tembakau. Ia tidak tahu apakah bila dirinya meninggal kelak anaknya akan meneruskan usaha yang sudah puluhan tahun dilakoni keluarga besarnya. Ia bercerita bahwa, hanya kakak perempuannya saja yang masih bergelut dengan tembakau karena menikah dengan seorang pengusaha pengolah tembakau.

Di sisi selatan pasar, bersebrangan dengan Fatimah, ada Tuwuh, 40 tahun, yang juga berdagang tembakau. Tuwuh juga risau karena tradisi berdagang tembakau yang diwariskan oleh simbah dan ibunya akan berhenti pada dirinya bila kelak ia meninggal dunia. Anak-anaknya tidak ada yang berminat meneruskan berdagang tembakau. Di sebelah barat Tuwuh berjualan ada Harni, 40 tahun, yang mewarisi berdagang tembakau dari ibunya Joyo, 70 tahun. Baik Fatimah, Tuwuh, maupun Harni, terus mencoba mengenalkan dunia tembakau kepada anak-anaknya.

Tuwuh, 40 tahun, pedagang tembakau di pasar Beringharjo tengah menimbang pesanan pembeli. (Sumber Foto: Eko Susanto)
Tuwuh, 40 tahun, pedagang tembakau di pasar Beringharjo tengah menimbang pesanan pembeli. (Sumber Foto: Eko Susanto)

Di Pasar Bantul, hal yang sama juga dialami oleh Mujinem, 73 tahun. Ia sudah 50 tahun berjualan tembakau di pasar itu. Ironisnya, anak-anaknya kini malah menganjurkan Mujinem untuk berhenti berjualan tembakau karena usia tua. Namun Mujinem bersikeras berjualan karena ia tidak bisa diam saja menikmati masa tua di rumah.

Wong nek wis males kuwi pikire cuphet,” katanya, suatu pagi saat saya mendatanginya di lapak dagangannya.Orang kalau sudah jadi pemalas pikirannya pendek, begitulah kira-kira maksudnya. Dan orang akan jadi pemalas kalau hanya berdiam diri saja.

Mbah Mujinem, sejak umur 23 tahun berjualan tembakau di pasar Bantul.
Mbah Mujinem, sejak umur 23 tahun berjualan tembakau di pasar Bantul. (Sumber Foto: Eko Susanto)

Mujinem enggan menjadi orang yang diam di rumah karena berakibat jadi pamalas. Seorang tua yang tidak ada aktivitas diusia tua akan mudah diserbu penyakit, lanjutnya. Itulah sebabnya ia bersikeras tetap berjualan. Pagi ia diantar anaknya ke pasar dan pulangnya dijemput, juga oleh anaknya. Tradisi berdagang tembakau juga akan putus bila kelak Mujinem telah tiada.

Di sebelah Mujinem berjualan ada Hj Aminah, 76 tahun, juga mengalami hal yang sama. Sejak 1954 Aminah telah berdagang tembakau di Pasar Bantul. Ia tekun menabung dari hasil berdagang tembakau hingga bisa menunaikan haji pada tahun 1997. Dilanjutkan dengan umroh pada tahun 2012. Namun, tradisi berdagang tembakau juga akan putus bila ia kelak telah tiada. Anak dan cucunya takada yang berminat melanjutkan usaha dagang tembakau.

Di Pasar Bantul hanya tersisa 6 orang pedagang tembakau dan hanya seorang yang usianya 40 tahun. Sisanya berusia di atas 70 tahun. Sedangkan di Pasar Beringharjo ada sekitar 8 pedagang tembakau yang kini telah dilanjutkan oleh generasi terakhir. Akankah tradisi keluarga tembakau di pasar-pasar Yogyakarta ini akan berhenti? Hanya pewaris tradisi keluarga tembakau itu saja yang mengetahuinya.

Eko Susanto

Fotografer profesional, tinggal di Yogyakarta dan bekerja di Klinik Buku EA.