Kramadangsa

Nama Ki Ageng Suryomentaram tidaklah sementereng nama sobatnya, Ki Hajar Dewantara. Seorang pangeran dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, putra Hamengkubuwono VII yang melakukan “bunuh diri” kelas, memilih hidup sebagai rakyat biasa. Meninggalkan kehidupan ke-pangeranan di Yogyakarta dan memilih bekerja serabutan sebagai pedagang batik pikulan, buruh tani dan kuli di Kroya. Sempat kembali ke keraton namun tidak mendapatkan ketenangan hidupnya. Setelah istri beliau meninggal dan diijinkan meninggalkan istana oleh HB VIII beliau menetap di Beringin, Salatiga. Meneruskan kehidupan sebagai petani biasa.

Pemikiran Ki Ageng Suryomentaraman seolah hilang ditelan jaman dengan semakin kuatnya hegemoni positivisme pendekatan psikologi empiris, yang menggunakan metode induktivis lengkap dengan eksperimen dan statistiknya. Sementara ilmu psikologi yang lebih mengandalkan pada intuisi, pada analisis kualitatif, pada pemahaman, jelas tersisih. Padahal jika kita simak, nampak ajarannya mempunyai relevansi mirip dengan pemikiran psikoanalisis yang dikembangkan Sigmund Freud.

Ki Ageng Suryomentaram merumuskan gagasannya tentang “manusia tanpa ciri” sebagai hakikat sejati dari kepribadian manusia. Ini dapat tercapai setelah seseorang dapat melampaui rasa “kramadangsa” dirinya sendiri dan mencapai pemahaman mengenai “aku bukan kramadangsa”.

Secara sederhana kramadangsa dapat diartikan sebagai selubung subyektivitas atau selubung ego, yang terbentuk sepanjang catatan dan sejarah hidupnya manusia sejak usia tiga tahun. Menurut Ki Ageng, disadari atau tidak, “mencatat” adalah salah satu kecenderungan mendasar dari kerja kesadaran manusia. Adapun yang dicatat bersumber dari pancaindra, keinginan dan kesadaran aku.

Lantas pertanyaannya ialah, bagaimana cara manusia sanggup mentransformasikan kesadaran diri menemukan dimensi manusia tanpa ciri? Di sini Ki Ageng mengajak kita menilik periksa pada lokus rasa kramadangsa, yaitu mengamati rasa pribadi sebagai si-Suta atau si-Naya atau si-Dadap dengan cara mengobservasi rasa-nya itu sendiri.

Pada awalnya kesadaran kita hanya mencatat apa saja yang kita tangkap melalui pengalaman inderawi. Sejalan bertambahnya usia jumlah catatan itu juga semakin banyak. Catatan-catatan itu berfungsi sebagai bank data yang akan muncul kembali ketika seseorang merespons situasi tertentu. Namun begitu catatan itu diambilalih oleh keinginan maka catatan-catatan itu tak lagi netral.

Catatan-catatan yang bersumber dari keinginan inilah rahim yang melahirkan rasa kramadangsa, yaitu rasa aku yang menyatukan diri dengan semua catatan-catatan itu. Ini kemudian melahirkan rasa pribadi atau rasa namanya sebagai si-Suta atau si-Naya atau si-Dadap. Rasa kramadangsa itu semakin berkembang setelah manusia menginjak usia dewasa, ketika dia sudah mampu memikirkan catatan-catatannya.

Secara umum kramadangsa lazimnya terobsesi mewujudkan tiga kebutuhan, yakni semat (jabatan), drajat (kehormatan) dan kramat (kekuasaan). Saat keinginan demikian kuat menguasai diri, kramadangsa juga tumbuh kuat menguasai kita. Akibatnya kesadaran salah mengidentifikasi, menganggap rasa kramadangsa ialah wujud diri sejati padahal bukan. Lebih jauh, rasa kramadangsa menghalangi kita melihat benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana apa adanya.

Apa yang dipaparkan Ki Ageng tentang “catatan” mengingatkan kita dengan konsep thoughts, yaitu buah pikiran berupa ide-ide, konsep-konsep, ingatan-ingatan, harapan-harapan, kecemasan-kecemasan, dsbnya, yang setiap saat hilir mudik melintasi kepala kita. Konon, dalam sehari ada sekitar 60.000 thoughts melintas tanpa jeda. Bahkan, kala tidur pun hal itu masih tetap berlangsung melalui mimpi. Sementara, mind atau pikiran adalah kristalisasi dari thoughts. Sedangkan ego yang disebut oleh Ki Ageng Suryomentaram sebagai kramadangsa adalah kristalisasi dari mind.

Lantas pertanyaannya ialah, bagaimana cara manusia sanggup mentransformasikan kesadaran diri menemukan dimensi manusia tanpa ciri? Di sini Ki Ageng mengajak kita menilik periksa pada lokus rasa kramadangsa, yaitu mengamati rasa pribadi sebagai si-Suta atau si-Naya atau si-Dadap dengan cara mengobservasi rasa-nya itu sendiri.

Kata kunci yang harus dipahami, bahwa makna istilah rasa bukan hanya digunakan merujuk pada fenomena senang, susah, marah, enak, pahit, manis, dan yang lain, melainkan juga sebuah istilah untuk menyebut piranti pada manusia yang bersifat intuitif yang berfungsi menyadari peristiwa atau mengetahui obyek. Ambil contoh, apabila muncul rasa “marah”, sebaiknya kita segera mengamati rasa itu untuk mengenali sebab musabab kemunculannya. Pada momen ini, muncul dua fenomena secara bersamaan: yakni rasa yang mengamati dan rasa yang diamati (marah). Seandainya observasi itu tuntas, maka rasa marah itu hilang secara alamiah dan berganti rasa netral atau biasa-biasa saja.

Secara intuitif dengan mengenali “rasa yang mengamati” itu, kita menyadari bahwa diri manusia sejatinya bukanlah “aku kramadangsa“, tetapi justru semacam “saksi” bagi rasa-rasa yang sedang dialami. Semakin kita terlatih menyadari esensi kramadangsa maka potensi kesadaran kita mengakses dimensi manusia tanpa ciri tentu semakin besar. Mengakses dimensi ini setali tiga uang menemukan potensi trasendensi yang inheren di dalam kesadaran setiap manusia.

Namun demikian dimensi kesadaran manusia tanpa ciri bukanlah sifat yang bisa melekat terus-menerus pada kesadaran seseorang, melainkan suatu kondisi yang harus diupayakan tiada henti. Satu peristiwa demi satu peristiwa. Satu masalah demi satu masalah. Setiap ada kesulitan, bila diteliti hingga tuntas, maka lahir kesadaran manusia tanpa ciri, yang kemudian tenggelam lagi, demikian seterusnya secara dinamis.

Seseorang yang selalu berhasil meloloskan diri dari jebakan rasa kramadangsa akan tumbuh menjadi “manusia tanpa ciri”. Ki Ageng menggambarkan manusia tanpa ciri sebagai sosok yang mampu menempatkan setiap persoalan pada tempatnya secara apa adanya melalui laku mawas diri. Mawas diri adalah sikap tidak merasa benar sendiri, melainkan selalu laku eling lan waspada. Ini mirip seni meditasi tiada henti untuk mencapai keselarasan pada setiap momen, baik itu dengan dirinya sendiri maupun lingkungannya.

Tujuannya sudah tentu mengenyam kebahagiaan hakiki. Sederhana ya? Tapi, bukankah sesungguhnya rahasia di balik semua keinginan dan harapan manusia, apapun bentuknya itu, ialah rasa kebahagian itu? Ya, naga-naganya sebagai manusia modern kita memang sering alpa pada pemahaman sederhana, bahwa sejatinya kebahagiaan itu bersemayam di dalam diri dan bukan pada peristiwa-peristiwa atau obyek-obyek di luar diri. Ya, kebahagian hakiki hadir bukan karena terpenuhinya rasa kramadangsa, melainkan justru karena kita mengenali diri sendiri.

mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.