Legenda Air Terjun Cunca Rami

Hanya ada satu rumah di dekat air terjun itu, ditinggali oleh seorang wanitu tua bernama Maria Minu. Wanita ini berasal dari Kampung Lamo, di bukit Mbeliling.

cunca-rami-top

Pada suatu hari, ada seorang gadis kampung yang sedang menjaga ladang di sekitar mata air di Gunung Mbeliling. Dia mencuci rambutnya dengan sabut kelapa di mata air itu. Ketika dia membuang ampas bekas kelapa itu ke mata air, muncullah seekor udang yang bentuknya bagus dan indah. Si gadis ingin mengambil udang itu, tapi dia terjatuh ke kolam. Seketika udang itu berubah menjadi seorang pemuda tampan yang menyambut tangan sang gadis supaya tidak tercebur ke kolam. Si pemuda jelmaan udang tadi mengucapkan terima kasih pada sang gadis, karena telah mengubah wujudnya.

Pemuda itu berkata, “Tinggallah di sini, ini rumah kita sekarang.”

Seharian tidak pulang ke rumah, orangtua si gadis sibuk mencarinya, dibantu oleh warga Kampung Lamo, tempat tinggal gadis itu. Semalaman mereka mencari namun tidak menemukan. Cari terus, dan terus. Sampai suatu hari, bapak si gadis bertemu dengan seorang pemuda yang ia tak dia kenal, tak pernah dia jumpai di kampung-kampung sekitar tempat tinggalnya.

Si pemuda bertanya, “Bapa cari siapa?”

Bapak : “Cari anak gadis saya.”

Pemuda : “Tidak usah Bapa cari lagi anak itu. Dia sudah tinggal di rumah saya.”

Si bapak kebingungan karena dia tidak melihat rumah di sekitar itu, hanya hutan dan kolam mata air tadi.

“Kalau bapa mau bertemu anak bapa, pejamkan mata sebentar, lalu buka lagi”, kata si pemuda itu.

Bapak itu mengikutinya, dan begitu dia membuka mata, kagetlah dia karena sudah berada di sebuah rumah mewah dan indah. Dan anak gadisnya ada di sana menyambut dia. Diajak anak gadis itu pulang, tapi si anak tidak mau.

“Bapa, ini rumah saya sekarang. Dia suami saya,” kata si anak sambil menunjuk pemuda tadi.

Bapak itu berkata ke si pemuda, kalau memang ingin mengambil anaknya maka mereka harus menikah. Dan secara adat, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebagai mas kawinnya. Si pemuda setuju, dan disepakati dalam 7 hari ke depan si pemuda akan membawa keluarganya, dan anak gadis istrinya itu, ke Kampung Lamo. Beserta juga akan dibawa kerbau, keping uang, dan sebagainya sebagai syarat mas kawin.

Sebelum kembali ke kampungnya, si bapak mengajukan satu syarat lagi, “Buatkan satu compang (tugu) untuk nanti mengikat kerbau-kerbau yang kamu bawa sebagai mas kawin. Compang itu harus kau bangun dalam satu malam, persis di depan kampung kami.”

Setelah mendapat jawaban kesediaan dari si pemuda itu, si bapak kembali ke kampungnya dan menceritakan semua itu ke warga kampung.

Meski sudah mengajukan syarat kawin untuk anaknya, si bapak tetap merasa tidak rela menikahkan anaknya dengan pemuda yang ia tidak tahu berasal dari mana. Warga kampung juga merasa demikian. Bersiasatlah mereka, supaya bagaimana caranya si anak gadis bisa kembali ke rumah dan pernikahan dibatalkan. Warga menyiapkan satu rumah dengan satu kamar khusus, yang nantinya akan disediakan untuk si gadis ketika tiba di kampung. Rencananya, kamar itu akan dikunci dan tidak akan bisa dibuka oleh siapapun, sehingga si gadis tidak akan bisa keluar lagi. Warga juga menyiapkan anjing-anjing terbaik untuk mengusir keluarga si pemuda tadi, juga untuk menghabisi kerbau-kerbau yang nanti dibawa.

Malam ke-6 setelah itu, warga kampung kaget karena berdiri sebuah tugu di depan kampung mereka. Itulah tugu yang menjadi salah satu syarat. Dibangun hanya dalam satu malam, tanpa diketahui oleh warga kampung. Tugu itu adalah bongkahan batu-batu besar yang ditumpuk, yang tidak akan mungkin dikerjakan oleh manusia biasa hanya dalam waktu singkat.

Melihat itu semua, warga semakin bersiap untuk menyambut kedatangan rombongan pemuda dan keluarganya, beserta anak gadis kampung itu.

Tibalah hari ke-7, hari yang dinantikan. Rombongan tiba, beserta ratusan ekor kerbau yang mereka bawa, melebih jumlah yang disyaratkan. Keluarga pemuda itu juga membawa ratusan keping uang. Mereka disambut oleh warga, dan digelar pesta. Malam harinya, si anak gadis dibawa ke kamar yang sudah disiapkan untuk beristirahat. Dikuncinya kamar itu. sementara satu per satu orang sudah tidur, begitu juga pemuda tadi dan keluarganya.

Tengah malam, warga melepas anjing-anjing untuk menyerbu keluarga si pemuda dan mengusir mereka. Namun ajaib, anjing-anjing yang menyerbu ke compang atau tugu tempat mengikat kerbau, hanya mendapati ratusan kerbau itu telah berubah menjadi babi hitam kecil. Ratusan keping uang berubah menjadi ranting-ranting kayu. Si pemuda dan keluarganya tidak ada di tempat istirahat mereka, menghilang. Dan ketika warga mengecek kamar si gadis, ternyata anak gadis itu sudah tidak ada.

Warga merasa menyesal namun sekaligus marah. Mereka berupaya mencari dan mengejar rombongan pemuda itu, hingga tiba di kolam mata air tempat awal mula semua ini terjadi. Bapak si gadis mencoba memejamkan mata, namun tidak terjadi apa-apa. Marahlah mereka semua. Namun seketika datang air bah dan menyapu semua orang kampung yang ada di sekitar mata air itu. Tewaslah mereka. Aliran mata air itu bermuara pada sebuah air terjun, yaitu air terjun Cunca Rami. Dan arwah warga kampung yang tersapu air bah diyakini sebagai arwah penunggu Cunca Rami.

21 April 2016. Seperti diceritakan oleh Om Piter, pemuda Desa Waelolos yang menjadi pemandu/pengantar tamu ke air terjun Cunca Rami.

Hanya ada satu rumah di dekat air terjun itu, ditinggali oleh seorang wanitu tua bernama Maria Minu. Wanita ini berasal dari Kampung Lamo, di bukit Mbeliling.

Air terjun Cunca Rami, Desa Golondaring, Manggarai Barat, Flores

Ronny Joni

Editor

Rocker, traveller, hobi membaca.