Marxisme dan Teologi Pemerdekaan

Tokoh utama yang secara eksplisit merumuskan dengan istilah “teologi pemerdekaan” ialah seorang Pastur dari Peru, Gustavo Gutierrez, memasuki awal tahun 1970-an. Tapi, jauh sebelum itu sikap Uskup Agung Helder Camara sebenarnya sudah sejak tahun 1950-an turut berperan penting menyemai iklim keberpihakan Gereja di seantero Amerika Latin pada kaum jelata.

marxisme-dan-teologi-pemerdekaan

Logika perdebatan tentang Marxisme di tengah masyarakat kita cenderung cupet. Spektrum pemikiran Marxisme yang sudah sangat berkembang luas seiring sejalan perkembangan sistem ekonomi kapitalisme dan proyek modernisme di sini dipangkas hanya pada pokok-soal isu pelarangan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme, Peristiwa G30S-1965 dan atheisme.

Sialnya lagi, bangunan tradisi kritisisme yang menampilkan potret sisi kelam ekonomi kapitalisme barangkali separuhnya atau bahkan lebih, muncul dan berakar dari rahim Marxisme. Bagaimanapun, bicara sejarah panjang proyek kritisisme sejak memasuki awal abad ke 20, Marxisme adalah tradisi pemikiran paling konsisten, dan sejauh ini berada di garda terdepan kritik atas sistem ekonomi kapitalisme. Tak heran, dari teori “imperialisme klasik” di awal abad 20 hingga fase kontemporer abad ini seperti teori “cultural studies” atau “imperialisme filantropis,” sebagian besar dirumuskan oleh perangkat analisis berbasis Marxisme. Konsekuensinya tradisi dan teori kritis dalam berbagai rupa kajian ilmu seperti ekonomi, politik, sejarah, sosiologi, antropologi, feminisme, sastra, dsbnya., di sini jadi cenderung terabaikan begitu saja.

Mudah diduga perangkat analisis berbasis kategori kelas di sini hukumnya tabu secara politik. Tak berlebihan sekiranya pihak-pihak yang kritis menyimpulkan, bahwa pelarangan pemikiran atau Teori Kiri juga berarti sinonim dengan pelarangan berpikir kritis dan tumbuhnya tradisi kritisisme itu sendiri. Pengalaman indoktrinasi selama tiga dasawarsa lebih kekuasaan Orde Baru jelas membuktikan hal itu.

Tulisan ini tidak bermaksud mendedah sejarah panjang terbangunnya epistemologi kritisisme dalam ilmu sosial dan humaniora — yang salah satunya berakar atau memiliki fondasi kuat pada Marxisme — tulisan ini sekadar ingin menunjukkan bahwa tradisi ini tak sekali dua telah bersiombiosis secara mutualis dengan tradisi keagamaan. Hal ini barangkali mengejutkan bagi sidang pembaca di Indonesia, tentunya bagi mereka yang a-historis.

Banyak kasus di negara-negara Amerika Latin misalnya, iklim intelektual Kiri dan sikap religius masyarakat bukan saja telah memunculkan sikap kritis mencermati proyek pembangunan, kemiskinan dan disparitas sosial yang semakin tajam pada sebuah negara atau antar-negara, tapi lebih dari itu juga melahirkan sebuah sikap teologi baru. Lazim disebut dengan nama “Teologi Pembebasan” (liberation theologis), atau saya lebih senang menyebutnya dengan meminjam istilah Romo Mangun, “Teologi Pemerdekaan.”

Menarik, bukan? Bagaimana mungkin, Marxisme yang lahir dari rahim filsafat materialisme-historis yang secara logis sering dikatakan banyak orang menawarkan paham atheisme, tapi kemudian justru bersinergi dengan konsepsi keagamaan yang mendasarkan diri pada filsafat idealisme? Apa yang sebenarnya jadi konseren ide-ide Marxisme? Apa titik temu antara keduanya? Apa juga yang membedakan teologi baru ini dengan teologi konvensional Barat pada umumnya? Yuk, mari kita simak alur logis dan catatan sejarahnya.

mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.