REVIEW

Menelusuri Sejarah Kolonialisme dalam Buku “Ekspedisi Cengkeh”

“Pulau Makian tercatat dalam sejarah perburuan rempah. Dengan luas daratan seluas 113,12 kilometer persegi, pulau ini menghasilkan cengkeh dengan kualitas terbaik bersama Ternate, Tidore, dan Moti.”

[dropcap]C[/dropcap]engkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak digunakan sebagai bahan pengawet, bumbu, dan salah satu bahan utama rokok kretek khas Indonesia.

Cengkeh pula yang dalam catatan sejarah telah “mengungang” bangsa-bangsa Eropa untuk menjajah negeri ini. Mengambilnya, dan memperdagangkannya di Eropa demi kemakmuran para raja dan ratu. Berikut ini beberapa penggalan sejarah cengkeh pada masa kolonial yang disadur dari buku berjudul “Ekspedisi Cengkeh”.

***

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negerinegeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.

Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan. pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609).

Belanda menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya, namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda

***

Benteng Duurstede, sebuah bangunan sejarah peninggalan kolonialisme hingga kini masih dapat kita kunjungi di di Pulau Saparua, 55 kilometer di timur Kota Ambon. Benteng yang awalnya dibangun oleh Portugis yang kemudian direbut oleh Belanda pada 1676 ini, ternyata bukan hanya sebuah bangunan yang mengingatkan kita pada perebutan bangsa-bangsa Eropa atas tanah Maluku, atau perlawanan Kapitan Patimura dalam perjuangannya mengusir kolonialisme.

Namun juga mengajak kita mengingatkan bahwa ada rempah-rempah berupa pala dan cengkeh yang menjadi komoditi penting kala itu. Hal itu ditunjukan dengan adanya sebuah bangunan berupa gudang di bagian utara benteng, yang dahulunya adalah tempat penyimpanan cengkeh dan pala, dua hasil bumi yang mengundang kedatangan bangsa-bangsa Eropa itu.

***

Di belahan lain, tepatnya di kampung Bukubualawa, Jailolo, Halmahera Barat – kampung tersebut dinamai Bukubualawa lantaran di bukit-bukitnya terdapat pohon cengkeh yang selamat dari pemusnahan besar-besaran oleh Belanda pada abad ke-16 dan 17 – juga memiliki kisah tersendiri dengan penjajahan Belanda.

Pada kisaran 1599, harga cengkeh di pasaran masih 35 real per bahar (550 pon), lalu naik menjadi 50 real pada 1610, dan terus melonjak sampai 70 real per pon cengkeh. Harga tersebut setara dengan 7 gram emas. Nilai komoditi yang begitu besar membuat Belanda menjadi agresif dan protektif terhadap wilayah tersebut, dan terhadap komoditi tersebut.

Strategi monopoli cengkeh menjadi pilihan Belanda pada saat itu, bukan hanya dalam hal perdagangan saja, tapi menyeluruh dari hulu sampai hilir. Kebun-kebun cengkeh dikuasai Belanda, bahkan tak sedikit kebun cengkeh dibakar.

Pemusatan produksi cengkeh juga disentralisir di pulau-pulau Ambon dan Lease. Armada laut diperkuat, patroli rutin dilakukan dengan kapal kora-kora, mereka berpatroli ke pulau-pulau menjaga komiditas utama ini dari “penyelendupan”. Begitu pula dengan pusar pusat perdagangan Nusantara kala itu, Makassar yang tak luput dalam penguasaan. Belanda menyerang Makassar, menguasai wilayah tersebut, serta memaksa panguasa lokal untuk menyerahkan seluruh hasil cengkeh hanya pada VOC. Imbalannya, Belanda memberikan perlindungan militer dari serangan pihak lain.

Strategi tersebut berasil berjalan sampai abad ke-18, hingga akhirnya seorang Prancis beranama Pierre Poivre dan juru tulisnya M. Provost berhasil mendarat di Pulau Gebe pada 1770. Memikat hati kepala suku setempat, dan memerintahkan warganya mendatangkan bibit cengkeh dan pala dari Patani, Halmahera, diselundupkan, kemudian ditanam dan berkembang biak dengan baik di koloni-koloni Prancis di Zanzibar, Madagaskar, dan Martinique.

***

Pulau Makian tercatat dalam sejarah perburuan rempah. Dengan luas daratan seluas 113,12 kilometer persegi, pulau ini menghasilkan cengkeh dengan kualitas terbaik bersama Ternate, Tidore, dan Moti. Pulau-pulau lain memang terdapat pohon cengkeh juga, tetapi dari empat pulau ini cengkeh pertama kali dihasilkan dahn kemudian dikenal dunia. Empat pulau ini tercatat sebagai penghasil terbesar cengkeh di seluruh jazirah al-Muluk (Negeri Para Raja), istilah yang diberikan oleh para saudagar Arab, dan konon menjadi kata awal penyebutan ‘Maluku’ sekarang.

Kisah kejayaan Pulau Makian berlangsung sebelum VOC Belanda memberlakukan pemusatan bubidaya cengkeh di Ambon dan Leasse pada abad ke-16 dan 17. Kebijakan itu menghindari penyelundupan yang dilakukan oleh para pedagang dari Makassar. Sejak saat itu, komoditas unggulan Makian pun berganti. Seluruh tanaman Cengkeh Raja yang sempat berjaya ditebang habis. Sebagai penggantinya, VOC menjadikan Makian dan pulau-pulau sekitarnya sebagai tempat budidaya tanaman kenari. Kisah Pulau Makian dengan Cengkeh Rajanya berakhir. Bahkan banyak anak keturunan mereka kini tak lagi mengetahui jenis cengkeh yang pernah berjaya itu.

Tinggalkan Balasan