Mengepul Cengkeh di Kabupaten Simeuleu, Aceh

“Cara paling mudah untuk melihat sebuah desa itu penghasil cengkeh yang baik atau tidak, lihat saja infrastruktur dan pembangunan serta kondisi desa tersebut. Jika baik, itu berarti penghasil cengkeh yang juga baik di Simeulue.”

Ali Hasymi mulai menjadi pengepul cengkeh sejak 1988, dengan membantu kakaknya yang sudah terlebih dahulu menjadi pemain cengkeh. Tugas awalnya mengangkat karung-karung cengkeh dan menimbang cengkeh yang hendak dibeli kakaknya. Kini ia telah menjadi pengepul cengkeh besar di Desa Sembilan, Kabupaten Simeuleu, Aceh. Tak hanya menjadi pengepul, ia juga memiliki kebun cengkeh dengan hasil cengkeh kering berkisar 2 – 3 ton tiap musim panen.

Sempat berhenti menjadi pemain cengkeh karena BPPC, ia kembali bermain cengkeh selepas tsunami, bertepatan dengan kembali diurusnya kebun-kebun cengkeh milik warga Desa Sembilan yang sebelumnya terbengkalai karena harga cengkeh anjlok.

Sejak kembali menyeriusi jual beli cengkeh, Ali mulai menjalin kontak dengan tauke-tauke besar di Sinabang untuk menjual cengkeh kepada mereka. Selain itu tujuannya membangun kontak dan hubungan baik dengan tauke-tauke di Sinabang agar bisa mendapatkan pinjaman modal dari mereka saat panen cengkeh. Peran kakaknya yang sudah lama menjadi pemain cengkeh dan memiliki hubungan baik dengan tauke-tauke di Sinabang membuat Ali mudah mengakses pinjaman modal dari mereka.

Biasanya Ali meminjam uang untuk modal membeli cengkeh petani secara bertahap. Seminggu sekali ia akan mengambil pinjaman, sekali pinjam antara Rp40 juta hingga Rp50 juta. Ini berlangsung sepanjang musim panen hingga dua bulan setelah musim panen. Seminggu sekali juga ia akan mengirimkan hasil cengkeh yang sudah ia beli ke Sinabang. Tak kurang 1 – 1,5 ton cengkeh dikirimkannya tiap minggu.

Ali hanya membeli cengkeh kering saja, ia tidak menerima cengkeh basah. Sebagai pemain ia harus pandai-pandai mengecek kekeringan cengkeh, jangan sampai cengkeh yang ia beli dari petani belum terlalu kering sehingga harus dijemur lagi saat tiba di Sinabang. Jika terjadi seperti itu, penyusutan usai penjemuran kembali di Sinabang menjadi tanggungan Ali.

Sejauh ini, sepengetahuannya, cengkeh yang ia kirim ke tauke di Sinabang dikirim ke Padang, Medan dan Surabaya. Pengiriman terbesar ke Padang karena harga di Padang sedikit lebih mahal dibanding Medan. Menurutnya saat ini ada 5 orang yang berprofesi sepertinya di Desa Sembilan. Selain di Desa Sembilan, mereka juga membeli cengkeh milik petani-petani dari desa tetangga.

Para pemain lebih banyak menunggu di rumah, menunggu para petani datang untuk menjual cengkeh mereka di rumah. Ali baru akan mengunjungi petani-petani ke rumah mereka untuk membeli cengkeh jika bos di Sinabang sedang butuh pasokan cengkeh kering dengan cepat.

Dari setiap kilogram cengkeh yang ia beli dari petani, ia mengambil keuntungan antara Rp1000 hingga Rp5000 rupiah. Menurut Ali, di Simeulue ada tiga desa penghasil cengkeh terbaik: Desa Sembilan di Simeulue Barat, Desa Kuala Jaya di Tanjung Dalam, dan Desa Air Pinang di Simeulue Timur.

Selain bunga, Ali juga membeli tangkai cengkeh yang dijual kepadanya. Dalam hal ini ia tidak terlalu serius, sekadar jika ada petani yang menawarkan saja. Tangkai cengkeh biasanya ia beli dengan harga antara Rp4500 hingga Rp5000, kemudian ia jual maksimal Rp5500.

Selain menjadi pemain cengkeh dan berkebun cengkeh, Ali Hasymi juga menanam Pala, Jeruk Purut, Kelapa dan sedikit pinang. Selain itu ia juga membuka toko kelontong di rumah. Sebagai pemain cengkeh ia tak pernah mendengar keberadaan asosiasi atau perkumpulan pemain cengkeh di Simeulue.

Menurutnya, cengkeh adalah sumber utama pemasukan banyak masyarakat di Simeulue hingga saat ini. Cara paling mudah untuk melihat sebuah desa itu penghasil cengkeh yang baik atau tidak, lihat saja infrastruktur dan pembangunan serta kondisi desa tersebut. Jika baik, itu berarti penghasil cengkeh yang juga baik di Simeulue.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)