Menghormati Petani, Gengsi Dong!

“Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.”

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan mading. Di papan ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: “Camping, Jambore ke-30 di Puncak.” Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, “Yang nggak punya mobil boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal,” kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, “Heh, kalo lu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!”

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, “Ok. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.”

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:

Bapak yang Terhormat,

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.

Sembah sujud, putramu,

Selamet

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya. Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, “Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa,” segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.

***

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga.

Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu.

Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos. Selain kelucuan-kelucuan yang terus-menerus muncul hampir di sepanjang film, bumbu asmara dan kisah cinta tentu saja ada. Rita (diperankan oleh Camelia Malik) adalah perempuan tercantik di kelas. Paijo, Sanwani dan Selamet bersaing untuk mendapatkannya. Dan, semuanya gagal.

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran, dan semiotika kritik sosial.

Salah satu film Warkop DKI favorit saya adalah ‘Gengsi Dong!’ Adegan yang saya cuplik di atas adalah adegan favorit saya di film Gengsi Dong. Kelucuan dan sindiran bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Belum lama ini, khalayak warganet dihebohkan oleh pernyataan anak presiden RI. Kata-kata ndeso yang ia keluarkan untuk menyindir pihak-pihak yang ia anggap salah menjadi sebab. Kejadian ini memicu kejadian turunan yang menambah pikuk suasana medsos.

Ndeso yang dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang ndeso terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan, tentu saja berasal dari kata ‘desa’. Ini aneh dan sangat mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya ndeso digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan desa menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.

Kembali ke Gengsi Dong. Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela.

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau.

Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang. Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)