Merokok Membakar Uang? Rp5 Triliun Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

“Gambaran tersebut hanya ingin menguraikan peran dana cukai yang dihasilkan dari setiap batang rokoknya, serta memberikan counter opinion pada pihak antirokok yang selama ini selalu melihat rokok sebagai sebuah produk yang negatif.”

Beberapa tahun lalu, PT TransJakarta bekerja sama dengan Komnas Pengendalian Tembakau meluncurkan iklan layanan masyarakat “Ngerokok Cuma Bakar Uang”. Iklan yang terpasang di bus itu bertujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang bahaya merokok.

“Kita wajib mengingatkan masyarakat bahwa merokok itu merugikan kesehatan dan kegiatan yang sia-sia. Dengan sering melihat dan membaca bahwa message ini akan efektif membaca dari pada bakar uang untuk merokok,” ujar Direktur Utama PT. TransJakarta, Budi Kaliwono, di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Selasa, 6 Juni 2017 (Sumber berita: https://news.detik.com/berita/d-3521390/kampanye-antirokok-pt-transj-pasang-iklan-ngerokok-cuma-bakar-uang).

Ada 21 bus transjakarta yang dipasangi tulisan “Ngerokok Cuma Bakar Uang”. Menurut Dr. Prijo Sidipratomo, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, “Iklan ini kami buat agar masyarakat dapat memilih kegiatan yang tidak sia-sia seperti merokok dan lebih pandai memilih prioritas dalam hidup.” Sekda DKI Saefulloh mengungkapkan bahwa Pemda DKI Jakarta mendukung kegiatan ini dengan menggratiskan pajak untuk kampanye ini.

Sebelumnya, sudah banyak kampanye anti rokok yang dilakukan oleh banyak pihak. Kita bisa menyusun catatan yang cukup panjang tentang kampanye anti rokok ini. Beragam cara dilakukan untuk menstigmakan bahwa merokok adalah aktvitas yang begitu membahayakan, begitu menyeramkan sehingga, dengan berbagai dalilnya, bahkan ada yang berani mengangkakan bahwa sebatang rokok yang diisap mengurangi waktu hidup seseorang selama 12 menit.

Lalu, apakah benar apa yang para anti rokok itu kampanyekan bahwasanya merokok itu aktivitas sia-sia yang hanya membakar uang semata? Betapa naifnya pemikiran yang meyakini semua ini. Berapa banyak petani tembakau, petani cengkeh, pengrajin keranjang tembakau, para sopir-sopir truk, para pekerja di pabrik-pabrik rokok yang begitu mengandalkan industri rokok sebagai poros utama roda perekonomian mereka?

Dari setiap batang yang diisap oleh para konsumen rokok, ada kehidupan dari jutaan orang yang terus berlanjut. Sehingga jika dibenturkan dengan propaganda “Rokok Cuma Bakar Uang”, maka propaganda tersebut menjadi kontradiktif dengan fakta yang ada. Mungkin juga sama dengan logika buat apa kita makan nasi setiap hari yang dalam jangka panjang kadar gulanya dapat menjadi salah satu penyebab diabetes. Lalu apakah kita akan mengatakan “Makan Nasi Cuma Bakar Uang?”

Hitung-hitungan cukai dan pajak yang masuk kas negara dari industri rokok sebesar 140 triliun. Lalu, ke mana negara mengalokasikan dana tersebut? Selain untuk infrastruktur, Rp17 trilyun dari Rp140 trilyun dana yang masuk ke negara dialokasikan untuk bidang kesehatan.

Selain itu, Rp2,78 trilyun dana dikembalikan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten lewat skema Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Di setiap wilayah yang menerima aliran dana DBHCHT, alokasi untuk bidang kesehatan mendapat porsi terbesar, antara 10 hingga 15 persen dari total dana DBHCHT.

Baru-baru ini, ramai berita yang mengabarkan bahwa BPJS Kesehatan merugi. Sejak 2014 defisit anggaran selalu dialami, dan pada tahun ini, BPJS Kesehatan mencapai defisit hingga Rp9 trilyun. Bukan angka yang sedikit. Untuk menutupi masalah tersebut, telah lama gagasan untuk menaikkan iuran BPJS Kesehtan menjadi wacana sebagai salah satu opsi agar BPJS Kesehatan tak lagi merugi. Namun skema ini tentu saja akan mendatangkan banyak suara tidak setuju dari banyak pihak.

Lalu, dari mana anggaran untuk menutup defisit dana BPJS itu jika tak menaikan iuran? Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan opsi lain, yaitu menyuntuk modal BPJS Kesehatan dari dana cukai rokok sebesar Rp5 triliun. Ditambah berbagai opsi lain untuk mengurangi defisit, seperti efisiensi, mendorong pemerintah daerah memilih peran lebih untuk memberikan perlindungan kesehatan, dll,.

Fakta baru ini, sekali lagi menunjukan bahwa merokok itu bukan sekadar aktivitas membakar uang? Terlali naif jika demikian cara berfikir kita, mengingat begitu banyak fakta yang ada tentang betapa uang yang didapatkan dari rokok ini berperan besar di banyak lini.

Gambaran tersebut tentu bukan dimaksudkan agar semua orang meyakini bahwa merokok itu banyak sekali manfaatnya dan sebaiknya semua orang merokok. Gambaran tersebut hanya ingin menguraikan peran dana cukai yang dihasilkan dari setiap batang rokoknya, serta memberikan counter opinion pada pihak antirokok yang selama ini selalu melihat rokok sebagai sebuah produk yang negatif.

Para antirokok yang getol mengampanyekan bahwa tiada yang bermanfaat dari rokok. Bahwa rokok itu destruktif, merusak, sumber penyakit, dll,. Dengan begitu signifikannya dana yang dialokasikan dari cukai rokok untuk kesehatan, patut ditunggu apakah kelompok antirokok juga akan melakukan penolakan terhadap skema Rp5 triliun untuk menanggulangi defisit BPJS Kesehatan.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)