Mustafa, Petani Cengkeh di Simeulue dan Bu Susi

“Ada cerita menarik kenapa harga cengkeh di Simeulue mampu terdongkrak naik dalam lima tahun terakhir. Pada saat harga cengkeh rendah di level Rp26 ribu per kilo, Susi Pudjiastuti, atau yang kita kenal dengan panggilan Bu Susi (sekarang menjabat Menteri Kelautan) pada saat itu memborong cengkeh di Simeulue dengan harga Rp100 ribu per kilo.”

Pada saat usia remaja, 15 tahun, Mustafa sudah mulai bekerja membantu orang tuanya dengan menjadi nelayan, melaut, memancing, menjaring ikan, dll,. Dua tahun kemudian ia mencoba peruntungan baru, dari seorang remaja yang berpandangan maritim, menjadi seorang remaja dengan pandangan agraria, memutuskan untuk bejalar menjadi seorang petani dengan belajar dari orang tuanya.

Tak sepenuhnya ditinggalkan memang profesinya sebagai seorang pelaut, namun lebih memfokuskan diri pada pertanian cengkeh. Pilihannya tersebut tak sepenuhnya salah, bahkan mungkin bisa dikatakan membuahkan hasil yang baik. Sebanyak 200 batang pohon cengkeh kini telah ia miliki, dan sekitar 70 batang di antaranya rutin di panen dan sudah berbunga. Pohon tertua miliknya ia tanam pada tahun 1982, setahun setelah ia mulai belajar bertani cengkeh.

Di musim panen tahun lalu, kebunnya menghasilkan 400 kilogram cengkeh kering, bersih, setelah dipotong biaya untuk upah panen. Ia dan para petani cengkeh pada umumnya di Dusun Blang Padang, Simeulue, Aceh, memanen sendiri pohon cengkeh dengan mempekerjakan para pemetik cengkeh dari sekitar dusun, selain pula mendatangkan para pemetik dari Blang Pidie dan Meulaboh.

Seperti halnya pada komoditi lain ketika panen raya tiba yang artinya rezeki tengah melimpah. Bukan saja hanya bagi para petani, tapi juga bagi mereka yang tak memiliki kebun, namun memiliki tenaga untuk dijual jasanya pada saat panen raya tiba. Para pemetik cengkeh akan mendapatkan bagi hasil 50:50 atas besaran cengkeh yang dipetik dari pemilik pohon cengkeh. Bahkan bisa memilih apakah akan mengambil bagiannya berupa cengkeh atau uang sejumlah besaran harga cengkeh jatahnya.

Pada umumnya, pemetik cengkeh yang berasal dari Simeulue akan memilih mendapatkan bagian cengkeh ketimbang uang. Namun sebaliknya abgi pemetik cengkeh dari luar Simeulue. Pilihan mendapatkan uang biasanya dikarenakan agar pemetik tidak kerepotan membawa hasil cengkehnya.

Mustafa menceritakan perihal dua jenis panen di Simeulue. Panen raya dan panen sale (kecil), yang berlansung bergantian hadir setiap setahun sekali. Baik panen raya ataupun panen sale, berlangsung antara bulan Januari dan Februari tiap musimnya. Untuk Januari dan Februari tahun ini, terjadi panen raya, untuk Januari dan Februari yang akan datang akan panen sale. Berdasarkan perkiraan Mustafa, hasil panen sale biasanya ¼ dari panen raya.

Ia menjual hasil panennya kepada pemugeh – anak buah tauke besar di Sinabang – yang datang langsung ke petani saat penan tiba. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, harga cengkeh di Simeulue maksimal hanya Rp26 ribu, namun dalam lima tahun terakhir harga cengkeh berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp110 ribu.

Ada cerita menarik kenapa harga cengkeh di Simeulue mampu terdongkrak naik dalam lima tahun terakhir. Pada saat harga cengkeh rendah di level Rp26 ribu per kilo, Susi Pudjiastuti, atau yang kita kenal dengan panggilan Bu Susi (sekarang menjabat Menteri Kelautan) pada saat itu memborong cengkeh di Simeulue dengan harga Rp100 ribu per kilo. Sejak saat itu pula harga cengkeh di Simeulue terdongkrak naik hingga saat ini.

Entah apa motivasi Bu Susi saat itu, namun apa yang dia lakukan sebagai pribadi – belum menjabat sebagai menteri – telah memberikan dampak yang sangat berarti bagi para petani cengkeh di sana. Penduduk Simeulue sendiri mengatakan bahwa Bu Susi juga memiliki satu pulau di sana yang biasa disebut sebagai pulau Bu Susi. Kabarnya pulau tersebut diperuntukan bagi perdagangan ikan yang mungkin saja juga membantu para nelayan di Simeulue.

Ironis memang, ketika secara personal orang seperti Bu Susi memiliki kontribusi yang cukup besar bagi para petani cengkeh, namun dari pemerintah dalam hal ini dinas pertanian atau perkebunan di Simeulue tak pernah memberikan penyuluhan terkait cengkeh. Paling tidak ini adalah kesaksian dari Mustafa.

Bantuan dari pemerintah atau dinas perkebunan, sejauh ini hanya sebatas bantuan perawatan pohon. Bantuan dari desa untuk perawatan pohon sebesar Rp5 ribu per pohon. Bantuan diberikan dalam bentuk uang. Namun bantuan ini tidak diberikan secara merata kepada seluruh pemilik cengkeh, dan yang mendapatkan bantuan hanya orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan pihak pemerintahan desa.

Pemasukan terbesar keluarga Mustafa memang dari cengkeh karena harga cengkeh cukup stabil dan jelas hasilnya. Ketika komoditi ini menjadi satu sandaran ekonomi yang paling penting bagi sebuah masyarakat, maka selayaknya peran pemerintah lebih besar dan fokus pada komoditi yang memang terbukti telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)