Nasehat K.H. Sya’roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin

“Yang terpilih adalah pilihan Tuhan, perlakukan masyarakat dengan seadil-adilnya, sejahterakan mereka, jangan pilih-pilih walaupun beda iman.”

Sebelum bulan Ramadhan, sekitar pertengahan bulan April 2017, hampir tiap dua jam dalam dua hari berturut-turut saya sering ditelepon nomor tak dikenal. Sudah menjadi kebiasaan saya jika ada telepon dari nomor tak dikenal tidak akan saya angkat. Semata berbekal pengalaman yang telah saya alami sebelumnya, telepon penipuan.

Misalnya ada yang mau memberi hadiah karena nomer saya telah menang undian berhadiah mobil yang ujungnya meminta menyetor uang muka dengan besaran tertentu (jutaan) sebagai biaya pengurusan administrasi, dan biaya pengiriman hadiah. Bahkan ada yang lebih ekstrim, minta uang tebusan katanya adik terjaring narkoba di salah satu kota besar, sedangkan saya tidak punya adik. Dari pengalaman itu, setiap ada telepon nomor tak dikenal tidak akan saya angkat, sebelum si penelpon memperkenalkan siapa dirinya melalui SMS.

Barulah ketahuan yang menelepon adalah kakak kelas sekolah di Kudus, melalui pesan singkatnya. Ia meminta tolong untuk dipertemukan dengan K.H. Sya’roni Ahmadi, salah satu tokoh ulama di Kudus. Ternyata ia adalah salah satu orang yang akan maju dalam pilkada di kota kretek, Kudus. Mengingat bukan kapasitas saya, dan kebetulan saya sedang di luar kota, akhirnya saya sarankan datang langsung, atau komunikasi dulu dengan pihak keluarga K.H. Sya’roni Ahmadi.

Walhasil pertemuanpun terjadi, namun ada beberapa syarat yang harus ditaati untuk pertemuan tersebut, yaitu; tidak boleh mengambil foto, pertemuannya hanya bersifat silaturrahim (tidak meminta dukungan suara), dan hanya akan menyampaikan nasihat.

Saat ini memang menjelang musim pemilihan kepala daerah (pilkada serentak 2019), semua orang yang ingin mencalonkan diri sudah memulai bergerak. Setelah masuk bulan suci Ramadhan akhir Mei 2017 sampai sekarang (bulan Syawal), selalu ada orang yang berkeinginan maju dalam pilkada, baik dari kota Kudus, atau dari daerah lain yang datang ke kediaman K.H. Sya’roni Ahmadi. Tentunya mereka bisa ketemu, asal menyetujui dan mentaati persyaratan di atas.

Ada beberapa nasihat K.H. Sya’roni Ahmadi saat bertemu dengan bakal calon dalam pilkada. Pertama, saling jalin kerukunan walaupun di rumahnya masing-masing (partai). Bangsa menjadi kuat kalau hidup rukun, jangan mau diadu domba, dan mengadu domba. Perselisihan pasti ada, jangan dibesar-besarkan, jalin silaturrahim (mempererat tali persaaudaraan).

Kedua, jika ingin berhasil sesuai yang dicita-citakan, berilah perhatian khusus bagi anak yatim-piatu, dan fakir-miskin, seperti yang telah dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Ketiga, yang terpilih adalah pilihan Tuhan, perlakukan masyarakat dengan seadil-adilnya, sejahterakan mereka, jangan pilih-pilih walaupun beda iman. Bangsa ini milik bersama, bukan hanya milik satu kelompok, partai atau agama. Semua tokoh agama dahulu berjuang untuk kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.

Dahulu zaman Belanda, KH. Sya’roni Ahmadi pernah ditahan selama berhari-hari dalam satu sel bersama orang-orang beda agama (kristen, Buda, Hindu, dll). Jadi kalau ada klaim bahwa yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia adalah kelompok atau agama tertentu, itu salah.

Keempat, jadi pemimpin itu harus alqowiyyu al amin (kuat dan dapat dipercaya), kuat jasmani, kuat rohani, jangan cepat emosi, sabar, cepat memecahkan persoalan masyarakat, kuat menjaga keutuhan NKRI, amanah, tidak melakukan penyelewengan aturan yang telah berlaku, tidak melakukan korupsi, dan tidak semena-mena terhadap rakyat.

Usai bertemu dan mendapatkan nasihat dari K.H. Sya’roni Ahmadi, ia memaksa dan mengajak saya ziarah ke makam Sedo Mukti R.M.P. Sosrokatono, tepatnya di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota. Di sana adalah komplek makam para Bupati wilayah Jawa Tengah terdahulu, seperti Bupati Demak, Bupati Pati, Bupati Jepara, dan masih banyak makam Bupati yang lain.

Selain makam Bupati, di komplek tersebut terdapat makam seorang yang tersohor yang diziarahi temen saya itu, ia adalah Drs. R.M.P. Sosrokartono. Kakak kandung R.A. Kartini itu konon menguasai 26 bahasa (9 bahasa asing timur, dan 17 bahasa asing barat). Ia adalah satu-satunya mahasiswa saat itu yang belajar di Belanda dengan mengambil jurusan bahasa, dan satra ketimuran.

Ia pernah menjadi wartawan pada surat kabar New York Herald, New York Herald Tribun, selama perang dunia pertama. Bahkan konon ia pandai mengobati orang yang sakit. Ia putra dari R.M. Adipati Ario Sosroningrat Bupati Jepara Pertama, lahir pada tahun 1877, dan meninggal tahun 1952.

Di makam Sosrokartono ia bertemu dengan juru kunci bernama Bapak Sunarto, ia menjelaskan bahwa salah satu ajaran Sosrokartono yang penting untuk diketahui bagi para pemimpin adalah Suwung Pamrih Tebih Ajrih (tidak ada pamrih, jauh dari rasa takut).

Seorang pemimpin jangan terlalu pamrih, agar tidak punya rasa takut untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta mensejahterakan rakyatnya. Seorang pemimpin tak boleh gentar menghadapi kesulitan-kesulitan yang mesti akan dihadapi kelak, dengan menjaga sikap konsisten. Seorang pemimpin yang tidak pamrih, jiwanya tidak kerdil, bukan pengkhianat, dan penjilat, bahkan pengecut. Seorang pemimpin harus mengorbankan jiwanya dengan ikhlas.

Menang tanpo mejahi, tanpo nyakiti (menang tanpa membunuh tanpa menyakiti), Wenang tan ngrusak ayu, tan ngrusak adil (berkuasa tanpa merusak kebahagiaan dan keadilan), Yen unggul, sujud bakti marang sesami (jika berkuasa, bersujud dan berbakti kepada sesama manusia)

Setiap orang akan merasa senang, jika menang. Semua daya, dan dana dikerahkan untuk mencapai kemenangan. Namun tidak perlu dengan jalan membuat orang lain menderita, sengsara bahkan dengan kekerasan. Karena kemenangan dengan cara keji, akan musnah dengan kekejiannya.

Orang yang berkuasa, jangan merusak tatanan yang sudah baik, buatlah aturan untuk menjaga, memperkuat dan melindungi tatanan yang sudah baik itu. Andai kata kepentingan pribadi terbentur dengan aturan itu, maka jangan sampai peraturannya yang dirusak. Akan tetapi tunduk dan patuh pada peraturan yang baik itu, supaya tetap menjadi orang yang berwibawa.

Jika menjadi penguasa, harus mendahulukan kepentingan orang banyak, memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan pada rakyatnya, memberikan kepuasan lahir dan batin pada masyarakat. Mengabdi dan berbakti pada rakyat, dan menjaga ketenteraman dan kedamaian.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).