Nyanyi Orang-orang Kampungan

Bram Makahekum saat membawakan salah satu nomor lagu dalam konser “Nyanyian Bangsa” Kelompok Kampungan di TIM (27-28 Oktober 2015). Foto: Andrey Gromico 

 

K

elompok Kampungan adalah nama kelompok musisi yang nyaris serupa mitos. Nama mereka terus terdengar, dituturkan antar generasi, tapi tak banyak yang pernah melihat mereka bermain, terutama generasi pasca 80-an. Musik dan lirik mereka banyak diperbincangkan. Apalagi dandanan yang nyeleneh, kerap memakai sarung yang diselempangkan begitu saja. Dandanan orang kampung, kata mereka.

“Kampungan lahir dari orang kota yang mengartikan kampungan sebagai ungkapan dari ketidaksiapan, lugu, bodoh, kurang ajar, disharmonis, dan masih banyak lagi,” tulis Bram Makahekum dalam web milik Sawung Jabo.

Bram pula lah yang masih setia mengibarkan panji Kelompok Kampungan. Menengok ke belakang, banyak musisi beken yang berkarya di kelompok itu. Dua yang paling akrab, setidaknya bagi saya, adalah Inisisri dan Areng Widodo, yang lantas lebih dikenal sebagai partner Ian Antono dan Achmad Albar dalam menggarap album Indonesian Art Rock.

Setelah dilarang tampil oleh Orde Baru, kelompok ini seperti hilang ditelan bumi. Nama mereka kembali menarik perhatian sewaktu album self titled dan Mencari Tuhan dirilis ulang versi piringan hitamnya oleh Strawberry Rain, label asal Kanada yang banyak merilis ulang album-album cult.

Strawberry Rain merilis terbatas album itu, hanya 500 dan 700 kopi. Di berbagai forum musik, piringan hitam Kelompok Kampungan dibanderol dengan harga mahal. Pernah satu keping dihargai hingga setengah juta. Strawberry Rain menyebut Kelompok Kampungan sebagai “…a progressive folk monster from Indonesia!”

Saya sendiri tak pernah benar-benar akrab dengan Kelompok Kampungan. Hanya mendengar lagunya sepintas lalu. Karena itu, sewaktu mendengar kabar bahwa mereka akan bermain di Taman Ismail Marzuki saya langsung antusias. Kebetulan pula ada seorang kawan yang memberikan tiket gratis. Klop!

Kelompok Kampungan akan berbagi panggung dengan Iwan Fals. Saya menduga akan banyak Orang Indonesia yang datang. Perkiraan saya benar. Saat saya datang, puluhan fans Iwan Fals sudah berkerumun di depan Graha Bhakti Budaya.

Pertunjukan ini patut dipuji dari segi ketepatan waktu. Jam 20.00, Bram dan personel lainnya sudah naik ke atas panggung. Tanpa banyak babibu, mereka langsung memainkan repertoar andalan yang sekaligus jadi nama album: “Mereka Mencari Tuhan”.

Ketika mendengar lagu ini dan melihat Bram mulai melantunkan lirik, saya jadi terbawa suasana. Membayangkan anak-anak muda yang berkumpul di pinggir pantai dan membuat api unggun.

Ada yang seperti SAWITO

Ada yang seperti HAMKA

Ada yang seperti HATTA

Ada yang seperti SUKARNO

Ada yang seperti RENDRA

Ada yang seperti BANG ALI

Ada yang seperti BUDHA

Ada yang seperti JESUS

Saya sempat mikir, kenapa tidak ada yang mirip Harto? Ah sudahlah.

Musik mereka sangat mengasyikkan. Beberapa orang mengatakan mereka adalah band Indonesia pertama yang memadukan musik pop dengan instrumen tradisional seperti kendang atau gong. Saya harus memeriksa lagi informasi itu. Tapi apapun itu, Kelompok Kampungan memang berhasil memadukan musik folk pop dengan alat musik tradisional, tanpa ada yang dianaktirikan. Sesekali, biola masuk ke pertengahan lagu dan mengambil alih pusat perhatian. Tak heran kalau Strawberry Rain menyebut mereka sebagai monster folk.

Di tengah penampilan, ada orasi budaya dari Radhar Panca Dahana. Ia duduk dan memberikan ceramah yang panjang, namun tajam dan menusuk. Beberapa kalimat malah terasa mengagitasi (dalam tone positif). Ia bahkan sempat menantang seorang penonton yang terus-terusan berisik.

“Berisik kok cuma di sana. Ke sini kalau berani!” tantangnya.

Ia memberikan pandangan yang menarik tentang generasi yang tumbuh besar di Orde Baru. Menurutnya, generasi itu tidak hanya tumbuh dengan ketakutan. Melainkan jadi generasi yang tumpul imajinasi. Sebab segala imajinasi atau pikiran yang nyeleneh tak bisa berkembang.

Dari kondisi itu, musisi seperti Kelompok Kampungan, INPRES, hingga Iwan Fals tumbuh dan membangkang. Lagu mereka banyak berkisah tentang kehidupan di sekitar, kehidupan orang-orang yang tertekan dan kalah.

Di lagu “Catatan Perjalanan”, misalkan. Bram, Joko Haryono, dan Dodo menuliskan kisah yang nyaris serupa dengan “Sarjana Muda” milik Iwan. Hanya saja, Kelompok Kampungan memilih jalan yang lebih tragis. Seorang anak SMA yang tak tahu apa-apa, ikut demonstrasi, dan berakhir dengan sebutir peluru yang merobek jidat.

Iwan Fals dan Bram Makahekum dalam "Nyanyian Bangsa" yang berlangsung 27-28 Oktober 2015
Iwan Fals dan Bram Makahekum dalam “Nyanyian Bangsa” yang berlangsung 27-28 Oktober 2015. Foto: Andrey Gromico

Iwan Fals muncul di sepertiga bagian akhir. Kehadirannya tentu disambut tepuk tangan meriah dan teriakan membahana. Iwan tampil sederhana seperti biasa. Celana jeans, kaos polo, dan sepatu olahraga. Tapi Iwan tetaplah Iwan. Hanya dengan gitar bolong, suara, dan kharismanya, ia bisa menyihir penonton.

Saya sudah lupa Iwan menyanyikan apa saja. Sialnya pula, saya tak sempat mencatat lagu-lagu yang dinyanyikan. Yang paling saya ingat adalah saat Kelompok Kampungan dan Iwan pura-pura mengundurkan diri dari panggung. Tentu itu strategi klasik untuk memancing antusiasme penonton.

Benar saja, Iwan muncul kembali dan menyanyikan “Bongkar”. Serempak, para penonton menyanyi bareng tanpa komando. Tak saya sadari, bulu kuduk mulai meremang. Sialan benar lagu ini. Saya pikir lagu ini akan kehilangan taji setelah dipakai untuk iklan kopi. Ternyata dugaan saya salah. Ketika dinyanyikan oleh Iwan, lagu ini masih tetap tajam dan menyengat. “Bongkar” kemudian disambung dengan lagu “Kalau” milik Kelompok Kampungan.

Dari sana, suasana menjadi sedikit canggung dan garing. Muncul seorang yang disebut dalang dan mulai mengobrol dengan para personel. Ada naskah di sana, itu jelas. Tapi masalahnya mereka tampak canggung dan beberapa personel bahkan lupa dialog. Penampilan itu jadi terasa lebih menyebalkan karena durasi yang panjang.

Kekurangan itu menggenapi beberapa kekurangan lain. Yang fatal tentu masalah tata suara sebelah kanan yang hidup segan mati tak mau. Beberapa orang penonton malah sempat teriak, “sound-nya juga kampungan!”

Iwan Fals juga tampil terlalu sebentar. Saya sedikit kasihan dengan Orang Indonesia yang rela membayar cukup mahal untuk menonton Iwan. Sang legenda hanya menyanyikan potongan “Bongkar” saja. Saat pertunjukan selesai, beberapa Orang Indonesia menggerutu. “Mengecewakan,” kata mereka. Seharusnya Kelompok Kampungan sedikit “peka” dengan membiarkan Iwan tampil menyanyikan barang dua tiga lagu. Atau paling tidak ya berkolaborasi.

Kelompok Kampungan seharusnya bisa lebih baik dalam mengemas pertunjukan ini. Penonton yang kebanyakan anak muda tak begitu mengenal mereka. Harusnya di sana mereka dikisahkan hikayat tentang Kelompok Kampungan. Sayang, kesempatan itu dilepaskan begitu saja. Padahal Bram pasti punya banyak kisah menarik. Seperti pelarangan tampil, kisahnya tampil di luar negeri, hingga dirilis ulangnya album mereka dalam bentuk piringan hitam oleh label asal Kanada.

Mungkin di pertunjukan yang lain, Om?

Nuran Wibisono

Penyuka musik bagus dan petualang rasa. Wartawan di Jakarta.