Rambut Gimbal Berkah bagi Dieng

Fenomena budaya yang menarik dari masyarakat sekitar dataran tinggi Dieng, hingga di lereng sebelah barat gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Anak-anak gimbal diyakini merupakan keturunan leluhur pendiri Dieng, Kyai Kolodete.

Gimbal bukanlah selalu sebuah ekspresi milik para fans berat musisi reggae dari Jamaika, Bob Marley, yang dengan berbagai cara mereka sengaja meniru dreadlocks styles sang superstar itu. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun Dendy Sugono dkk. (2008: hlm 489), gimbal berarti lebat dan tak teratur karena tidak disisir. Lazimnya dicirikan dengan kondisi rambut terpilin dan bergerombol sedemikian rupa serta berbentuk acak-acakan. Anak-anak berambut gimbal lumrah ditemui di tengah-tengah masyarakat Dieng. Ya, gimbal di sini sebuah fenomena “mistis,” untuk mudahnya sebut saja begitu.

Mistis, karena kemunculannya sama sekali tak berkorelasi dengan aspek genetik orang tuanya. Penggimbalan rambut secara alami bisa terjadi ketika anak berusia 40 hari sampai 6 tahun. Bapak dan ibunya jelas rambutnya lurus, namun tiba-tiba saja anaknya berubah sontak gimbal, sesudah mengalami demam dan sakit panas yang tak kunjung sembuh. Begitu sembuh dari sakitnya rambut anak itu perlahan-lahan segera berubah. Jarak antar rambut merapat, saling terpilin dan menggerombol serta acak-acakan seperti tak pernah disisir dan dikeramasi oleh orang tuanya berbulan-bulan. Ya, rambut anak itu menggimbal.

Fenomena budaya yang menarik dari masyarakat sekitar dataran tinggi Dieng, hingga di lereng sebelah barat gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Anak-anak gimbal diyakini merupakan keturunan leluhur pendiri Dieng, Kyai Kolodete. Sosok ini dipercaya sebagai tokoh spiritual dan penyebar agama Islam di negeri para dewa-dewi itu, yang datang bersama dua orang lainnya yaitu Kyai Walik dan Kyai Karim, sebagai utusan Sultan Agung, penguasa Mataram Islam.

Kyai Kolodete dikenal memiliki “ngelmu kasekten” dan berambut gimbal. Suatu ketika beliau bersumpah tak akan memotong rambutnya dan mandi sebelum desa yang dibukanya makmur. Seolah bermaksud mengukuhkan janjinya itu, Kyai Kolodete juga bersumpah bahwa kelak anak-anak turunnya akan memiliki ciri seperti dirinya: gimbal. Saat meninggal dunia diceritakan jasad Kyai Kolodete konon lenyap tak berbekas alias moksa. Roh Kyai Kolodete menitis atau menurun pada anak kecil sehingga menjadi gimbal. Karena itulah anak-anak gimbal dianggap sebagai titipan atau titisan Kyai Kolodete.

Ya, itulah narasi folklore seputar fenomena anak gimbal. Oleh masyarakat setempat dinamai anak bajang. Keberadaannya dipercaya jadi pertanda akan datangnya kemakmuran bagi desa. Sebagian warga meyakini, bahwa keberadaan anak gimbal dapat membuat hasil panen melimpah dan dagangan jadi laku keras. Tapi, tak seorangpun tahu, kapan dan siapa yang akan menerima “anugerah” gimbal itu. Sayangnya juga tak seorangpun tahu, sejak kapan fenomena anak gimbal tercatat pertamakali muncul, selain dikatakan ritual ruwatan rambut gimbal sudah berlangsung sejak nenek moyang dulu.

Anak yang berambut gimbal akan mengalami fase jadi anak “indigo,” meski gejala itu nantinya cenderung menghilang setelah ia diruwat. Bukan hanya memiliki imaginary friends yang bagi orang lain tentu tak kasat mata, secara psikologis anak gimbal juga memiliki keberanian melebihi kategori normal anak-anak seusianya. Mereka tidak jerih berada di kegelapan malam, tak jarang terkesan bandel, atau malah suka berkelahi, dan pada umumnya cenderung lebih memilih bermain sendirian ketimbang bersama teman-temannya.

Tingginya nyali anak-anak gimbal dibanding anak sepantarannya barangkali masih mudah dijelaskan secara rasional. Sementara yang susah dijelaskan secara rasional ialah, seandainya orang tuanya sengaja bermaksud menyisir atau bahkan memotong rambut anak itu agar gimbalnya hilang, maka bisa dipastikan anak itu kembali jatuh sakit. Bahkan setelah dipotong pun rambut gimbalnya akan tetap muncul lagi dan justru bertambah-tambah. Karena itu pada umumnya orang tua anak itu tidak berani melanggar pantangan-pantangan menyangkut mitos anak gimbal, seperti memotong rambut gimbal sebelum si-anak sendiri meminta rambunya dipotong.

Lazimnya anak-anak gimbal meminta rambutnya dipotong ketika memasuki usia tujuh tahun. Setelah meminta rambutnya dipotong, orang tua segera melakukan ritual ruwatan, setelah terlebih dahulu memberikan ‘hadiah’ sesuai permintaan anak itu yang dalam bahasa lokal disebut “bebana. Bebana itu harus dipenuhi, jika tidak, konon rambut gimbal di kepala anak itu akan muncul terus meski dicukur berkali-kali. Menariknya, setelah prosesi ruwatan kelar maka rambut anak-anak itu tumbuh normal kembali seperti semula.

Ruwatan barasal dari kata ruwat, artinya bebas, lepas. Kata mangruwat atau ngruwat memiliki arti membebaskan, melepaskan. Ritual ruwatan dilakukan agar individu yang diruwat terbebas atau terlepas dari malapetaka atau kesialannya. Ruwatan rambut gimbal biasanya dilakukan di Goa Semar, lokasinya terletak di komplek kawasan wisata Telaga Warna. Uba rampe sesajinya berupa tumpeng putih yang dihiasi buah-buahan, ingkung, jajanan pasar, 15 jenis minuman, mangkuk berisi air bunga setaman serta rokok kawung. Tak ketinggalan sesajen beras kuning, uang logam, payung dan guting serta barang permintaan (bebana) anak yang hendak diruwat.

Ritual ruwatan rambut gimbal mencerminkan gejala alkulturasi budaya dan sinkretisme keagamaan. Adanya konsep titipan atau titisan Kyai Kolodete secara eksplisit memperlihatkan pengaruh tradisi Hindu-Budha. Sedangkan mantra-mantra yang dideraskan pada ritus ruwatan menggunakan doa-doa yang dipungut dari tradisi Islam. Sementara, pernak-pernik uba rampe sesajennya mengingatkan kita pada ritual slametan kaum abangan.

Selain itu, dalam ruwatan tak terhindari muncul gejala paradoksal. Pada satu sisi anak gimbal dimaknai sebagai berkah, tapi pada sisi lain—barangkali tanpa sepenuhnya disadari oleh masyarakat pewarisnya sendiri—anak gimbal sekaligus dianggap tengah nandang sukerta sehingga harus dilakukan ruwatan atau “normalisasi.” Paradoks lainnya juga terlihat pada perpanduan sinkretisme keagamaan masyarakat Dieng.

Paradoks jelas tidaklah sama dengan kontradiksi. Dalam kontradiksi, jika yang satu benar, maka yang lain harus salah. Kontradiksi selalu hitam-putih dan tak pernah mengenal adanya wilayah abu-abu. Nalar paradoks justru menawarkan sebuah kelenturan cara pandang untuk memaknai dan menyiasati realitas serta piawai mengintegrasikan berbagai pertentangan.

Masyarakat Dieng dan sekitarnya tetap menyimpan baik khazanah budayanya. Anak-anak gimbal terus saja muncul dan secara sinambung melalui para pelanjut angkatannya, antar generasi, melintas zaman. Anak-anak gimbal muncul sebagai titisan Kyai Kolodete itu seakan tengah mengemban tugas bagi dunia, yaitu mengabarkan bahwa hidup bukanlah realitas yang bisa secara lugas dipilah-pilah dengan kacamata hitam-putih.

Sumber foto: klikhotel.com

www.bolehmerokok.com

Bolehmerokok adalah ruang berisi cerita dan informasi ringan, tempat untuk bersantai tanpa harus curiga.