Rangka Bahari

Sejalan surutnya kuasa Majapahit, kita juga menyaksikan merosotnya capaian metalurgi dan teknologi tosan aji, hal yang nampak dari perubahan kualitas artefak-artefaknya tak sebaik produk kurun itu. Berbagai artefak produk pasca Majapahit, baik itu yasan/tangguh era Demak, Pengging, Pajang hingga Mataram Sultan Agung, banyak diburu komunitas pengeris karena memiliki kualitas prima dan sering disebut dengan ungkapan “toyanipun tasih toya Majapahit”.

Tahun 1983 Ir. Haryono Arumbinang, Msc. dan Soedyartomo Soentono dari BATAN, pernah meneliti 8 bilah keris, 5 tombak dan 1 pedang. Dari 14 tosan aji yang diperkirakan diproduksi zaman Mataram awal yaitu kisaran abad 14 – 15, ternyata hanya satu bilah saja yang tak mengandung unsur titanium. Kandungan titanium diduga berasal dari bahan pamor. Batu meteor. Kemampuan mengolah uranium sebagai aplikasi seni metalurgi kuno ini tentu sangat mengagumkan, mengingat unsur titanium sebenarnya baru ditemukan dan teraplikasi pada dunia industri memasuki kisaran abad ke-20.

Keris Bayonet Model Bugis
Keris Bayonet Model Bugis

Yang menarik disimak, memasuki zaman Mataram-Islam terlebih pasca Giyanti (1755), naga-naganya keris mengalami pergeseran makna atau nilai. Bersamaan semakin kukuhnya kolonialisme Belanda menancapkan kuasanya, budaya nusantara khususnya adalah Jawa nampak semakin jelimet memperumit diri demi capaian estetis. Ini kasat mata dari perubahan atribut gelar raja Mataram-Islam seandainya dibandingkan atribut gelar raja pada era sebelum itu. Hayam Wuruk, misalnya, meskipun adalah raja pada masa puncak keemasan Majapahit, namun ia hanya menyandang atribut “Maharaja Sri Rajasanagara”. Sementara mengambil contoh gelar raja pasca Giyanti, merujuk raja Mataram-Yogyakarta atributnya ialah “Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping…”

Lebih dari itu, politik kebudayaan budaya Jawa semakin nampak memunggungi samudra. Sejarah mencatat, meskipun Sultan Agung memiliki gairah memperluas teritorialnya, bahkan ia berani dua kali menyerang Belanda ke Batavia, namun raja paling agung dinasti ini patut dipersalahkan karena kebijakannya menutup dua bandar besar, Tuban dan Surabaya. Sejarah juga mencatat pasca pemberontakan Trunajaya, galangan kapal di Rembang yang notabene pernah tercatat sebagai terbesar di Asia Tenggara justru diambil-alih VOC sebagai bentuk konsesi politik raja Amangkurat II terkait bantuan mereka memadamkan pemberontakan itu.

Model Keris Palembang
Keris Model Palembang

Sejak itu, bahkan hingga memasuki zaman modern, paradigma budaya memunggungi lautan praktis kental merasuki benak kesadaran bangsa. Budaya daratan berbeda signifikan dengan budaya lautan. Paradigma yang terbalik ini membuat kita menganggap bahwa perairan-perairan Indonesia sebagai pemisah antara pulau-pulau di Indonesia. Samudra bukanlah pemersatu.

Mudah diduga, mitos Ratu Kidul bukan mustahil sengaja dirumuskan menutupi ketidakberdayaan penguasa tanah Jawa yang telah kehilangan kuasa teritorial lautnya. Budaya daratan yang tumbuh di atas pundak masyarakat petani notabene lebih bergantung pada kemurahan hati alam daripada budaya lautan yang memprasyaratkan adanya kepiawaian dan gairah mengatasi alam, tentu membawa konsekuensi pada mengentalnya budaya nalar mistis secara relatif.

Dalam konteks ini, bukan mustahil pula keris kemudian bergeser pemaknaannya lebih sebagai benda magis-simbolik daripada artikulasi teknis-fungsional; lebih sekadar bermakna seni-estetis adiluhung daripada artikulasi pecapaian kekuatan material logam sebuah senjata buah kemajuan teknologi metalurgi yang seharusnya terus berkembang dinamis.

 

Keris Model Jawa (Solo dan Jogja)
Keris Model Jawa (Solo dan Jogja)

Tak aneh bagi orang awam, diskursus keris cenderung selalu dikaitkan dengan hal mistis, klenik, tuah, dan sejenisnya. Keberadaan keris, lebih jauh, secara common sense juga sering dikait-kaitkan dengan kekuasaan. Orang suka dengan obrolan tentang tosan aji Presiden Soekarno atau Soeharto, atau tanpa terkecuali Jendral Soedirman yang konon sering menggunakan tuah keris pusakanya sebagai pelindungnya ketika perang gerilya. Tak terkecuali Presiden Jokowi, yang sudah dicandra orang jauh-jauh hari akan menjadi Presiden juga tak terlepas dari wangsit kerisnya.

Apa yang sering dilupakan orang, bahwa pesan simbolik yang paling signifikan dari sebuah keris sebenarnya justru adalah ‘warangka’-nya. Dapat kita lihat, semua model warangka, baik itu berasal dari Jawa, Bali, Madura, Sumatera, Bugis-Sulawesi, Melayu, Nusantenggara, bahkan Malaysia atau Filiphina (sundang) yang konon dipengaruhi atmosfir budaya Majapahit, desainnya sangat jelas distilasi dari bentuk sebuah kapal.

Ya, warangka adalah jejak bangsa nusantara merupakan negara maritim, sebuah pesan simbolik yang dengan setia didedikasikan pada penemuan jatidiri bangsa sebagai archipelago state. Terkait strategi dan ide besar “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”, sebagai seorang penggemar keris, Pak Presiden Jokowi sudahkah anda membaca pesan itu?

mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.