Sabda Raja dan Simbol Semesta Budaya Jawa

Bicara budaya Jawa, salah satu sistem simbol menarik untuk diamati ialah gunungan. Ini mawujud dalam berbagai bentuk seni dan ritual. Orang Jawa mengenal ritus gunungan dalam Sekaten atau Grebek; tumpengan dalam bancakan atau slametan. Sementara sebagai ekspresi seni, jagat pewayangan mengenal gunungan; tanpa terkecuali juga muncul sebagai model sebuah tosan aji berupa tombak.

Dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, Denys Lombard mengatakan, masyarakat Jawa kuno sudah memuja gunung berapi jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha dari India. Orang Jawa menyembah gunung-gunung berapi tertentu sama seperti orang Bali memuja Gunung Agung dan penduduk Tengger memuja kawah Gunung Bromo.

Masih menurut catatan Lombard, Airlangga pernah melakukan ritual kepada Dewa Gunung, Indraparwata. Negarakertagama mengisahkan Mpu Prapanca memohon perlindungan pada Parwanatha (Penguasa Gunung), yang tiada lain Hayam Wuruk Raja Majapahit. Sementara Sutasoma juga mengisahkan Mpu Tantular pernah mempersembahkan lagu pujian gubahannya kepada Girinatha (Raja Gunung). Bahkan ketika biografi Sri Sultan HB IX terbit, buku berjudul Tahta Untuk Rakyat didesain dengan sampul foto HB IX dengan latarbelakang Merapi, sekali lagi—seturut tafsiran Lombard—hal itu menunjukkan signifikansinya keberadaan gunung dalam kosmologi Jawa.

Karena itu, simbol gunungan bisa jadi ditafsir sebagai “mandala”-nya orang Jawa. Kita tahu, dalam kosmologi India kuno mandala itu konon berpusat di Gunung Meru; suatu gunung yang diyakini pusat alam semesta, lokus suci sekaligus kediaman para makhluk suci. Apa yang menarik disimak di sini, Babad Tanah Jawa menceritakan dulu zaman antah berantah tokoh mitologis Semar—yang dianggap leluhur orang Jawa itu—telah memindahkan Gunung Meru di India ke tanah Jawa. Celakanya proses itu tak berjalan mulus, Gunung Meru yang besar tercecer jatuh kecil-kecil di sana-sini memanjang dari barat ke timur, menciptakan rangkaian gunung-gemunung api di Pulau Jawa.

Mitos ini mudah dipahami. Indonesia merupakan “cicin api” pertemuan dua jalur vulkano dunia yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania, di mana Pulau Jawa memiliki gunung api terbanyak. Akibatnya gunung api adalah hidup dan matinya masyarakat Jawa. Gunung api adalah sumber kehidupan dan kesejahteraan, namun juga bencana dan kematian. Tidak berlebihan sekiranya dikatakan, gunung api ialah mysterium tremendum et fascinans bagi orang Jawa, misteri yang menggetarkan namun sekaligus mempesona.

Demikianlah gunung api, halnya gunungan atau kayon bagi pewayangan jamak dianggap berfungsi menutup kelir sejarah lama dan membuka sejarah baru. Banyak kita temui folklore masa lalu menuturkan hiruk-pikuk transisi kekuasaan berkaitan meletusnya gunung api. Konon pusat Mataram-Hindu pindah ke Jawa Timur karena letusan katastropis Merapi. Lengsernya Tunggul Ametung di Tumapel dan naiknya Ken Arok serta berdirinya Singhasari, konon juga terlebih dulu ditandai letusan Kelud. Pergeseran kekuasaan dari Pajang ke Mataram juga dinarasikan terkait meletusnya Merapi.

Tak aneh terkait ontran-ontran Sabdaraja dan Dhawuhraja, kemudian banyak ditafsirkan secara post factum sebagai sudah ditandai oleh tiga peristiwa alam sebelumnya: gempa bumi Bantul (2006), meletusnya Merapi (2010) dan bonus hujan abu karena letusan Kelud (2014). Sejauh mana kebenarannya, tentu mustahil dibuktikan. Akan tetapi, Sabdaraja dan Dhawuhraja bisa dipastikan akan membawa perubahan besar bagi wajah kebudayaan Jawa dan kraton sebagai pemangku adatnya. Positif atau negatif, jawabannya “wait and see”.

Pada titik ini, andai saya ialah Sri Sultan Hamengku Bawono ingkang Kasepuluh, maka saya akan menyiapkan ritus tumpengan dan ruwat budaya dengan mendudukkan tombak gunungan menggantikan posisi dua keris yang hendak disempurnakan itu. Selain tombak adalah pusaka yang energinya bersifat feminim, lebih jauh signifikansi model (dapur) gunungan ialah simbol sekaligus matram (doa) penutup kelir lakon lama dan pembuka lakon baru, sejarah bumi Mataram.

Panji Prakoso

Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.