Senayan

Pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno pada bulan April 1962
————————————————————————————————————————————————–

J

ika Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia tak bertekad mendirikan sebuah stadion olahraga terbesar di Asia di akhir 50-an, wajah sejarah Indonesia kontemporer tentu akan berbeda rupa. Bayangkan sejarah Indonesia tanpa kampanye-kampanye besar partai politik. Ya, salah satu mimpi partai politik di Indonesia kini juga dulu adalah memenuhi stadion utama di kawasan Senayan itu, yang seakan menemukan puncak eksistensinya ketika massa pendukungnya mampu memenuhi stadion yang dirancang berkapasitas lebih dari 100.000 orang. Entah itu memobilisasi massa pendukungnya dari daerah-daerah atau mengunakan massa berbayar, agar partainya terlihat besar, megah dan superior.

PKI, Partai Komunis Indonesia adalah partai yang tercatat pertama kali memenuhi Stadion Utama Senayan pada ulang tahun ke 45, Mei 1965. Berhasil memenuhi stadion raksasa adalah sebuah simbol kebesaran dan kejayaan tersendiri, walaupun pada waktu itu di sana-sini banyak yang menyangsikan massa yang memenuhi stadion Senayan itu adalah benar-benar massa PKI. Sayangnya, tak berselang lama muncul tragedi Oktober 1965 yang membalikkan takdir sejarah.

Sejarah Gelora Bung Karno, termasuk komplek MPR/DPR yang dulu bernama komplek Conefo (Conference for New Emerging Forces) dalam beberapa hal tertentu juga mencerminkan wajah Indonesia saat ini. Diimpikan oleh Sukarno, dicanangkan oleh Sukarno, dirayakan sebagai kemenangan New Emerging Forces oleh Sukarno. Tetapi gedung Conefo juga menjadi tempat ditolaknya pertanggungjawaban Sukarno “Nawaksara” oleh MPRS 1966 dan diangkatnya Suharto selaku pejabat Presiden. Di tempat ini juga menjadi saksi pendudukan massa mahasiswa di tahun 1998 yang menjadi simbol berakhirnya lebih dari 30 tahun kekuasaan militerisme Orde Baru, Jenderal Soeharto.

Berdirinya Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah jawaban dari mandat terpilihnya Indonesia dalam sidang Asian Games Federation (AGF) yang berlangsung di Tokyo pada 28 Mei 1958. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dengan anggota Sri Paku Alam VIII, Maladi dan, dr A. Halim, berhasil memenangkan 22 dukungan suara negara-negara anggota AGF yang akhirnya memilih Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games ke IV dengan menyingkirkan Karachi (waktu itu masih ibukota Pakistan) dengan 20 suara. Atas dasar itulah Sukarno kemudian menerbitkan Keppres Nomor 239, membentuk Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) yang bertanggung jawab menyukseskan hajatan besar Asian Games IV dengan membangun segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kebelangsungannya.

Pada 8 Februari 1960 Presiden Sukarno mencanangkan tiang pancang pertama pembangunan gedung olahraga terbesar di Asia. Mengambil lokasi di kawasan kampung Betawi seluas 300 Ha, yang cukup padat penduduknya dengan tingkat kepadatan hingga 60.000 jiwa. Luasnya Kawasan Gelora Bung Karno berdiri di bekas 4 kampung yakni, kampung Senayan, Petunduan, Kebun Kelapa dan Bendungan Hilir. Dari keempat kampung itu, kampung Petunduan hilang jejaknya karena menjadi tempat berdirinya Stadion Gelora Bung Karno.

Dari mana Sukarno mendapatkan uang segar sebegitu banyak, selain membangun proyek kompleks Gelora Bung Karno juga membayar ganti rugi? Dana segar senilai 12,5 juta dolar bantuan Uni Sovyet yang membuat pembangunan Komplek Gelora Bung Karno menjadi mungkin. Dalam buku “Gelora Bung Karno de Gelora Bung Karno” diceritakan ihwal dana yang sangat besar bagi pembangunan stadion terbesar di Asia pada waktu itu.

Pasca tangan besi Joseph Stalin, Uni Soviet berada di bawah euforia baru kepemimpinan moderat Nikita Kruschev. Sebagai negara industri baru dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, Uni Soviet membuka “tirai besi” tinggalan kebijakan Stalin dengan gagasan baru koeksistensi damai. Dengan semangat baru itu Uni Sovyet bermaksud menapaki model Internasionalisme baru dengan membantu bangsa-bangsa baru yang memiliki visi dan misi sejalan dengan semangat internasionalisme baru, persaudaraan baru, terutama untuk melawan hadirnya kembali neo-imperialisme di negara-negara bekas jajahan.

Indonesia tak ragu mengambil kesempatan itu. Gayung bersambut, Indonesia dan Uni Soviet berhasil membentuk Komunike Bersama, yang ditandatangani Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrey Gromyko dan Menteri Luar Negeri Indonesia Roeslan Abdul Gani. Hasil dari komunike bersama itu adalah dana hutang luar negeri sebesar 12,5 juta dolar AS. Tak hanya itu, pada saat pencanangan tiang pancang ke seratus Nikita Kruschev berkunjung ke Indonesia, selain menandatangani komitmen kredit senilai 250 juta dolar AS juga memberikan bantuan 200 unit tempat tidur untuk rumah sakit di Indonesia. Tak lama sesudah itu giliran delegasi Indonesia di bawah pimpinan Jenderal AH Nasution berhasil mengikat komitmen kredit kerjasama militer Indonesia-Uni Soviet sebesar 450 juta dolar AS pada tahun 1960 (Michael Leifer, 1986).

Begitu besarnya nilai proyek yang digagas Sukarno di kawasan kompleks Gelora Bung Karno saat itu, mengingat teknologi konstruksi pada masa itu belum secanggih kini. Lebih mengherankan lagi Sukarno juga membangun stasiun televisi nasional yang kemudian dikenal sebagai Kantor Pusat Televisi Republik Indonesia, dan kawasan internasional lengkap dengan ruang publik dan gedung pertemuan yang mampu menampung 3000 atlit dunia.

Sukarno ternyata berhasil. Dalam waktu 2,5 tahun dan sesuai jadwal, pada minggu terakhir bulan Agustus 1962 Asian Games ke IV berlangsung dengan sangat meriah. Tercatat pembukaan even olahraga itu dirayakan dengan melepas 5000 ekor burung merpati sebagai lambang perdamaian. Pagelaran kolosal juga dilakukan oleh 1200 anak-anak dalam lenggang lenggok gerak dan tari. Sebanyak 1100 penari pendet beserta segala kelengkapannya juga khusus didatangkan dari Bali. Sungguh perhelatan akbar yang sangat meriah, seolah-olah menjadi pengukuh eksistensi jatidiri Indonesia selaku bangsa baru dalam kiprah politik internasional, setelah keberhasilan Sukarno menyemai politik gagasan Gerakan Non-Blok dan konsep New Emerging Forces sebagai upaya menjadi pengimbang polarisasi politik global antara Blok Barat Kapitalis dan Blok Timur Komunis.

Ya, komplek Gelora Bung Karno, termasuk di dalamnya adalah gedung DPR/MPR kini, telah menjadi saksi hitam putih sejarah perjalanan Indonesia lengkap dengan segala pahit dan getirnya.

Yul Amrozi

Peneliti sosial yang hobi orek tempe dan gemar naik kereta api.