Tentang Kawan yang Bukan Perokok, tapi Selalu Meminta Rokok

“Baginya, sebuah hubungan perkawanan terlalu indah untuk dihancurkan karena tendensi suka atau tidak suka dengan rokok. Kami yang merokok juga menghormati dia, tak memaksakan dia untuk menjadi perokok seperti kami.”

Seorang teman yang belum satu tahun saya kenal, kerap kali meminta rokok yang saya punya. “Bang, bagi satu yak,” begitu ujarnya sembari mengambil rokok di meja dan matanya menatap saya. “Ambil aja,” selalu begitu jawab saya.

Kadang kala dia panggil saya Bang atau Mas, tapi tak jarang dia panggil ‘Al’ penggalan awal nama saya. Dalam batin, terserah dia mau manggil saya apa. Dia memang teman baru, tapi sepertinya sudah saya anggap dia sebagai kawan, lebih dari sekadar teman. Namun entah mengapa, hanya rokok saya saja yang selalu dia minta, tak pernah sepertinya saya melihat dia meminta rokok teman yang lain.

Bukan karena saya pelit dimintai rokok, tidak sama sekali. Mengutip lirik lagu milik Nugie, “… Isaplah rokokku, sedalam-dalamnya.” Jangankan sebatang rokok, untuk seorang kawan, kamerad, jika saya punya satu pabrik rokok dan dia minta pasti akan saya berikan. Walau kadang kala ketika berkumpul ia juga tak meminta rokok sebatang pun.

Sebatang dia isap sembari ngobrol, bercanda, bernyanyi, berdiskusi, dll., lalu dia akan meminta lagi sebatang. Terus saja begitu berulang. Bukan juga karena dia pelit karena tak mau beli rokok dan hanya meminta rokok kawannya––ada orang yang begini––tapi memang dia sebenarnya bukanlah seorang perokok. Dia hanya merokok jika kami sedang berkumpul. Usai perkumpulan bubar, ia tak lagi merokok.

Orang sepertinya biasa disebut “social smoker”, entah apa padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Perokok sosial? Entah apapun itu padanan katanya yang pasti orang itu hanya akan merokok di lingkungan tertentu. Khususnya di lingkungan perokok. Tujuannya hanya sekadar untuk lebih membaur dengan orang-orang lain.

Kenapa dia tidak merokok dan kenapa dia lebih malah menjadi seorang social smoker adalah pilihannya. Seorang social smoker bisa dikatakan sebagai sosok yang toleran dengan lingkungan perokok. Mereka tak menghardik perilaku orang merokok, menasihati sampai berbusa perihal bahaya merokok apalagi kemudian menjauhi kawan-kawannya.

Baginya, sebuah hubungan perkawanan terlalu indah untuk dihancurkan karena tendensi suka atau tidak suka dengan rokok. Kami yang merokok juga menghormati dia, tak memaksakan dia untuk menjadi perokok seperti kami. Dia sudah dewasa, sudah mampu membuat satu pilihan dan keputusan akan menjadi seorang perokok, nonperokok, atau sebatas social smoker.

Lain lagi dengan kawan saya yang lain, masih dalam satu perkumpulan yang sama. Dia tak merokok, hanya kadang kala saja. Namun lagi-lagi, hanya rokok saya juga yang dia minta, tidak rokok kawan lain. Bukan untuk diisap, melainkan hanya untuk diendus-endus di depan hidungnya rokok itu.

Rokok saya mild menthol, sering kali saya berikan rokok saya yang lain, kretek tanpa filter. Saya biasa menyebutnya rokok merah. “Coba yang ini, lebih enak pasti kalau lu cium-cium gitu baunya,” ujar saya meyakinkan dia. “Anjing, enak banget rasanya, lebih enak yang ini aromanya,” ujarnya. Saya cuma tersenyum kecil saja, pasti lebih enak aromanya karena itu memang rokok kretek tanpa filter yang kandungan tembakau dan cengkehnya lebih mantab.

Ketika sebatang rokok itu sudah lusuh, dia akan kembalikan rokok itu di bungkusnya, lalu mengambil rokok yang lain untuk diciumi lagi. Ketika itu dia lakukan, saya tertawa kecil, dia pasti balas juga dengan tertawa kecil sembari mengangkat alisnya. “Terserah lu dah, suka-suka, gue ngisep rokok bekas endusan lu juga gak papa,” guman saya dalam hati atas perilaku kawan ini.

Entah untuk orang seperti kawan yang satu ini apa disebutnya. Social smoker tentu tak tepat karena dia tak mengisap rokok itu. Atau memang belum ada istilah bagi tabiat orang seperti ini, di mana tak hanya satu dua orang saja yang saya jumpai orang sepertinya. Sniff smoker?

Sama seperti kawan saya sebelumnya, dia juga memilih tetap berkumpul bersama kami alih-alih menhindari kami yang merokok. Mungkin karena tak merasa terganggu dengan aktivitas kami, mungkin pula memang dia lebih ingin meletakan rasa saling menghargai atas pilihan kita masing-masing terhadap rokok. Yakin juga bahwa hubungan perkawanan kami lebih berharga ketimbang aroma dan asap rokok yang kami hembuskan.

Begitu pula kami yang merokok, juga menghormati mereka berdua. Andaipun mereka berdua tak menyukai asap rokok, kami yang perokok akan menghormati sikap mereka dan memilih tak merokok di depan mereka. Tak pernah terutarakan dalam kata sikap dan rasa di antara kami ini, tapi kami tahu bahwa perkawanan itu lebih berharga ketimbang perdebatan dan permusuhkan hanya karena sebatang rokok.

Oh ya, kedua kawan saya itu bernama Jati dan Topan.

mm

Alfa Gumilang

REDAKTUR

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.