Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia

“Jika saya antirokok, tentu saya punya solusi yang brilian untuk perekonomian para petani yang sebelumnya menanam tembakau dan cengkeh. Solusi yang saya yakini akan sangat menguntungkan para petani dari segi ekonomi.”

Silakan buka mesin pencari google, kemudian ketik ‘bahaya merokok’. Dalam sepersekian detik akan bermunculan tautan berita dengan judul yang bombastis. Saya cuplikkan langsung beberapa judulnya di sini:

“12 Bahaya Merokok Bagi Kesehatan Tubuh”, “74 Bahaya Merokok Bagi Kesehatan Tubuh yang Mematikan”, “Segudang Bahaya Merokok Bagi Tubuh”, “Masih Merokok? Ini Bahaya Merokok Bagi Kesehatan Anda dan Keluarga”.

Kemudian ganti kata ‘bahaya merokok’ dengan ‘bahaya gula’, tautan berita dengan judul tak kalah mengerikan kemudian bermunculan. Anda bisa mencoba mengganti kata itu lagi dengan ‘bahaya garam’, ‘bahaya minyak goreng’, ‘bahaya minyak kelapa’, ‘bahaya nasi’, ‘bahaya daging kambing’, dan bermacam komoditas yang sehari-hari kita konsumsi setelah kata ‘bahaya’, maka judul-judul berita yang menyeramkan serentak bermunculan.

Saya hampir berkesimpulan hanya air putih saja yang aman dikonsumsi manusia, hingga akhirnya berita-berita yang menjabarkan bermacam bahaya mengonsumsi air putih bermunculan. Luar biasa bukan? Hidup dan kehidupan manusia sejatinya memang terdiri dari rangkaian bahaya yang terus mengintai eksistensi mereka.

Kemudian apa sesungguhnya yang harus dicermati dari semua bahaya-bahaya tersebut di atas? Ya benar, semua, semua bahkan sekadar air putih saja, jika dikonsumsi berlebihan, akan membahayakan bagi kesehatan tubuh. Selama dikonsumsi sewajarnya saja sesuai kebutuhan, semua itu aman bahkan baik bagi kesehatan. Termasuk rokok kretek sekalipun.

Loh iya, ini serius. Bukankah rokok kretek pertama kali ditemukan oleh Djamhari sebagai obat untuk penyakit bengek yang ia derita? Sayangnya, untuk perkara rokok ini, kebencian sudah begitu mendarah daging sehingga rokok dan para perokok begitu dibenci tanpa ampun.

Selain bahaya dari segi kesehatan yang begitu bejibun membentuk timbunan, dari segi kehalalan, rokok sudah difatwakan haram oleh PP Muhammadiyah. Untungnya PB NU dan Pengurus Persatuan Islam (PERSIS) tidak ikut-ikutan Muhammadiyah. Keduanya masih membolehkan konsumsi rokok dalam taraf sewajarnya.

Kemudian dari segi ekonomi, rokok juga digadang-gadang sebagai sumber kerugian negara. Para perokok dianggap menghambur-hamburkan uang dan menyedot biaya kesehatan negara cukup besar.

Ketika semua ini semakin disuarakan dengan keras, lalu bagaimana dengan solusi mereka – yang antirokok jika rokok dilarang di Indonesia – terhadap perekonomian para petani yang menggantungkan hasil pertanian mereka kepada industri rokok kretek di negeri ini? Sejauh ini, saya belum melihat solusi yang menjanjikan.

Penggantian tanaman di lahan-lahan yang sebelumnya ditanami tembakau dan cengkeh tidak semudah yang sering digembar-gemborkan. Tembakau memiliki kekhasan wilayah tanam sendiri, selain itu, tembakau memang ditanam di musim-musim tertentu saja, di musim lainnya, lahan ditanami dengan berbagai komoditas lainnya.

Solusi pengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya bukan barang baru. Sejak zaman Belanda praktik ini sudah dilakukan setidaknya di Temanggung. Tembakau saat itu diganti dengan kopi karena komoditas kopi sedang menjadi primadona di pasar dunia.

Jadi alasan pergantian tanaman waktu itu semata faktor ekonomi, bukan perkara kesehatan apalagi halal-haram. Proses pergantian tidak berjalan mulus. Gejolak terjadi di akar rumput, perlawanan dilakukan para petani hingga akhirnya petani merugi.

Itu baru dari satu sisi tanaman bahan baku, tembakau. Lalu bagaimana dengan solusi untuk petani bahan baku lainnya, bahan baku yang tak kalah pentingnya dalam industri rokok kretek, cengkeh. Lebih dari 95% hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek. Sebuah angka yang sangat signifikan, mendekati mutlak.

Dalam sekali musim panen, harga rata-rata cengkeh kering per kilogramnya mencapai Rp100 ribu. Dalam kasus-kasus tertentu, harga bisa melonjak hingga Rp150 ribu bahkan hingga Rp200 ribu per kilogramnya. Saat panen menurun misal. Melihat kondisi ini, komoditas mana yang bisa menggantikan cengkeh dari segi keuntungan yang diterima petani? Nyaris tidak ada.

Misalkan saja, lahan yang ditanami cengkeh dan tembakau diganti dengan komoditas lain seperti padi, tebu, sawit, kelapa, semua komoditas tersebut tidak lepas juga dari kampanye buruk seperti yang saya sebutkan di atas. Lalu mau apa lagi? Lagi pula, dari segi keuntungan ekonomi, cengkeh dan tembakau masih jauh lebih menguntungkan petani.

Jika saya antirokok, tentu saya punya solusi yang brilian untuk perekonomian para petani yang sebelumnya menanam tembakau dan cengkeh. Solusi yang saya yakini akan sangat menguntungkan para petani dari segi ekonomi.

Cengkeh dan tembakau yang sebelumnya memenuhi lahan-lahan pertanian mereka diganti dengan satu komoditas yang sangat menjanjikan: harganya mahal, menanamnya cukup mudah, dan sangat banyak dicari dipasaran karena manfaatnya yang begitu banyak. Komoditas ini, harga per ons dalam kondisi kering, di Jakarta saja sudah mencapai antara Rp600 ribu dan Rp800 ribu. Komoditas apakah yang dimaksud itu? Ya Anda benar, ganja.

Sayangnya saya tidak antirokok. Lagi pula, ganja yang begitu mudah tumbuh di Indonesia dan begitu banyak manfaatnya masih dianggap haram. Lebih dari itu, hukum positif di negeri ini masih menganggap ganja sebagai musuh nomor wahid, mengalahkan tindak korupsi dan pelaku kejahatan seksual sekali pun.

Jadi, selama tidak ada solusi ekonomi yang menjanjikan bagi para petani tembakau dan cengkeh, teruslah menanam tembakau dan cengkeh. Toh, rokok dan merokok adalah tindakan legal yang dilindungi undang-undang di negeri ini.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)