Tiga Penjelajah Cengkeh Nusantara

“Di kepulauan yang dahulu pernah menjadi wilayah perebutan bangsa-bangsa Eropa, seorang santri dari Kudus, Jawa Tengah berkesempatan melakukan napak tilas cengkeh di Maluku. Sebelum keberangkatannya Maluku, ia akan mengucap Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah).”

Abad ke-16 bangsa-bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis, dan Belanda kali pertama melakukan ekspedisi ke asia dan menemukan rempah – di antaranya adalah cengkeh – hingga akhirnya menguasai hulu sampai hilir perdagangan cengkeh. Dari rempah-rempah itulah bangsa Eropa berhasil menimbun kekayaan yang tak terbilang, bahkan hingga kini tak ada yang dapat menghitung berapa keuntungan yang didapat dari keberhasilan mereka menguasai rempah-rempah.

Setelah sekian abad berlalu, Komite Nasional Pelestarian Kretek berkesempatan untuk menulusuri komoditi cengkeh ini di Nusantara. KNPK mungkin bukan yang pertama, sebelumya pada 2013 Puthut EA dan kawan-kawan telah melakukan ekspedisi cengkeh di belahan timur Indonesia. Namun yang membedakan dengan penjelajahan yang dilakukan oleh KNPK adalah sebaran ekspedisi yang mencangkup ujung Barat ke Timur.

Serambi Mekah
Fawas al-Batawi, Si Anak Rimba ini berkesempatan untuk menjelajah tanaman endemik Nusantara ini di Aceh, tepatnya di Kabupaten Simeuleu, penghasil cengkeh terbesar di negeri Serambi Mekah. Sabtu, 5 Agustus 2017 ia mendarat di Bandara Kuala Namu, Medan pukul 13.00 WIB. Pesawat menuju Aceh datang terlambat, ia harus menunggu sampai 14.30 untuk terbang ke sana. Tak masalah baginya, mengingat “anak aneh” ini sangat menyukai jika pesawat delay.

Di Aceh dia telah ditunggu oleh Bang Ilan, warga setempat yang menjadi pemandunya dan memang paham betul dengan cengkeh di Simeuleu. Esok harinya ia baru memulai penjelajahan cengkeh tersebut. Tempat pertama yang dituju adalah Desa Air Pinang, 30 menit dari Kota Sinabang dan Desa Kuala Makmur, tetangga desa Air Pinang. Keduanya adalah desa penghasil cengkeh yang paling dekat dari Kota Sinabang, ibukota kabupaten Simeulue.

Di dua desa tersebut ia seorang diri tak bersama Bang Ilan karena menurut Bang Ilan perjalanan ke sana relatif mudah dan masyarakatnya juga sangat terbuka. Lusanya ia akan melanjutkan perjalanan ke Desa Sembilan, penghasil cengkeh kedua terbesar di Simeulue. Menempuh dua jam perjalanan dari Sinabang. Oleh karena menurut Bang Ilan jaraknya cukup jauh, ia akan mencarikan pendamping Fawaz, walau sekadar sebagai penunjuk jalan.

Hari Selasa, 8 Agustus 2017, ia akan coba mengunjungi pulau Tripa, penghasil cengkeh terbesar di Simeulue, dua jam menyeberang menggunakan perahu nelayan. Dan selang dua hari kemudian ia akan bergeser ke Aceh Barat Daya. Butuh waktu delapan jam menyeberang menggunakan kapal feri.

Di setiap tempat persinggahannya, ia akan melihat langsung perkebunan cengkeh, bertemu dengan para petani, bertanya tentang budidaya cengkeh, bertemu dengan lembaga adat perihal bagaimana kearifan lokal memberdayakan masyarakat dan tanaman tersebut. Tak hanya itu, instansi pemerintah terkait juga akan disambanginya, menannyakan perihal berbagai kebijakan dan program yang diperuntukan bagi petani dan komoditi cengkeh.

Tak percaya tentutnya selama lebih dari satu minggu hanya dia habiskan untuk bergumul dengan cengkeh dan petani cengkeh. Pasti ada waktu-waktu tertentu yang disempatkannya untuk menikmati alam Aceh, kopi Aceh, atau hal lain yang khas dari Aceh.

Celebes
Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Samaenre, Kabupaten Bone, diperkirakan para petani telah memulai panen cengkehnya, tapi mungkin baru bulan depan panen raya akan dilakukan. Zulvan Kurniawan yang juga adalah Ketua KNPK akan menjelajahi provinsi yang dahulu pernah menjadi pusat perdagangan cengkeh pada masa kolonialisme Belanda. Ia akan ditemani oleh seorang pemandu bernama Anto. Di desa Samaenre sekitar 80% penduduknya bekerja di kebun cengkeh, dan saat tidak musim cengkeh banyak yang jadi buruh migran ke Malaysia.

Para pemetik cengkehnya diupah berdasarkan perolehan hasil petik cengkeh, per liter dibayar Rp5000. Pemetik rata-rata menghasilkan 20 liter dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang. Di desa Samaenre ini jika ada papajek dari luar desa (kebanyakan dari Bulukumba) para pemetik tidak diajak untuk memetik. Pemetik di Samaenre hanya mau bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang saja, sedangkan para papajek memetik cengkeh bisa bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Para pemetik yang ikut papajek rata-rata mendapat imbalan 10 juta/3 bulan.

Papajek di Bone datang dari Bulukumba. Mereka mulai menaksir pohon cengkeh di Bone pada bulan Juni hingga Juli. Saat jelang musim panen seperti sekarang ini, papajek memperkirakan panen cengkeh akan berlangsung sampai bulan Januari 2018. Saat ini di Samaenre baru ada satu papajek yang mulai panen, dia membawa 10 orang tenaga petik. Tangga dan perlengkapan petik cengkeh disediakan oleh pemilik lahan. Untuk makan tenaga petik menjadi kewajiban papajek.

Dari 700 tegakan di lokasi tersebut ditaksir 250 juta rupiah. Menurut taksirannya setiap pohon tahun ini menghasilkan 20 kilo. Adapun harga cengkeh perkilo saat ini di Bone mencapai 100 ribu per kilo. Selain majek di Samaenre dia juga majek di Lerang, Kecamatan Cina. Proses petik di dua kecamatan yang berbeda akan dilakukan dengan cara bergilir, dua minggu petik di Samaenre, dua minggu kemudian petik di Lerang.

Petani yang mempunyai lahan paling luas di Samaenre merujuk pada satu nama, Haji Sapa. Saat kami datangi rumahnya Haji Sapa sedang tidak ada di rumah. Kami diterima oleh anak bungsu Haji Sapa. Anak Haji Sapa berusia 25 tahun, lulus kuliah dan langsung bekerja sebagai petani cengkeh. Sudah dua tahun ini dia mengelola sendiri kebun cengkeh yang diberi oleh bapaknya.

Haji Sapa ini adalah panggilan saja, nama aslinya Abdul Basyir, putra asli Bone. Namun Haji Sapa saat ini sudah tidak mau dibilang petani karena dia sudah jarang ke kebun. Kebunnya secara bertahap dia berikan kepada anaknya yang bungsu dan menantunya. Dia hanya mau disebut pengepul cengkeh. Konon kabarnya 90% petani cengkeh di Samaenre menjual cengkeh kepadanya, dan kemudian mengirim cengkehnya ke Makassar. Perminggu dia mengirim 12 ton cengkeh ke Makassar, selama 6 bulan.

Ambon Manise
Di kepulauan yang dahulu pernah menjadi wilayah perebutan bangsa-bangsa Eropa, seorang santri dari Kudus, Jawa Tengah berkesempatan melakukan napak tilas cengkeh di Maluku. Udin Badrudin namanya, seorang yang khusuk dalam menjalankan ibadah. Pasti sebelum keberangkatannya Maluku, ia akan mengucap Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah).

Kabar duka sepertinya akan dia berikan tatkala ia kembali dari negeri dengan pantai-pantai yang indah itu. Diperkirakan panen nanti yangg di mulai di bulan Oktober hingga Desember akan gagal karena cuaca (hujan yang terus dari bulat Maret).

Biasanya ketika panen, petani tidak langsung menjual seluruh hasil cengkeh, disimpan dan dijual sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan. Rata-rata penduduk di Kabupaten Haruku, memiliki pohon cengkeh walau hanya 15 sampai 20 pohon. Untuk kebutuhan yang memerlukan biasa besar, seperti untuk biaya sekolah, kuliah, membangun rumah, membeli kendaraan, masyarakat menggantungkan dari hasil panen cengkeh.

Selain tanaman cengkeh, masyarakat menanam pala, pete, durian, langsa, sayuran, sagu, umbi-umbian, pisang, dan juga mengambil ikan di laut (memancing dan menjaring) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada nilai dan aturan adat dalam hal ini adalah aturan kewang terkait langsung dengan cengkeh, seperti di saat buah cengkeh masih muda tidak boleh diganggu. Ilmu alam yang dipelajari dari nenek moyang mengajarkan waktu menanam cengkeh yang baik adalah saat air laut surut, atau saat bulan purnama. Pola menanam yang masih berlangsung hingga saat ini. Konon cengkeh memang hidup subur di satu dataran antara laut dan pegunungan.

Udin mungkin salah satu orang yang paling beruntung, berkesempatan menjelajahi Maluku, melihat langsung bagaimana budidaya dan tata niaga cengkeh di tempat endemiknya. Setelah dari pagi mencari berbagai informasi, sore hari ia dapat menikmati sunset, mungkin sembari membakar ikan dan memakannya bersama papeda.

Epilog
Oleh-oleh apa yang akan mereka berikan pada kita usai penjelajahan itu selesai? Tentu hal itu yang akan sangat kita tunggu. Bukan hanya cerita bagaimana perjalanan mereka, peristiwa-peristiwa menarik yang mereka temukan, atau gambaran sudut-sudut Nusantara yang tak semua orang berkesempatan menikmatinya. Namun tentu saja satu cerita dan catatan yang akan mereka tulis perihal cengkeh yang akan menjadi bahan baku pengetahuan baru bagi kita akan komoditi yang dahulu menjadi primadona bangsa-bangsa Eropa, dan kini menjadi salah satu bahan utama produk kebudayaan kita, kretek.

mm

Alfa Gumilang

REDAKTUR

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.