Tradisi dan Sejarah Rokok di Tanah Minang

“Di Tanah Minang, rokok merupakan bagian dari budaya petatah dan petitih, Ia juga menjadi simbol untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Hampir semua tradisi yang dijalankan di Minang, rokok menjadi bagian di dalamnya.”

Foto orang merokok. Sumber foto: flickr rokok indonesia

Agustus 2011, dari Kota Bangko di Provinsi Jambi, saya memasuki wilayah Sumatera Barat melalui jalur lintas tengah Sumatera dengan menumpang bus. Sejak saya menggemari buku bacaan sejarah mulai usia 14 tahun, tanah Minang saya masukkan dalam daftar tempat yang harus saya kunjungi sebelum saya mati.

Butuh waktu sekira sebelas tahun sebelum akhirnya saya bisa mewujudkan perjalanan ke Sumatera Barat. Bukit Tinggi, Sawah Lunto, Tanah Datar, Padang Panjang, Alahan Panjang, Lima Puluh Kota, adalah tempat-tempat yang menjadi daftar kunjungan ketika itu.

Karena berlatar bacaan sejarah yang rajin saya baca, tempat-tempat yang ingin saya kunjungi tersebut adalah tempat-tempat bersejarah bagi bangsa ini. Tanpa mengesampingkan peran dari putra-putri bangsa di penjuru negeri ini, tanah Minang memang banyak melahirkan putra-putri terbaik yang berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Di tanah Minang pulalah republik ini pernah mengungsi dan mendirikan pemerintahan darurat.

Selain nama Mohammad Hatta Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, masih ada Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, dan Haji Agus Salim yang namanya tak asing lagi dan dikenal sebagai tokoh-tokoh nasional. Mereka semua punya sejarahnya masing-masing dalam perjuangannya, dan memiliki ideologi tersendiri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Salah satu kejadian menarik yang membekas kuat dalam ingatan saya dari tokoh-tokoh bangsa asal Minang ini, adalah kiprah Haji Agus Salim. Diplomasi kretek yang ia lakukan saat kunjungan ke Inggris membuat orang-orang tercengang akan keberaniannya dan membuat suasana pertemuan yang dihadiri banyak tokoh internasional yang sebelumnya kaku menjadi cair.

Diplomasi kretek a la Haji Agus Salim ini bukan hadir begitu saja. Tentu saja ada sejarah panjang yang melatarbelakangi kejadian itu. Selain dikenal sebagai diplomat ulung, negarawan yang tegas, orator ulung, dan seorang poliglot, Haji Agus Salim juga dikenal sebagai sosok yang begitu merakyat dan mencintai tradisi dan budaya tempat ia berasal. Diplomasi kretek yang ia lakukan juga tak bisa dilepaskan dari tradisi dan budaya di tanah Minang.

Saya membuka ulang buku berjudul “Mereka Yang Melampaui Waktu” untuk melihat tradisi kretek di tanah Minang. Di dalamnya, saya menemukan narasi dari seorang budayawan bernama Djamaludin Umar. Djamaludin Umar mengutip cerita Randai yang menggunakan idiom rokok, sirih, dan pinang untuk mengungkapkan tradisi rokok di Minang.

Datuak baringin sonsang, baduo jo pandeka kilek, hisoklah rokok nan sebatang, supayo rundiangan naknyo dapek.” Artinya, ketika rokok sudah dibakar dan dihisap, maka perundingan atau musyawarah mufakat sudah bisa dimulai.

Di Tanah Minang, rokok merupakan bagian dari budaya petatah dan petitih, Ia juga menjadi simbol untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Hampir semua tradisi yang dijalankan di Minang, rokok menjadi bagian di dalamnya. Pada acara pernikahan, kelahiran anak, syukuran dan kematian, rokok melebur di dalamnya. Pada acara pemerintahan pun, rokok lumrah ditemukan. Bisa dibilang, rokok merupakan hal yang wajib ada saat ada acara.

Pada tradisi adat, meminta izin untuk menikah yang dilakukan oleh calon mempelai pria kepada paman-pamannya, saudara-saudaranya, dan orang-orang yang ia hormati, calon mempelai pria wajib menyertakan sebuah bungkusan yang berisi daun nipah dan tembakau. Saat ini daun nipah dan tembakau itu diganti dalam bentuk rokok. Ketika mengundang seseorang, rokok juga harus disertakan dalam undangan tersebut.

Mengutip berita dari republika.co.id pada 20 Mei 2014, Gubernur Sumatera Barat mengungkapkan, “Ada budaya mengundang orang dengan sirih dan rokok, pulang dibawakan rokok juga. Di masjid juga diedarkan asbak.” Di berita yang sama, Irawan menambahkan, “Merokok merupakan kebiasaan yang dilakukan masyarakat setempat untuk menghangatkan badan.”

Uraian tentang tradisi rokok di Tanah Minang di atas, tak pelak lagi menjadi legitimasi betapa budaya rokok telah mengakar di sana. Berdasarkan cerita dari teman-teman saya yang berasal dari Minang, saat pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah keagamaan baik itu di masjid, musala atau di tempat-tempat lainnya, para penceramah kerap menyampaikan nasihat-nasihatnya sembari menikmati sebatang rokok. Orang-orang yang hadir mendengarkan ceramah, juga mendengarkan sembari menikmati sebatang rokok.

Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, yang jelas ia sudah ada sejak lama. Tradisi-tradisi ini pulalah yang juga dipertahankan oleh Haji Agus Salim. Dan, karena tradisi ini pula Ia bisa menjalankan politik diplomasi kreteknya.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)