Tradisi Menyumbang Rokok Pada Acara Hajatan di Jepara

“Rokok bagi tradisi masyarakat Jepara bisa diartikan sebagai bentuk solidaritas saling membantu untuk meringankan beban orang yang punya hajat. Sumbangan dengan rokok sebagai wujud kebersamaan dan tanpa ada pembeda status sosial.”

Sampai saat ini, Jepara adalah salah satu kabupaten yang terkenal dengan sebutan kota seni ukir kayu. Seni ukir yang perkenalkan pada masyarakat Jepara sejak abad ke-16 oleh salah satu saudagar dari negara Tiongkok. Konon, keberadaan ukir di Jepara dibaw oleh Kiai Telingsing dari Tiongkok yang sudah menetap di Kota Kretek, Kudus. Awalnya mengukir pada batu, kemudian berkembang pada seni ukir kayu, hingga sekarang.

Dalam sejarahnya, di Jepara pernah berdiri kerajaan yang disebut Kalingga, sekitar pada tahun 618-906 M (abad 7-9) yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Ratu Shima. Sebuah kerajaan yang bercorak Hindu-Budha. Cerita versi lain, dalam perjalanan perkembangan kerajaan Kalingga, beralih bercorak Islam dengan disertai bukti bahwa kerajaan Kalingga dahulu menerapkan hukuman potong tangan bagi pencuri.

Selanjutnya, pada abad ke-16, tepatnya pada tanggal 1 Juni 1527, di Jepara berdiri kerajaan yang bernama Kalinyamat, juga di perintah oleh seorang perempuan bernama Ratu Kalinyamat. Kerajaan Kalinyamat ini bertahan hingga empat generasi, yaitu Ratu Kalinyamat (1527-1536), Sultan Hadlirin (1536-1546), Raja Kalinyamat (1546-1579), dan Pangeran Arya Jepara (1579-1599).

Sejarah tentang pemimpin perempuan di Jepara kemudian berlanjut pada abad-20 ketika R.A. Kartini muncul mendobrak kolonialisme dan feodalisme dengan gagasan emansipasi perempuan.

Di balik sejarah Jepara yang cukup banyak bercerita tentang perempuan, terdapat tradisi budaya yang berkembang sampai saat ini dan unik di kalangan kaum adam, baik yang muda, bapak-bapak bahkan kakek-kakek. Tradisi menyumbang dengan membawa rokok minimal satu slop (pres) saat menghadiri undangan hajatan tetangga, saudara, bahkan teman.

Tradisi itu masih dijalankan oleh warga Jepara, Muhadi (54) adalah salah satunya. Warga desa Kecapi Tahunan ini menyumbang dengan membawa rokok karena dianggap lebih praktis dan berguna bagi orang yang disumbang daripada menyumbang dengan uang. Menyumbang dengan uang haruslah banyak, menyumbang dengan membawa rokok hanya perlu satu pres. Rokok bisa untuk sajian bagi para tamu undangan yang datang, sajian bagi panitia hajatan bagi laki-laki, dan jika tersisa mudah dijual ke toko kelontong terdekat.

Bila ada tamu undangan datang dengan membawa bungkusan kantong plastik berwarna hitam, bisa dipastikan yang dibawa rokok satu pres dengan harga di bawah seratus ribu. Jika yang dibawa dibungkus kantong plastik warna putih, harga rokok tersebut di atas seratus ribu. Begitu biasanya orang memindai.

Setiap tamu yang menyumbang satu pres rokok, tuan rumah akan mencatat nama dan merek rokok yang dibawa sebagai catatan pribadi. Dikemudian hari, tuan rumah akan bergantian datang ke rumah yang menyumbang saat punya hajat, dan membawa persis seperti apa yang telah diberikan padanya. Selalu begitu berputar dan bergantian saling menyumbang dengan membawa rokok satu pres.

Hanya ada dua merek rokok yang populer yang seringkali sebagai sumbangan yaitu Sukun Putih dan Djarum. Keduanya rokok sigaret kretek tangan (SKT) yang diproduksi di Kudus.

Tradisi menyumbang dengan membawa rokok satu pres di Jepara ini sudah berjalan sejak lama dan sudah mendarah daging, sekalipun yang disumbang itu tidak merokok, kaya atau miskin. Usai hajat, biasanya para pedagang toko klontong saling incar dan berebut untuk membeli barang hasil sumbangan yang mayoritas adalah rokok.

Seperti yang dilakukan oleh Tri Nurmi, pedagang toko kelontong yang berdampingan dengan minimarket di Desa Kecapi Tahunan Jepara. Setiap ada orang terdekat, baik tetangga, saudara atau teman punya hajat, ia berharap hasil sumbangan dijual padanya, terutama rokok karena bisa dipastikan hasil sumbangan rokok lebih banyak dibanding dengan hasil sumbangan lainnya, seperti beras, gula pasir dan lainnya.

Menurutnya juga, orang yang menyumbang dengan uang jumlahnya sedikit. Biasanya yang menyumbang uang adalah saudara atau teman dari kota lain. Kalau masih di sekitar kota Jepara, kaum laki-laki lebih pede munyumbang dengan membawa rokok minimal satu pres, sesuai kekuatannya. Tidang jarang ada yang menyumbang lebih dari satu pres. Bawaannya tidak terlalu berat, gengsinya ada. Berbeda dengan membawa uang, akan lebih tidak terlihat jika jumlahnya hanya sedikit.

Dalam tradisi ini, rokok sebagai barang yang bergengsi dibanding dengan lainnya. Rokok dinilai sangat berguna dan bermanfaat bagi yang disumbang. Rokok merupakan alternatif yang efektif dan efesien untuk barang bawaan saat menghadiri undangan. Rokok bagi tradisi masyarakat Jepara bisa diartikan sebagai bentuk solidaritas saling membantu untuk meringankan beban orang yang punya hajat. Sumbangan dengan rokok sebagai wujud kebersamaan dan tanpa ada pembeda status sosial.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).