Wisata Alternatif Bali Utara

Berlibur untuk mendapatkan kesenangan pribadi, itu lumrah. Kalau berlibur sambil bekerja sosial untuk masyarakat, itu baru hebat. Hal ini bisa dilakukan di Bali. Jangan dulu membayangkan berhura-hura di kawasan Legian, atau bersantai asik di Pantai Kuta, karena lokasi liburan ini ada di utara Pulau Dewata , tepatnya di Desa Les, Tejakula.

Desa Les, di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, terasa sangat jauh dari kegaduhan kawasan wisata utama Bali. Kamu akan butuh sekitar 4 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, menuju Singaraja, lalu tiba di desa nelayan yang terletak di pesisir pantai utara Bali ini.

Desa ini digarap oleh beberapa orang pecinta lingkungan, terutama ekosistem laut, untuk memberikan edukasi bagi masyarakat lokal tentang pelestarian karang dan ikan hias. Salah satu hasil budi daya laut di Desa Les adalah ikan hias. Juga garam yang diproduksi secara tradisional. Kerja edukasi itu terus didorong hingga akhirnya dibangun konsep pariwisata alternatif, yang mengajak pengunjung liburan sambil bekerja sosial.

Ketika kami berkunjung ke Desa Les pada pekan lalu, ada 3 bule yang sedang berlibur di sana. Salah satunya adalah Valerie Studer, asal Swis, yang jauh-jauh datang untuk mencari liburan alternatif.

“Saya mendapat ajakan ini dari agen travel di Swis yang membangun kerjasama dengan tempat ini”, ujar gadis berusia 20 tahun itu yang datang sendiri ke Bali.

Valerie menyempatkan waktunya selama 2 minggu, hanya di Desa Les. Ia memberi pelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak seusia SD, remaja, bahkan hingga orang tua. Senin hingga Jumat, ada 3 kelas yang ia berikan.

“Saya senang karena masyarakat antusias mengikuti pelajaran bahasa Inggris ini’, lanjut Valerie.

Sebagai timbali baliknya, Valerie mempelajari tarian tradisional Bali yang dipandu oleh beberapa gadis lokal.

“Saya sulit mengikuti gerakan tari Bali ini”, seloroh Valerie sambil tertawa.

Sea Community Segara Lestari adalah manajemen pengelola wisata Desa Les, yang telah bekerjasama dengan sejumlah agen perjalanan di luar negeri.

“Kami menawarkan pengunjung untuk berkontribusi pada tiga hal utama, yaitu pelestarian karang, edukasi tentang ekosistem laut, dan pengajaran bahasa asing untuk masyarakat lokal”, ujar Garry, pria sal Filipina yang dipercaya mengurus tempat ini.

Meski pengelolaan secara profesional baru dilakukan pada 3 tahun lalu, namun Desa Les sudah mendapat kunjungan rutin dari tamu asing dan lokal. Tidak hanya individu, juga tamu rombongan, hingga mahasiswa.

Tentunya pengunjung ke Desa Les tidak akan mendapat hingar bingar suasana wisata seperti yang berserak di kawasan selatan Bali. Di Desa Les yang ada adalah ketenangan, deburan ombak pantai persis di depan pondokan penginapan, dengan sunrise dan sunset di depan mata. Untuk makan, disediakan hidangan tradisional dengan suasana kekeluargaan, di satu ruang besar, makan bersama. Pengunjung bisa meminta sendiri menu apa yang ingin dimakan. Ikan segar dari laut kapanpun bisa didapat. Kalau perlu menu rumah masakan ibumu, kamu berikan ke Ibu Made sang juru masak, lalu akan dibuatkan untuk kamu.

“Ini memang tempat wisata yang jauh di luar konsep umum. Saya sendiri tidak begitu suka dengan keramaian kota, karena itu saya jauh-jauh datang ke sini”, tutur Valerie yang terus mengumbar senyum.

Jadi, kalau kamu mencari tempat liburan yang lain daripada yang lain, masukkan saja Desa Les, Buleleng, Bali Utara sebagai salah satu pilihan.

Ronny Joni

Editor

Rocker, traveller, hobi membaca.