REVIEW

Cinderella, Kisah Klasik Peruntungan Walt Disney

Dalam film Cinderella ini penonton betul-betul dibawa dalam nuansa negeri dongeng yang merujuk pada komik atau gambaran imajinatif sesuai kehendak penonton.

Salah satu adegan dalam film Cinderella karya Kenneth Branagh (2015)

[dropcap]C[/dropcap]erita klasik melankolis kehidupan kembali merebut perhatian penikmat film produksi Hollywood. Kali ini Walt Disney hadir dengan Cinderella. Plot cerita yang sangat biasa dengan penyajian sangat istimewa. Kenneth Charles Branagh, sang sutradar, berhasil menyajikan imajinasi negeri dongeng dalam balutan nuansa vintage secara sempurna. Satu tolak ukur, film ini sudah menghasilkan 130,2 juta dolar di seluruh dunia. Di Amerika sendiri Cinderella memperoleh 67,9 juta dolar. Jauh di atas film lainnya yang dirilis dalam waktu bersamaan, yaitu Run All Night, Focus, Chappie dan Fifty Shades of Grey. Dari perolehan pendapatan di bioskop jelas film ini digandrungi penontonnya. Kadang sesuatu yang sudah sangat biasa dalam ingatan publik mempunyai nilai jual lebih tinggi dibanding sesuatu yang baru. Momentum Cinderella juga sangat tepat sebagai jeda antara hingar bingar kemeriahan karpet merah Piala Oscar, kehobohan Boyhood, Grand Budapest Hotel atau Birdman sebelum datang kehebohan lain. Pada 1 April nanti Fast and Furious, film dengan genre action adu cepat mobil yang memasuki sekuel ke tujuh akan menjadi harapan kehebohan baru bagi penikmat produk Hollywood.

Kembali ke kisah klasik Cinderella yang kali ini diperankan oleh Lilly James. Meskipun sudah berusia 25 tahun, Lilly James berhasil memerankan Cinderella dengan karakter remaja usia belasan, yang kemudian secara alamiah alur ceritanya mengalir dan Lily James berhasil memerankan Ella dalam adegan pesta dansa sebagai gadis yang berada pada tingkat kematangan yang sudah siap dinikahi oleh Sang Pangeran. Keberhasilan itu tentu didukung oleh pemakaian busana yang pas dengan suasana yang dibangun berdasarkan plot pada penggarapan film kisah klasik ini. Selain Lily James yang berperan sebagai Ella, dalam kisah Cinderella tentu harus ada ibu tiri dan dua saudara tiri perempuan. Permainan mimik dan karakter Cate Blanchette dengan didukung tata rias yang pas berhasil membuat penonton merasakan kekejaman ibu tiri tanpa adegan kekerasan secara fisik. Dari dua karakter penentu kisah ini Lucy Bevan sebagai casting director dan Sandy Powell penata busana peraih tiga kali Piala Oscar perlu mendapatkan apresiasi tersendiri dalam memilih pemeran dan busana yang pas dengan kebutuhan karakter dalam film ini.

Film yang mengangkat cerita rakyat mempunyai tingkat kesulitan pada penyajian detail latar belakang cerita yang sesuai dengan imajinasi publik. Di Indonesia belum ada satupun film yang berhasil mengangkat cerita rakyat lokal kita dengan detail latar belakang yang sesuai dengan imajinasi publik. Film-film di Indonesia yang mengangkat tema dari cerita rakyat hanya diambil inti ceritanya saja dan dibuat dengan konteks kekinian. Dalam film Cinderella ini penonton betul-betul dibawa dalam nuansa negeri dongeng yang merujuk pada komik atau gambaran imajinatif sesuai kehendak penonton. Ukuran itu dapat dilihat dari perolehan rating poin film ini. Film ini mendapatkan rating poin 4.2 dari 5 poin tertinggi yang diberikan oleh 36.956 penontonnya. Perolehan poin tersebut tentu berdasar kepuasan penonton menyaksikan hasil kerja lebih dari dua ratus orang yang bekerja membuatĀ visual effect untuk memenuhi harapan imajinasi penonton akan negeri dongeng yang digambarkan secara nyata.

Cinderella tidak saja pamer kecanggihan teknologi untuk menghadirkan detail nyata akan imajinasi tentang negeri dongeng. Dalam film ini Cinderella sengaja dikupas secara etimologi. Berawal dari kekejaman ibu tiri yang memperlakukan Ella sebagai pelayan bukan anak, Ella terusir dari kamarnya. Pengusiran itu membuat Ella sangat menderita terlebih pada saat musim dingin. Karena tidak kuat lagi menahan dinginnya malam Ella tidur di dekat perapian. Saat bangun tidak menyadari kalau wajahnya cemang-cemong karena arang dari perapian di depan tempat dia tidur. Maka saat menghidangkan sarapan untuk ibu tiri dan kedua saudara tirinya, salah satu saudara tirinya, mengejek dengan sebutan cinder. Karena wajahnya penuh arang (cinder) salah satu saudara tirinya memanggilnya Cinderella. Ella yang penuh arang.

Secara alur film yang diproduksi dengan biaya 95 juta dolar ini terasa mengalir meskipun dengan tergesa-gesa. Tidak cocok bagi penonton dengan selera film yang mengedepankan kedalaman dan kualitas cerita. Namun cocok sebagai hiburan akhir pekan anda sekeluarga. Sebagai penutup film ini menampilkan adegan Pangeran mencium Sang Putri khas upacara pernikahan Kerajaan Britania Raya. Sepanjang film logat Inggris dan beberapa aksen Perancis mendominasi dialog.

Secara keseluruhan film ini sanggup memanjakan mata dan imajinasi tentang negeri dongeng sambil berandai-andai kapan kiranya Malin Kundang atau Dayang Sumbi disajikan dengan cara seperti ini, di negerinya sendiri.

Sumber foto sampul: vox.com
Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Penikmat tembakau, teh, dan camilan yang renyah. Bapak Kretek Indonesia

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published.

More in:REVIEW