CUKAI

Lakon Carangan

Menurut Prof. Dr. Soetarno, merujuk kasus wayang versi Surakarta, lakon carangan itu sendiri dibagi tiga kategori yaitu: carangan kadapur, lakon carangan, dan lakon sempalan.

raden ontoseno

[dropcap]O[/dropcap]rang tentu boleh berbeda pendapat tentang asal-usul wayang. Ada satu pihak mendalilkan wayang adalah seni pertunjukan asli Indonesia sebelum kebudayaan Hindustan tiba. Ada pihak lain mendalilkan wayang merupakan hasil tiruan atau adaptasi dari seni pertunjukkan budaya India atau China. Namun kedua pihak tentu setuju, Punakawan asli dan khas Indonesia.

Tak hanya Punakawan. Sebutlah nama Antareja, Antasena, dan Bambang Wisanggeni, ketiga tokoh ini adalah karya asli pujangga Indonesia. Kisah ketiganya tak tertulis dalam kitab babon Ramayana dan Mahabarata.

Dalam pewayangan klasik Surakarta, nama Antareja dan Antasena adalah satu tokoh yang sama. Namun dalam pewayangan versi Yogyakarta adalah dua tokoh berbeda. Apa yang menarik, kedua atau ketiga tokoh itu digambarkan sebagai pribadi yang jujur, lugas, suka blak-blakan apa adanya, spontan, sekaligus berani melawan junjungan mereka kalau yakin bahwa junjungannya salah. Antasena dan Wisanggeni bahkan tak pernah ngomong krama inggil. Dengan siapapun tanpa terkecuali, ngomongnya selalu ngoko. Antareja sedikit beda, dia digambarkan masih menggunakan bahasa santun. Menariknya ketiga ksatria itu digambarkan teramat digdaya, bahkan para dewa gentar bertarung dengannya, dan, jika pun terpaksa bertarung, belum tentu juga menang.

Yang membuat karakteristik ketiga tokoh ini jadi lebih menarik ialah, bahwa menurut para dewa keberadaan Antareja, Antasena dan Wisanggeni pasti akan menggagalkan perang Baratayuda. Kesaktian ketiga tokoh ini naga-naganya bakal menginterupsi skenario para dewata perihal perang Baratayuda antara kebenaran di sisi Pendawa dan keangkaramurkaan di sisi Kurawa. Pasalnya ketiga anak Pandawa ini dipastikan sanggup menghabisi keluarga Kurawa beserta pasukannya sekejab mata. Karena itu, seturut putusan konsorsium para dewa, Antasena, Antareja dan Wisanggeni pun harus dimatikan demi berlangsungnya skenario Baratayuda.

Demikianlah, struktur narasi dan positioning ketiga tokoh asli Indonesia dalam wacana atau teks Mahabarata yang telah diadaptasi secara lokal. Dalam tradisi pewayangan di Jawa, lakon ketiga tokoh itu termasuk kategori carangan.

Sebagaimana diketahui, cerita wayang umumnya dibagi dalam dua bagian besar, yaitu lakon baku atau babon dan lakon carangan. Lakon babon bersumber dari kisah klasik epos Ramayana dan Mahabarata. Sedangkan lakon carangan adalah sebuah karangan bebas dari susastra lokal, di mana alur ceritanya benar-benar baru atau sudah keluar dari pakem aslinya. Ini bisa mengambil tokoh-tokohnya dari lakon baku atau bahkan sengaja diciptakah tokoh-tokoh baru.

Menurut Prof. Dr. Soetarno, merujuk kasus wayang versi Surakarta, lakon carangan itu sendiri dibagi tiga kategori yaitu: carangan kadapur, lakon carangan, dan lakon sempalan.

Lakon carangan kadapur yaitu kisah wayang yang masih berhubungan dengan lakon baku, jenis cerita ini berpegang pada tema dan silsilah tokoh-tokoh yang sama. Contohnya adalah lakon Jaladara Rabi, yang menceritakan perkawinan antara Kakrasana dan Dewi Erawati. Lakon carangan adalah suatu cerita yang benar-benar merupakan ciptaan baru dan tidak ada korelasinya dengan lakon babon. Contoh populernya ialah lakon Dasa Warna, yang menceritakan kisah Petruk menjadi raja. Sedangkan lakon sempalan adalah jenis cerita yang mengambil tokoh utamanya sama dengan lakon babon, namun tematiknya telah mengalami perubahan. Contohnya ialah lakon Dewa Ruci, yang menceritakan pencarian Werkudara akan Tuhannya.

Sayangnya bagaimana konteks historis yang melahirkan teks-teks lakon carangan, yang notabene jumlahnya sangat banyak dan beragam ini, secara diakronis masih jauh dari upaya analisis dan interpretasi secara komprehensif. Para budayawan dan sejararawan kita nampaknya masih enggan mendedahnya lebih jauh. Padahal sebenarnya jelas banyak hal menarik untuk digali. Bukankah sangat mungkin dalam teks-teks lakon carangan setidaknya merefleksikan adanya kritik sosial pada zaman itu, dan sekaligus sebuah bukti adanya upaya membangun wacana tanding dari para sastrawan lokal melawan hegemoni teks-teks lakon baku atau babon. Lakon carangan bisa jadi semacam embrio kritik sastra terhadap dunia susastra Jawa.

Di sini patut kita ingat, ada dugaan lebih unggulnya lakon babon terhadap lakon carangan (lokal), setidaknya dalam dunia wayang versi Jawa Tengah, sebenarnya tak terlepas dari sejak digulirkannya proyek Javanologi oleh pemerintah Kolonial Belanda. Termasuk perihal pembagian secara hirarkis antara lakon babon dan lakon carangan itu sendiri, toh bukan mustahil adalah produk interpretasi proyek Javanologi dengan maksud mendomestifikasi karya-karya lakon lokal dan potensi kritisisme para intelektual/pujangga Jawa.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Panji Prakoso
Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.

    You may also like

    Leave a reply

    Your email address will not be published.

    More in:CUKAI