Serpihan Sejarah Seni Lukis

Kidung Sunda dari abad ke-16 juga menceritakan tentang diutusnya seorang ahli lukis yang bernama Sungging Prabangkara oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk, untuk pergi melukis seorang putri Sunda yang konon kecantikannya begitu masyhur.

[dropcap]T[/dropcap]ahun 1511 bangsa Portugis menguasai dan menduduki Malaka. Utusan dari berbagai kerajaan pun berdatangan menyerahkan upeti pada Alfonso de Albuquerque (1453 – 1515). Di antara para utusan itu terdapat duta Kerajaan Majapahit. Duta itu membawa aneka rupa hadiah. Salah satunya selembar kain linen dari Cambay, yang digambari narasi sejarah perjuangan sang raja beserta atribut kebesarannya seperti gambar kereta ditarik kuda dan iring-iringan gajah. Adanya selembar kain bergambar itu membuktikan, pada awal abad ke-16 sudah terdapat para ahli lukis atau juru sungging di istana Majapahit.

Kidung Sunda dari abad ke-16 juga menceritakan tentang diutusnya seorang ahli lukis yang bernama Sungging Prabangkara oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk, untuk pergi melukis seorang putri Sunda yang konon kecantikannya begitu masyhur. Ketika lukisan itu dipersembahkan kepada raja, konon sang raja benar-benar terpesona dan jatuh hati, bahkan tergila-gila dibuatnya. Kidung Sunda mencatat, juru sungging itu sanggup melukis dengan sangat sempurna dengan kualitas hasil lukisan mirip kenyataan tubuh dan rupa sang putri itu, bahkan dikatakan pada tingkat detail yang paling kecil sekalipun.

Sayangnya penulis Kidung tak memberi petunjuk perihal gaya dan teknik seni lukis-potret itu. Tapi, sebenarnya itu tetap mudah diduga. Bagaimanapun, teknik seni lukis-potret tentu bukanlah genre dekoratif, lebih-lebih bercorak abstrak (non-figuratif). Di sini kisah jatuh cinta dan tergila-gilanya Raja Hayam Wuruk bisa jadi petunjuk. Jelas tak mungkin sang raja sontak jatuh hati dan tergila-gila pada putri Sunda itu sekiranya ia hanya melihat representasi keberadaan sang putri dibuat oleh si-juru sungging dengan teknik dekoratif atau abstrak. Sehingga, bisa diduga sangat mungkin pada abad ke-14 itu para juru sungging di Nusantara telah menguasai teknik lukisan figuratif dengan sempurna, entah itu bergaya romantis seperti Raden Saleh atau naturalis laiknya Basuki Abdullah.

Ya, bicara artefak sejarah berupa karya seni lukis dari abad ke-16, baik itu berupa lukisan-lukisan dekorasi atau figuratif di kain, nampaknya jejak-jejaknya sangat sedikit tertemu. Kain, selain mudah rusak tentu tak bakalan tahan lama mengarungi arus waktu.

Tak aneh, bicara tentang sejarah seni lukis di Indonesia, orang lazimnya menggaris bawahi titik mulanya sejak masuknya pengaruh bangsa Barat. Tercatat, pada 1637 ketika VOC masuk ke Nusantara membawa serta lukisan-lukisan dengan kualitas sangat buruk tentang tema kapal atau pelabuhan, gambar orang telanjang, lukisan-potret Musa, Daud, Sulaiman, dsbnya., sebagai hadiah bagi para penguasa lokal. Selain diberikan kepada seorang Raja di Bali, Sultan Palembang dan Susuhunan di Jawa, lukisan-lukisan itu juga tercatat sengaja didatangkan atas pesanan seorang Sultan di Martapura.

Sir Thomas Stamford Raffles ketika berkuasa di Hindia-Belanda tak luput mengamati tradisi seni lukis. Ketika menulis History of Java pada awal abad ke-19 dia sudah mengatakan, seni piktorial Jawa telah merosot atau bahkan menghilang. Kalaupun eksistensi para perupa itu ada, menurut Raffles karakteristik karyanya cenderung imitatif belaka. Sehingga, seturut Raffles, kalaupun tradisi seni lukis pada zaman dulu pernah ada di Jawa, namun tradisi ini sudah tidak memberikan banyak kebanggaan. Mengamati fenomena itu, Reflles bahkan tiba pada suatu skeptisme, atau setidaknya melemparkan pertanyaan: apakah benar orang-orang Jawa sendiri pada masa kuno telah merancang bangunan-bangunan besar dan megah seperti Borobudur atau Prambanan, di mana seni rancang bangun arsitektural, pahat relief dan patungnya telah mencapai tingkat kesempurnaan yang tinggi dan sangat mengaggumkan? Masih seturut catatannya, secara umum seni patung di Jawa pada abad ke-19 juga sudah menghilang.

Skeptisme Raffles mudah dipahami. Bagaimanapun, seni arsitektural candi, termasuk di dalamnya seni patung dan relief, tak bisa tidak pasti memiliki kedekatan dengan seni piktorial yang telah menggunakan teknik figuratif secara realis, yang bukan saja menuntut dasar penguasaan ilmu geometri melainkan juga kalkulasi matematis secara baik.

Tak aneh pula jika kita menyimak perjalanan sejarah dalam konteks seni, nampak tak ada sama sekali fenomena kesinambungan dengan seni tradisi pada alur runtutan perkembangannya. Seni rupa modern sebutlah demikian, nampak berkembang begitu saja tanpa memiliki korelasi misalnya dengan seni sungging batik maupun wayang beber di Jawa atau seni lukis tradisonal di Bali. Sebagai gejala baru, seni rupa modern di Indonesia seolah lahir tanpa alasan yang jelas, kecuali disimpulkan karena pengaruh kolonialisme Barat. Di sisi lain Claire Holt dalam Art in Indonesia: Continuities and Change (1967) beranggapan, bahwa sebenarnya ada fenomena ketersinambungan dalam perkembangan sejarah seni di Indonesia, namun yang menampak pada realitasnya justru adalah sebuah mutasi.

Bicara penelusuran sejarah seni lukis di Indonesia tentu sudah dilakukan banyak orang. Umumnya beberapa penulisan dimulai dari Raden Saleh, beberapa yang lain memulai dari S. Sudjojono. Sebagai tonggak lahirnya seni lukis modern, baik Raden Saleh maupun S. Sudjojono, telah menghasilkan karya-karya seni yang mengagumkan yang, mau tidak mau, ditafsirkan lebih memiliki korelasi dengan kebudayaan Barat ketimbang seni lukis lokal/tradisional.

Raden Saleh (1811 – 1880) belajar melukis dari para perupa Eropa. Duapuluh tahun tinggal di Eropa, dia mendapat pendidikan Barat dan dipengaruhi gaya romantik para perupa Perancis yaitu Delacroix dan Horace Vernet. Sedangkan generasi S. Sudjojono (1913 – 1985) muncul terpaut satu abad lebih dari generasi Raden Saleh. Awalnya Sudjojono belajar melukis dari Raden Mas Pirngadie, ditambah terpengaruh ide-ide kerakyatan Ki Hadjar Dewantara dan kemudian belajar bersama secara kolektif dalam komunitas Taman Siswa, bersama Basuki Reksobowo, Rusli, Alibasjah.

Sedang generasi antara yang menjembatani kesinambungan generasi S. Sudjojono dan Raden Saleh, ditemui beberapa nama perupa terkenal antara lain Abdullah Surio Subroto (1878 – 1941), selain belajar seni rupa di Belanda juga adalah ayah pelukis ternama Basuki Abdullah (1915 – 1993); Wakidi (1889 – 1979); dan tak terkecuali Raden Mas Pirngadie (1875 – 1936) yang adalah guru menggambar Sudjojono. Para pelukis sohor ini termasuk aliran naturalisme, yang nantinya dikritik habis-habisan oleh Sudjojono sebagai “Mooi Indie” (Hindia molek).

Ahkir tahun 1930-an Sudjojono mengritik lukisan Mooi Indie karena serba molek dan melenakan rakyat dari realitas sesungguhnya: terjajah. Dia menganggap lukisan Mooi Indie tak lebih hanya bermaksud “menghibur” orang-orang asing, tapi justru alpa dengan tugas etik tukang gambar untuk mengungkap potret realitas sesungguhnya.

Selain itu, Sudjojono juga mengritisi bahwa para pelukis Indonesia belum mampu menemukan bentuk karakter dan corak gayanya sendiri sebagai identitas karya-karyanya. Benar, bahwa benda-benda dan tema-tema yang digambarkan adalah realitas Indonesia, akan tetapi karakter sapuan kuas serta citra rasa warna berikut permainan komposisinya toh masih meniru seni lukis Barat, demikian kritik Sudjojono. Dalam kerangka memerangi arus kuat aliran naturalisme itu, pada tahun 1937 Sudjojono dan Agus Djajasuminta mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia).

Ya, tafsiran bahwa sejarah seni rupa modern di Indonesia lebih berkorelasi dengan datangnya pengaruh budaya Barat ketimbang tradisi lokal tentu mudah dipahami. Selain kacamata sejarah seni di Indonesia cenderung mendudukkan posisi Jawa sebagai ruang episentrum analisisnya, lebih dari itu—merujuk penelitian Claire Holt— para seniman Jawa modern sebenarnya juga sudah tak memiliki peninggalan yang hidup untuk tradisi (lokal) seni lukis dan patung kecuali bersandar pada contoh-contoh karya seni lukis dari Barat.

Barangkali akan lain cerita dan kesimpulannya seandainya ruang episentrum analisis sejarah seni rupa modern adalah bukan Jawa, melainkan budaya Bali. Sayangnya, Jawa adalah kunci!

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.

Tinggalkan Balasan