PERTANIAN

Masjid Demak dan Simbol Keragaman

Saka tetel yang dibuat dari sisa-sisa kayu dengan beragam ukuran dan bentuk itu jelas mengekspresikan sekaligus menyimbolkan keragaman budaya manusia dengan satu tujuan yang relatif sama. Bhineka tunggal ika.

masjid demak-feat

[dropcap]B[/dropcap]ukan hanya Candi Lara Jonggrang yang terkisah dicipta semalam. Masjid Agung Demak, masjid pertama di Pulau Jawa itu, juga terkisah demikian. Menurut cerita tradisional, baik lisan maupun tulisan, konon masjid ini didirikan bersama-sama oleh para wali dalam tempo semalam.

Masjid dengan bentuk struktur piramida ini, pada bagian atap tengahnya ditompang oleh empat saka guru. Satu tiang utama bukan dibuat dari satu kayu utuh, melainkan dari tetelan kayu sisa-sisa beragam ukuran dan bentuk kemudian diikat jadi satu. Dikisahkan saka tetel adalah buatan Sunan Kalijaga, konon inspirasinya diambil dari kontruksi model tiang layar kapal (jung).

Ya, dalam kisah legenda Masjid Agung Demak boleh dikata Sunan Kalijaga menduduki tempat terhormat. Selain berjasa membetulkan arah kiblat masjid itu, konon dia juga mendapatkan baju keramat “antakusuma” yang jatuh dari langit ketika para wali bermusyawarah. Baju yang juga disebut Kyai Gundil itu konon kemudian jadi salah satu pusaka andalan Raja-raja Mataram. Diceritakan Panembahan Senapati, Raja Mataram-Islam pertama itu, sanggup mengalahkan Pangeran Madiun karena mengenakan baju tersebut dan membuatnya kebal. Juga dalam suatu dokumen berbahasa Belanda tahun 1703, tercatat baju keramat itu pernah diserah terimakan kepada Raja Amangkurat III di Kartasura.

Mitos Ki Ageng Sesela atau populer disebut Ki Ageng Sela, moyang wangsa Mataram-Islam yang legendaris itu, kisahnya juga terpateri di masjid ini. Alkisah, suatu hari sewaktu Ki Ageng mencangkul di sawah turun hujan sangat lebat disertai gemuruh guntur dan kilat menyambar-nyambar. Tiba-tiba petir menyambar Ki Ageng Sesela. Ajaibnya bukannya mati tersambar petir, justru sebaliknya petir itu malah berhasil dibetotnya dan lantas ia kurung di suatu wadah kayu. Singkat cerita, mengenang kisah fenomemal tersebut maka kayu bekas kurungan petir itu kemudian diabadikan menjadi pintu utama Masjid Agung Demak. Dikenal dengan nama “lawang bledeg”, kini bekas pintu itu masih tersimpan di museum masjid.

Tentu banyak tafsiran atas kisah legenda itu. Salah satu tafsiran tradisional sering mengait-kaitkan kisah Ki Ageng Sesela dengan adanya keputusan politik penting yang merubah wajah sejarah Jawa. Sebenarnya tak sepenuhnya jelas keputusan politik apakah yang dibuat pada momen itu. Namun demikian mitos Ki Ageng Sesela sering dimaknai sebagai simbolisasi transisi kuasa dari era Jawa-Hindu ke Jawa-Islam.

De Graaf dan Pigeaud (2001) mengutip S Wardi menulis, pada tembok dekat mihrab masjid terdapat sebuah relief yang disemen dalam tembok. Relief itu merupakan candra sengkala yakni catatan tahun Jawa dalam bentuk simbol dan kalimat tertentu. Relief berwujud lukisan kepala, kaki, tubuh dan ekor yang berarti angka tahun 1401 J atau 1479 M. Sementara pada pintu gerbang utama masjid juga terdapat candra sengkala yang melambangkan tahun 1428 J atau 1506 M. Menurut De Graaf dan Pigeaud, sangat mungkin catatan pertama merujuk tahun didirikannya masjid, dan catatan kedua merujuk saat dilakukan renovasi memperbesar dan memperindah bangunan masjid. Raja Tranggana, penguasa Kerajaan Demak kedua itu, menurut kedua sejarawan Belanda itu tercatat turut hadir pada peresmian masjid, setelah fase renovasi.

Seandainya catatan tahun pendirian masjid ini “benar”, menarik dicermati adanya bentangan waktu cukup lama sekiranya bukti arkeologis keberadaan orang Islam di Jawa disodorkan. Tercatat nisan Islam tertemu di daerah di pantai Jawa memiliki angka tahun 1419 M. Sementara nisan-nisan Islam di Tralaya, lingkungan kraton Majapahit, tercatat berangka tahun 1376 M, masih pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk di Majapahit. Juga sebuah nisan di Trowulan berangka 1448 M menandai adanya makam seorang pembesar Islam yang secara tradisional dipercayai sebagai Ratu Majapahit, Putri Cempa. Apa pasal pendirian masjid pertama di Pulau Jawa terpaut cukup jauh sejak mulai munculnya komunitas Islam di sana? Jawabnya tak terlalu jelas, memang.

Tradisi Jawa sendiri mencatat para pemimpin awal Islam dengan sebutan wali, sebuah sebutan prestisius terkait tingkat capaian rohani seorang pemimpin agama. Konon, berjumlah sembilan orang, populer disebut dengan nama wali sanga. Sayangnya tak bisa dipastikan kapan pastinya secara historis mereka itu dulu pernah hidup. Benar, bahwa para wali sanga itu diceritakan hidup sezaman, namun kisah mereka diceritakan membentang dari akhir abad kelimabelas hingga abad ketujuhbelas. Walhasil, jangan kaget sekiranya kita jumpai kisah Sunan Kalijaga terlibat pada pembangunan Masjid Agung Demak, misalnya, namun juga tercatat hadir pada masa kekuasaan raja paling agung dinasti Mataram, Sultan Agung (1613 – 1645), sebagai penasihat spiritual raja yang demikian penting perannya.

Apa yang menarik dicatat dari kisah wali sanga ialah, bahwa atmosfir mistisisme demikian kuat menyelimuti aura keberadaannya. Ada kisah tentang kemampuan seorang wali berjalan di atas air, mengubah beras menjadi pasir, mengubah buah aren atau gumpalan tanah menjadi emas dan masih banyak kisah legenda lainnya. Dari kisah-kisah menajubkan tentang kesaktian para wali sanga itu, M.C. Ricklefs (2002) menggarisbawahi bahwa Islam awal yang masuk ke Jawa cenderung bersifat ‘mistis’, alias tak jauh berbeda dari praktik keyakinan Jawa-Hindu pada umumnya. Sehingga, dugaan Ricklefs lebih jauh, Islam awal hampir bisa dipastikan jauh dari asumsi warna Islam ortodoks menurut ukuran modern saat ini.

Selain kisah legenda wali sanga yang diyakini kebenarannya secara faktual, juga menarik disimak bagaimana persepsi orang Jawa terhadap Masjid Agung Demak. Bahkan sekalipun Kerajaaan Demak sendiri berakhir pada paruh kedua abad ke-16, tapi kesetiaan budaya Jawa yang berurat berakar pada keberadaan wali sanga menyebabkan Masjid Agung Demak tetap menjadi salah satu pusat kehidupan keagamaan masyarakat Jawa.

Menurut sumber Belanda, pasca terbunuhnya Kapten Tack di Kartasura, pada kisaran 1688 Susuhunan Amangkurat II menawarkan mengangkat sumpah setia pada perjanjian-perjanjian yang telah disepakati dengan Kompeni di Masjid Agung Demak. Atau perlu juga diketahui pendapat Susuhunan Pakubuwana I pada 1708, mengingat pendahulunya Susuhunan Amangkurat III telah membawa hampir semua pusaka kerajaan ketika dibuang oleh Belanda ke Srilangka. Konon Pakubuwana I pernah berkata, hanya Masjid Agung Demak dan makam suci di Kadilangu sajalah pusaka mutlak bagi kerajaan (ugere pusaka in tanah Jawa).

Lebih jauh, setidaknya hingga abad kesembilanbelas menurut De Graaf dan Pigeaud, ada anggapan bagi kalangan masyarakat Jawa khususnya pemeluk Islam-Jawa, bahwa mengunjungi Masjid Agung Demak dan makam orang suci di sana nilainya dapat disamakan dengan naik haji ke Mekkah. Maka tak aneh hingga kini Masjid Agung Demak, juga makam-makam para wali sanga atau petilasan bekas persinggahannya, dianggap sakral (kramat) dan menjadi tujuan ziarah bagi para pemeluk Islam-Jawa secara umum.

Barangkali saja ziarah ke Masjid Agung Demak dan makam suci para wali di Kadilangu merupakan solusi sosiokultural mengingat susahnya transportasi laut dan lamanya perjalanan dari Jawa ke Mekkah pada waktu itu. Mudah ditebak, selain pertaruhan resiko keselamatan juga mahal ongkosnya. Dengan demikian tafsiran bahwa ziarah ke Masjid Agung Demak dan makam suci wali sanga bisa menjadi alternatif bagi ritual naik haji ke Mekkah, sebagai upaya memenuhi salah satu kewajiban rukun Islam, tentu sebuah ‘problem solving’ yang menarik bagi masyarakat Islam-Jawa.

Namun juga penting diingat di sini tentang adanya upaya tafsiran lokal terhadap Islam. Upaya tafsiran lokal ini melahirkan wacana Islam yang partikularistik dan khas Indonesia, namun demikian secara substantif tetaplah Islam yang satu dan sama (universal), yang kini secara akademis sering dinamai Islam-Jawa atau Islam-Nusantara. Sementara bicara aspek partikular dan kekhasan Islam-Jawa, ini nampak dari kecenderungan lebih mengedepankan nalar mistisisme atau sufisme ketimbang aspek legalitas formal, dan, karena itu, juga cenderung lebih akomodatif serta toleran terhadap keragaman budaya dan agama yang ada.

Ya, wajah Islam-Jawa yang menghargai entitas multikulturalisme dan multiagama ini mengingatkan kita pada makna filosofis saka tetel buatan Sunan Kalijaga. Saka tetel yang dibuat dari sisa-sisa kayu dengan beragam ukuran dan bentuk itu jelas mengekspresikan sekaligus menyimbolkan keragaman budaya manusia dengan satu tujuan yang relatif sama. Bhineka tunggal ika.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.

    You may also like

    Leave a reply

    Your email address will not be published.

    More in:PERTANIAN