Dalam Kesedihan, Kita Harus Marah atas Kepergian Bu Patmi, Sang Ibu Bumi

Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani, Ibu Bumi kang ngadili”

[dropcap]S[/dropcap]aya tak mengenal langsung sosok Bu Patmi, satu dari sekian banyak Kartini Kendeng. Bahkan mungkin dalam aksi pasung semen di depan Istana Negara, saya juga tak sempat melirik dan memperhatikannya. Namun ternyata kepergiannya pada 21 Maret 2017 lalu, menyisakan satu duka yang cukup dalam bagi saya, menyisakan satu amarah dalam diri yang menunggu momentum untuk meletupkannya.

Saya juga bukan orang yang begitu dalam ikut serta dalam perjuangan masayrakat pegunungan Kendeng dalam menolak pembangunan pabrik semen yang akan menghancurkan kehidupan mereka, kehidupan anak cucu mereka, kehidupan orang banyak, mungkin juga kehidupan saya.

Selama bertahun perjuangan mereka, hanya beberapa kali saja saya ikut serta dalam aksinya atau berpartisipasi meramaikan perjuangan mereka melalui media sosial. Tak pernah pula saya menginjakan kaki di pegunungan Kendeng untuk menyaksikan langsung bagaimana keserakahan semen, keserakahan pembangunan mengambil hak hidup orang lain, hak hidup petani.

Namun ternyata saya tak perlu ada dan mendalam bersama perjuangan mereka untuk merasakan sedih dan marah melihat tingkah laku penguasa terhadap para petani. Cukup satu rasa kemanusian yang ada dalam diri untuk bisa merasakan itu, sedih dan amarah. Entah bagaimana rasa sedihnya keluarganya, entah bagaimana rasa sedihnya warga pegungungan Kendeng, entah bagaimana sedihnya mereka yang selama ini di belakang Ibu Patmi, mendukung perjuangannya dengan tulus.

Dua bait lagu “Ibu Pertiwi” yang dinyanyikan oleh Marjinal pada malam doa untuknya, membuat mata saya berbinar, tak sanggup menahan air mata. Bahkan ketika saya sedang menulis cerita ini, mata saya redup, di sisi lain diri saya juga berusaha untuk menahan agar air itu tak menetes.

Nyanyikanlah bait lagu ini dengan lirih, pejamkan mata, dan bayangkan Ibu Patmi duduk di depanmu dengan kedua kakiknya yang dipasung semen dan tatapan matanya yang ‘diam’.

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan

Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

***

Delapan hari Bu Patmi ada di seberang Istana yang megah, tak ada respon apapun dari penguasa. Hanya seorang staf Presiden yang menerima warga pegunungan Kendeng dengan janji dan permintaan kepada mereka untuk menunggu hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis. Mereka, para petani yang hidupnya tengah terancam selama bertahun-tahun diminta oleh pejabat negara untuk menunggu. Menunggu ibu buminya hancur dan rata oleh semen?

Selang beberapa jam kemudian, Ibu Patmi pergi meninggalkan orang-orang yang selama ini berjuanga bersamanya. Sang penguasa menyampaikan duka lewat stafnya, seraya menasehati agar tak lagi melakukan aksi yang berbahaya.

Sehari kemudian sang penguasa menerima Ibu Gunarti, Kartini Kendeng lain yang hadir bersama dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Usai mendengar sang penguasa berpidato, ia menyingkir di balik pilar. Menangis ia di balik pilar besar Istana, ditemani, dipeluk oleh saudaranya, Gunarto. Mungkin ia menangis lantaran teringat Ibu Patmi, mungkin ia teringat ibu pertiwi yang sedang lara, merintih dan berdoa.

Ia mengaku hendak menyanyikan tembang pangkur yang ditulisnya dihadapan penguasa, namun protokoler Istana tak memberikan kesempatan, hingga ia hanya bisa menyerahkan tembang pangkur yang dituliskannya dalam secarik kertas kepada penguasa. Entah dibaca atau tidak secarik kertas itu.

“Bapak kami petani pegunungan Kendeng. Bagaimana dengan pabrik semen yang ‎masih beroperasi di Rembang?” tanya Gunarti.

“Ya, diselesaikan dulu di tingkat provinsi, di gubernur, Pak Ganjar Pranowo, baru ke saya. Jangan apa-apa ke saya,” jawab sang penguasa.

Robek hatinya!

“… Kalau melihat apa yang dikatakan beliau Pak Jokowi, rasanya saya sudah kehilangan Bapak,” tutur Gunarti.

***

Sedih saja rasanya tak cukup untuk menerjemahkan emosi dalam rangkaian persitiwa tersebut. Amarah adalah emosi lain yang mungkin penting untuk diletupkan karena perlakuan penguasa kepada mereka, petani, soko guru kehidupan.

Entah bagaimana meluapkan amarah itu, kesedihan terlalu dalam menyelimuti perasaan hingga tak dapat berfikir amarah seperti apa yang harus diletupkan, dan dilampiaskan kepada siapa. Apakah kepada penguasa? Apakah kepada mereka yang mendukung penguasa? Apakah kepada mereka yang mendukung berdirinya pabrik semen? Apakah kepada gagasan tentang pembangunan yang telah berhasil menghancurkan kehidupan Ibu Patmi? Ataukah pada diri kita sendiri yang tak pernah mampu berjuang sehebat Ibu Patmi?

Kepada siapapun amarah itu harus disampaikan, kita layak untuk marah. Sebuah perjuangan yang memakan korban jiwa tentu ingin kita hindari, tapi takdir itu tak bisa kita hindari. Sang “Ibu Bumi” telah pergi, dan tak cukup rasanya hanya mengiringinya dengan doa, meneruskan langkah kakinya yang dicor semen adalah keharusan bagi kita. Ya, meneruskan langkah kaki perjuangan Ibu Patmi adalah amarah yang harus kita letupkan.

Langkah kaki perjuangan yang menginginkan tanah, sawah, dan air untuk kehidupan umat manusia. Langkah kaki perjuangan yang menginginkan tanah, sawah, dan air untuk Kendeng yang lestari.

Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani, Ibu Bumi kang ngadili”

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait

Tinggalkan Balasan