PERTANIAN

Perokok Berjilbab dalam Pusaran Stigma

Kegiatan merokok bagi kaum urban merupakan simbol ekspresi dan interaksi sosial. Rokok menjadi sebuah ajang pemersatu dan membuat interaksi menjadi lebih luwes bagi sesama perokok. Kegiatan merokok bahkan tidak mengenal kasta dan golongan bahkan orang yang sebelumnya tidak saling kenal dapat menjadi akrab. Fenomena ini dapat terlihat di warung kopi ataupun sebuah acara diskusi santai yang mengizinkan rokok dan kopi.

Namun entah bagaimana kegiatan merokok menjadi wilayah maskulin. Kegiatan merokok seolah hanya menjadi domain laki-laki dan jika ada perempuan memasukinya secara otomatis akan mendapat stigma. Perempuan dengan rokok akan menjadi sangat tabu karena dianggap telah berada pada tempat yang bukan domainnya.

Beberapa laki-laki dengan simbol penguasa maskulinitas seolah tidak menerima jika rokok yang dianggap sebagai domainnya dimasuki perempuan. Meski tidak sedikit pula laki-laki yang welcome dengan perempuan perokok. Bahkan saat ini ada kecenderungan laki-laki mencari perempuan perokok karena dianggap lebih fleksibel dan asyik diajak nongkrong bareng.

Kegiatan merokok seyogyanya bukan menjadi kegiatan berbasis gender dengan membentuk domain-domain yang menimbulkan stigma. Perempuan merokok tidak seharusnya  dipandang sebagai perempuan nakal atau bahkan perempuan yang tidak sesuai kodratnya. Kegiatan merokok bukanlah kegiatan berbasis gender dan tidak semestinya diklasifikasi.

Masyarakat Indonesia cenderung memaknai simbol-simbol dengan mengikatnya dalam norma. Kegiatan merokok disimbolikan sebagai kegiatan maskulin dan hal ini yang membuat perempuan perokok tidak memiliki tempat. Belum tuntas permasalahan perihal perempuan perokok, perempuan berjilbab yang merokok menjadi momok baru. Tidak ada ruang bagi perempuan berjilbab yang merokok! Tampaknya begitulah penggiringan opini yang dibangun.

Stigma ganda membuat perempuan berjilbab yang merokok terasing dari lingkungan bermasyarakat. “Ih, kalau gw mah mending gak usah pakai  jilbab sekalian! Pake jilbab kok merokok? Malu-maluin jilbabnya aja!” Sindiran-sindiran negatif kerap terarahkan kepada para perempuan berjilbab ini. Mereka tidak mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan pemahaman keagamannya ataupun pilihannya berbusana.

Jilbab memang menjadi fenomena unik tersendiri. Beberapa kalangan memandang jilbab sebagai simbol yang sangat sakral sehingga perempuan berjilbab diharuskan memiliki perilaku sempurna. Kecenderungan kalangan ini juga memandang perempuan perokok sebagai sebuah tindakan tabu yang tidak sesuai norma. Alhasil pandangan kalangan ini membuat stigma ganda bagi perempuan berjilbab.

Kalangan lain dengan gigih menyerukan wajibnya berjilbab tanpa mempermasalahkan perilaku perempuan tersebut.  Kecenderungan kalangan ini adalah wajibnya aurat perempuan terjaga. Namun meskipun mereka tidak mempermasalahkan perilaku perempuan tetapi mereka tetap mengedepankan misi dakwah agar seiring waktu perempuan tersebut dapat berubah lebih islami. Artinya meskipun pada awalnya kalangan ini tidak mempermasalahkan perempuan perokok tetapi lambat laun ini akan menjadi masalah.

Dua kalangan tersebut seolah menjadi mainstreaming pandangan utama dalam menilai perempuan perokok berjilbab. Entah bagaimana rokok menjadi sesuatu yang bukan terlahir dari isu gender tetapi menjadi permasalahan gender yang mengakar. Hal ini lumrah terjadi karena mayoritas masyarakat Indonesia memandang simbol sebagai sesuatu yang sakral dan menjadi sebuah norma.

Jilbab adalah simbol keislaman yang sakral dalam kacamata orang Indonesia. Perokok adalah simbol maskulinitas. Jadi perokok berjilbab tentu tidak akan terlepas dari beban stigma ganda.

Tinggalkan Balasan