Kemitraan Adalah Solusi Efektif dan Efesien bagi Petani Tembakau

Tembakau merupakan tanaman yang mempunyai karakter unik.  Tembakau adalah tanaman musiman yang tidak bisa di tanam di sembarang tempat, hanya dengan kearifan lokal dan tanah tertentu tembakau dapat tumbuh dengan baik dan berkualitas.

Buktinya dalam satu Kabupaten sentra tembakau tidak semua tanah bisa ditanami tembakau dengan pertumbuhan serta hasil yang baik. Belum lagi setiap tanah di area pertanian tembakau jenis dan karakter tembakau berbeda-beda. Hal ini sangat ditentukan jenis tanah, suhu dan cuaca di tiap-tiap kota. Ambil contoh dalam satu wilayah kabupaten, pertumbuhan dan hasil tembakau dataran tinggi (pegunungan) dan dataran rendah akan berbeda.

Bacaan Lainnya

Pada dasarnya di tiap-tiap kabupaten mempunyai  jenis dan cirri khas tanaman tembakau. Ambil contoh Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, khas tanaman tembakau asli daerah adalah Kemloko.  

Seperti yang telah dikatakan Rofi’i petani asal kecamatan Tlogomulyo Temanggung,  kemloko varietas asli tanaman tembakau Temanggung, mempunyai sifat rentan mati dibanding dengan jenis tembakau lainnya, jika penanamannya tidak memakai aturan. Sebaliknya jika memakai teknik tepat dan benar, hasil kemloko sangat menjanjikan, bahkan saat ini ada pabrikan mengkhususkan pembelian tembakau dari Temanggung hanya jenis kemloko. Karena tembakau kemloko kategori tembakau bumbu yang bisa memantapkan hisapan kretek.

Kembali kepada sifat unik tembakau, selain tergantung pada tanah, tembakau masuk dalam kelompok tanaman yang selalu mengalah jika disandingkan dengan tanaman lain. Tembakau bukan jenis tanaman yang akan bisa tumbuh dengan baik dengan sistem tumpangsari. Tembakau harus berdiri sendiri, karena jika dicampur dengan tanaman lain, dapat dipastikan kualitasnya tidak baik. Tumbuh dan berkembangnya tanaman tembakau tergantung akar yang sehat, dan itupun akarnya tidak lebih besar dari genggaman tangan,  sehingga faktor cuaca juga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman tembakau.

Curah hujan terlalu banyak juga dapat memengaruhi hasil dan produktifitas tembakau menurun, karena dengan kadar air yang terlalu banyak berakibat akar tanaman tembakau membusuk. Dari hasil kunjungan di beberapa daerah penghasil tembakau, tembakau cocok ditanam di area yang tidak terlalu banyak air.

Berbeda dengan tanaman lainnya, sangat tergantung dan membutuhkan debit air yang banyak. Rerata lahan untuk tanaman tembakau adalah lahan kering, yang hanya tanaman tembakau bisa menghasilkan nilai ekonomi sangat tinggi, dibanding dengan tanaman lain. Artinya dilahan tersebut tidak ada satu tanaman yang bisa menandingi tanaman tembakau dari segi ekonomi.

Hingga apapun yang terjadi, saat bulan mulai tanam tembakau, petani sibuk mempersiapkan untuk menanam tembakau. Seperti halnya tiga tahun belakang ini, cuaca tidak menentu dan sulit diprediksi dengan akal sehat dan kebiasaan, akibatnya banyak petani yang gagal panen tembakau, kalaupun panen produktifitasnya menurun. Realitanya, petani tetap menanam tembakau, walaupun pemerintah daerah ada yang menganjurkan untuk tidak menanam tembakau dan diganti dengan tanaman lainnya.

Sebagai contoh Pemerintah Daerah Kabupaten Temanggung , saat ini menetapkan daerah tersebut sebagai sentra tanaman bawang putih, khususnya untuk area tanaman tembakau. Bahkan pupuk dan bibitnya diberikan gratis ke petani tembakau.  Pertanyaan selanjutnya, apakah anjuran Pemerintah Temanggung melalui Dinas Pertanian tersebut sebagai bentuk pengendalian dan diversifikasi tanaman tembakau?  

Terlepas dengan kebijakan pemerintah Temanggung tersebut, perlu ditegaskan, bahwa yang dibutuhkan petani tembakau di Temanggung saat ini adalah informasi tentang cuaca yang akurat, bukan yang lain. Apalagi bantuan pupuk dan bibit selain tembakau, jauh dari harapan petani.

Ketidak hadiran pemerintah dengan kebijakan yang tidak memihak sektor pertanian tembakau pastilah dialami semua petani tembakau di semua sektor pertembakauan. Jalan satu-satunya dan alternatif yang baik bagi petani saat ini tidak lain adalah bekerjasama dengan pabrikan, dengan jalur kemitraan.

Dalam kemitraan terjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Logikanya pabrikan butuh bahan baku tembakau yang berkualitas sesuai keinginan pasar dan petani butuh tembakaunya terserap dengan baik, dengan kemitraan ada kompromi yang dihasilkan dari dua belah pihak.

Salah satu keuntungan kemitraan bagi pabrikan adalah memperoleh bahan baku tembakau sesuai yang diharapkan serta kualitas dan kuantitas kebutuhan pabrikan terpenuhi tiap tahunnya. Dengan begitu pabrikan akan memberikan informasi terkait kuota pembelian tiap tahunnya, model dan jenis tembakau yang dibeli beserta informasi prakiraan harga.

Lebih dari itu, dengan kemitraan, petani  akan diuntungkan lagi dengan beberapa hal, yaitu; informasi tentang prakiraan cuaca yang mendekati akurat, penyuluhan tentang bagaimana budidaya dan bertani yang baik agar produktifitas meningkat, dan keterserapan tembakau saat panen. Dari beberapa keuntungan baik bagi pabrikan dan petani, satu sama lain saling berhubungan.

Dengan keadaan cuaca yang tidak menentu, seperti kondisi sekarang, informasi prakiraan cuaca sangat penting.  Sangat erat hubungannya dengan pola pembibitan, penanaman dan masa panen sesuai waktu yang baik.  Begitupun penyuluhan, sangat penting untuk menentukan bibit yang baik sesuai keinginan pabrikan, aturan menanam yang baik agar produktifitasnya meningkat , dan mendapatkan harga yang baik pula.

Sistem kemitraan yang sudah berjalan ada dua macam, yaitu pertama; pabrikan bermitra langsung dengan petani. Kedua; kemitraan petani dan pabrikan melalui pihak ketiga yaitu melalui grader atau koordinator, dan ada pula melalui PT/CV yang di tunjuk pabrikan untuk mengelola kemitraan.

Alangkah bertambah baik dalam pola kemitraan sektor pertembakauan, pemerintah hadir dengan memberikan dukungan dan memberikan fasilitas untuk kemitraan, dengan membuat aturan kebijakan untuk memperkuat kemitraan.

Sederhananya, agar menghasilkan tembakau dengan produktifitas baik, terserap dan pasokan bahan baku terpenuhi, maka harus ada komunikasi intensif antara pabrikan dan petani. Tanpa komunikasi yang baik di antara keduanya dipastikan, pabrikan tidak akan terpenuhi pasokan bahan baku sesuai keinginan, produktifitas tembakau petani menurun berakibat tidak terserap dengan baik dan mendapatkan harga yang kurang baik pula.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait

Tinggalkan Balasan