REVIEW

Para Wali yang Mendidik dengan Rokok

Di dunia ini terdapat banyak hal yang meluluhlantakkan nalar kita sebagai manusia. Salah satunya adalah bagaimana cara kiai mendidikan umat manusia untuk mengetahui lebih dalam atas beberapa hal kasat mata. Keghaiban-keghaiban yang sering kiai pertontonkan adalah bentuk pengajaran dan pendidikan yang dapat menuntun manusia menuju alam berpikir yang lebih dalam.

Soal kretek atau rokok, misalnya, di tengah khilafiyah yang terus menerus terjadi. Ada yang pro ada pula yang kontra, banyak kiai yang memberikan isyarat terhadap satu barang yang sjatinya baik untuk bangsa dan negara, meski selalu dipertentangkan karena banyak kepentingan di dalamnya. Berikut kisah-kisah para sufi dan aulia’ yang gemar merokok dan mengajarkan pelajaran lewat asap-asapnya:

 

Mbah Abdul Jalil Mustaqim

Pernah Kiai Jamaluddin Jombang bersama seorang santrinya sowan kepada sang guru, yaitu Mbah Abdul Jalil Mustaqim Tulungagung. Ketika dalam perjalanan Kiai Jamaluddin dawuh pada santrinya: “Le (Nak), kamu saya ajak sowan ke Romo Kiai Abdul Jalil. Beliau termasuk bagian dari wali Allah. Nanti kalau di sana kamu tidak perlu banyak tanya, cukup dengarkan dawuh-dawuhnya.” Jawab si santri, “Iya, Kiai.

Sesampai di kediaman Kiai Abdul Jalil, dan cukup lama berbincang-bincang, pada waktu itu pula Kiai Abdul Jalil menghisap rokok tanpa henti. Habis sebatang nyambung lagi dan terus begitu sampai habis berbatang-batang rokok.

Dalam hati si santri berperasangka dan bertanya seakan tidak percaya, “Katanya kiai ini seorang wali. Dari awal saya bertamu sampai sekarang rokoknya kok ngebut, habis satu langsung nyulut habis lagi nyulut lagi tanpa henti. Di mana letak kewalianya? Ah, kayaknya tidak mungkin!”

Dengan spontan Kiai Abdul Jalil berkata: “Kiai Jamal, lebih baik merokok tapi selalu ingat Allah daripada tidak merokok tapi suka ngurusin orang lain yang sedang menikmati rokok tapi hatinya lalai pada Allah.” 

“Njih, leres Kiai” (Ya benar, Kiai), jawab Kiai Jamaluddin. 

Habib Ali

Para Auliya, biasa menetralkan keadaan spritual mereka dengan Tanawulul muba~hat (melakukan perbuatan -perbuatan yang mubah), sehingga mereka kembali kepada kekuatan basyariyyah sebagaimana manusia biasa.

Toh merokok hukum yang paling kuat adalah makruh, dan makruh masih dalam batas Mubahat juga . Apalagi, trik-trik Mula~matiyyatul Kha~l itu bahkan bisa menggunakan sesuatu yang secara kasat mata Haram, seperti yang dilakukan oleh Syekh Bisyr al Khafi di kisah beliau yang masyhur itu. Ini cerita Ustadh Alwi tentang beliau:

” Abah itu perokok berat . Saat kami Ziarah ke Hadromut , ana bilang sama Abah: Bah , tolong. Untuk kali ini saja , selama di Hadhromut Abah jangan merokok. Bukannya melarang, tetapi bagi para Sayyid, merokok di sini adalah Aib”

Abahnya beliau, Yakni Habib Ali menjawab: ” O, begitu ya? Kalau memang Alwi pengen begitu , Abah siap . Ini Rokok Abah simpen saja”

Singkat cerita sesudah sekian jam mulai dari Bandara Jakarta, Habib Ali tidak lagi menyulut batang Rokoknya . Padahal biasanya seperti lokomotif saja beliau.Saat sudah mendarat, dengan mobil mereka meneruskan perjalanan menuju Sewun. Menuju makam kakek beliau, penulis Simthud Duror, Sayyidinal Imam Ali bin Muhammad bin Husain al Habasyi.

Tetapi di tengah perjalanan mobil berenti. Mogok tidak mau jalan. Mesin di buka, tidak ada yang salah. Bensin masih ada, aki mobil masih bagus . Tetapi setiap kali di stater mobil tidak mau menyala mesinnya.

Satu jam, dua jam begitu . Montir yang dipanggil datang pun kebingungan, ”Ini mesin gak ada masalah, kenapa mobil tidak mau jalan??? ” Kata Montir .

Ustadh Alwi mulai gelisah. Lebih gelisah lagi abahnya yang sedari tadi di jok depan mobil tampak tidak jenak duduknya. Habib Alwi kemudian berpikir, ”Ini pasti ada hubungannya dengan Abah. Abah tampak tidak nyaman mungkin sebabnya sudah satu hari menahan diri untuk tidak merokok”. Ustadh segera menghampiri Abahnya :

”Abah … Sudah, Alwi menyerah. Kalau Abah mau merokok , ya silahkan”

Mendengar putranya berkata sepert itu , Raut muka Habib Ali tampak berbuncah riang .Kata beliau :
” Kalau Alwi bilang begitu, baiklah . Sekarang Abah merokok dulu”

Begitu terlihat asap sudah mengepul di sela-sela bibir Habib Ali, maka Ustadh Alwi berkata kepada sopir, ” Bang , coba sekarang stater mobilnya”. Benar juga , kontak di putar, mesin langsung menyala …

 

Al-Imam al-Quthb al-Aqthab al-Habib Abdullah bin Muchsin al-Athas

Al-Imam al-Quthb al-Aqthab al-Habib Abdullah bin Muchsin al-Athas Maula Kramat Empang Bogor mempunyai “kebiasaan merokok”. Menurut Guru kami yang pernah berkhidmat padanya yaitu Syaikhina al-Ustadz al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf berkata, “Habib Keramat Bogor, Habib Abdullah bin Muchsin, itu merokok. Dan rokoknya adalah rokok kawung.”

Pernah satu kali murid beliau yaitu al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang mengunjunginya dan pada waktu itu Habib Abdullah bin Muchsin baru saja mendapat hadiah rokok mahal dari pembesar Belanda. Melihat kedatangan Habib Ali ke Empang Habib Abdullah sangat senang dan berkata sambil memberikan hadiah untuknya, “Ya Habib Ali, ini rokok mahal buat engkau.”

Mengetahui hal tersebut Habib Ali mau tidak mau menerimanya dan ditaruh di kantongnya karena beliau tidak merokok. Lalu Habib Abdullah bin Muchsin berkata, “Ya Habib, mata ini kalau tidak karena rokok melihat manusia akan apa adanya. Mungkin kalau tidak merokok akan jadi susah manusia menemuiku. Supaya mereka bisa bertemu saya, ya saya begini (merokok, red.).”

Mereka hal (tingkah) para wali Allah (Auliya) memang ada yang suka merokok. Namun selesai merokok mereka akan cuci tangan dan memakai wangi-wangian, lebih-lebih kalau ingin buka kitab mereka sampai menempelkan minyak wangi di bibir mereka.

Pernah satu kali ada yang datang untuk membaca kitab pada Ustadzuna al-Habib Abdurrahman Assegaf. Sewaktu beliau duduk orang tersebut disuruh berwudhu. Setelah berwudhu orang tersebut disuruh pakai minyak wangi dan beliau berkata, 
“Itu mulut ente masih bau rokok, pakein biar wangi. Ente ini mau baca kitab ulama bau rokok begitu. Biar hormat ente sama ilmu yang ditulis oleh ulama biar dapat barakahnya.”

 

Kiai Khoirul Mustajab Banyuwangi

Dengan penuh tanda tanya yang sudah menggunung di dalam hati, saya memberanikan diri bertanya pada beliau, “Kok rokoknya njenengan ngebut banget Kiai, apa tidak merasa sesak dadanya njenengan” ?.

Beliau tersenyum “kalau sudah biasa ya nggak lah, kalau belum terbiasa pasti akan mati hehehe”.

“Kata kebanyakan orang dari pada uangnya dibelikan rokok, kan lebih baik dibelikan yang lain atau ditabung saja Kyai ?” tanya saya.

“Hahaha, itu kan pendapat orang yang tidak merokok Mas, kalau bagi yang merokok yo gak kiro ngunu hehe. Allah itu memberikan rizki pada masing-masing makhluknya itu tidak sama Mas, ada yang cukup hanya membeli beras saja dan ada yang cukup membeli beras dan rokoknya juga hehe, mungkin saya golongan yang kedua ini Mas, soalnya selama saya merokok dapur saya juga ngebul kok”

Benar juga sih kalau dipikir, banyak juga kok orang yang suka merokok masih bisa menabung dan tidak sedikit pula orang yang tidak merokok malah kesulitan untuk menyisihkan uangnya.

Rokok merupakan salah satu pendapatan terbesar di negara ini. “Yang penting jangan merokok disembarang tempat Mas, saya memang perokok berat mulai saat dipesantren, tapi saya gak suka merokok ditempat teman-teman yang gak suka rokok’an meski mereka baik2 saja, saya tidak merokok disana gak enak Mas, saya juga tergolong perokok yang pasif lo Mas” tambah Kyai Khoirul.

“Lo kok bisa perokok pasif Kyai ?” tanya saya.

“Lah iya saya kalau merokok sambil jalan-jalan itu gak enak alias gak bisa menikmati Mas, jadi kalau saya merokok itu ya begini, sambil duduk dan ngopi hehe” jawab beliau. Hahaha saya dan seisi ruangan kecil itu ikut tertawa.

Rokok kretek adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Rokok kretek berbeda dengan rokok yang menggunakan tembakau buatan. Jenis cerutu merupakan simbol rokok kretek yang luar biasa, semuanya alami tanpa ada campuran apapun, dan pembuatannya tidak bisa menggunakan mesin. Masih memanfaatkan tangan pengrajin.

Kisah kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang hidup dikalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkeh. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok.

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkeh. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan “rokok obat” ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi “keretek”, maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan “rokok kretek”. Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal. Konon Djamari meninggal pada 1890. Identitas dan asal-usulnya hingga kini masih samar. Hanya temuannya itu yang terus berkembang.

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamhari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908 usahanya resmi terdaftar dengan merek “Tjap Bal Tiga”. Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.