Sebungkus Rokok Kretek untuk Mama Sam

Malam kedua di Desa Karawana, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Kami baru saja usai membentuk struktur kepengurusan posko tanggap darurat yang diisi seluruhnya oleh pemuda-pemuda desa. Kami yang berasal dari luar desa, memosisikan diri sebagai fasilitator semata. Saya lantas pamit. Meninggalkan lokasi pertemuan di sekretariat kelompok pencinta alam lokal menuju balai pertemuan desa tempat saya mendirikan tenda sebagai tempat tinggal saya selama di Desa Karawana.

Dalam perjalanan, selepas menyeberangi jalan utama desa, di kejauhan saya melihat sekelompok orang yang sedang asyik menyaksikan pertandingan sepakbola lewat televisi yang diletakkan di halaman rumah. Selepas kembali ke desa dari lokasi pengungsian di perbukitan di timur desa, warga Desa Karawana mendirikan tenda-tenda persis di halaman rumah. Rumah-rumah mereka sebagian besar rusak parah. Sedikit warga yang rumahnya tidak rusak parah dan masih bisa dihuni, juga memilih mendirikan tenda di halaman rumah. Mereka masih takut tinggal di dalam rumah karena gempa susulan masih kerap terjadi.

Saya kemudian mengurungkan niat kembali ke balai pertemuan desa, memilih untuk bergabung dengan rombongan yang sedang asyik menyaksikan pertandingan sepakbola. “Saya boleh bergabung ikut nonton bola?” Tanya kepada seorang pria yang paling tua di antara mereka.

“Oh boleh. Silakan. Mari sini gabung.” Ia kemudian menyilakan saya duduk di kursi yang persis menghadap ke arah televisi. Pertandingan yang disiarkan di televisi ketika itu adalah Indonesia vs China Taipei. Wajar orang ramai menonton, yang bertanding tim nasional Indonesia. Lebih lagi salah seorang pemain yang mencetak gol dalam pertandingan itu berasal dari Palu. Semangat warga menyaksikan pertandingan semakin membuncah.

Di sebelah saya, duduk seorang perempuan paruh baya dengan rokok kretek di tangannya. Di meja yang terletak di depan kursi tempat Ia duduk, tergeletak sebungkus rokok kretek Surya 16 lengkap dengan korek api kayu. Saya memperkenalkan diri. Ia pun begitu. Mama Sam. Sembari menyaksikan babak kedua Indonesia vs China Taipei, saya berbincang dengan beberapa orang, terutama dengan Mama Sam yang duduk persis di sebelah saya. Halaman rumah itu milik keluarga Mama Sam, laki-laki paling tua di situ, orang yang pertama kali saya sama, adalah Papa Sam, suami Mama Sam.

Pada mulanya, obrolan kami biasa-biasa saja, obrolan ringan di sela-sela pertandingan sepakbola. Saya menceritakan asal-usul saya, latar belakang saya, dan kenapa saya bisa berada di desa mereka, duduk dan menyaksikan pertandingan sepakbola bersama mereka. Mama Sam kemudian menceritakan tentang desa mereka, dan tentang kepingan-kepingan tak utuh bercampur rasa duka ketika gempa mengguncang Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018.

Mama Sam dan keluarga menjadi satu dari sedikit warga yang memilih menetap di desa dan mengungsi di lapangan di belakang rumahnya alih-alih ikut mengungsi jauh ke perbukitan di timur desa. Aparat pemerintahan desa memang menginstruksikan seluruh warga untuk mengungsi jauh ke perbukitan. Lokasi Desa Jonooge—yang terkena musibah likuifaksi parah sesaat setelah gempa—yang tak jauh dari Desa Karawana menjadi sebabnya. Aparat desa khawatir jika likuifaksi juga merembet ke Desa Karawana.

“Untuk apa mengungsi jauh-jauh. Kalau memang ditakdirkan meninggal dunia, saya memilih meninggal dunia di desa saja. Dekat dari rumah.” Ujar Mama Sam ketika saya tanya mengapa memilih tidak ikut mengungsi ke perbukitan.

Pertandingan sepakbola belum usai ketika Mama Sam pamit menemui tamunya. Belakangan saya baru tahu jika tamunya itu adalah pasien yang hendak diobati oleh Mama Sam.

Keesokan harinya, saat senja sudah menua, bersama anak-anak dan pemuda desa saya bermain sepakbola di lapangan desa persis di sebelah barat balai pertemuan desa. Beberapa orang tentara yang datang membantu pembangunan sekolah darurat untuk anak-anak desa, ikut dalam permainan. Dasar tentara, main-main saja mereka serius sekali. Enggan kalah.

Salah seorang dari mereka kemudian menekel saya yang asyik menggiring bola. Saya terjatuh. Kesakitan. Lutut kiri saya saya rasa begitu sakit. Sakit sekali. Saya kesulitan berdiri. Tak berselang lama lutut kiri saya memar. Bengkak besar. Jika kaki kiri saya gerakkan dari posisi lurus, rasa sakit kian menjadi. Malam harinya, menjadi malam-malam penuh penderitaan. Rasa sakit yang sangat membikin saya kesulitan tidur.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, saya memutuskan untuk mencari tukang pijat yang bisa membantu mengobati sakit di lutut saya. Karena jika tetap menjadi penyakitan, saya tidak bisa membantu apa-apa di posko tanggap darurat. Malah akan menjadi beban tambahan bagi teman-teman di posko.

Saya kemudian bertanya apakah ada tukang pijat di desa kepada salah seorang warga yang kebetulan pagi itu sudah datang ke dapur umum posko. Mama Din namanya. “Ah itu, dekat, dekat saja. Mama Sam sudah ahlinya.” Jawab Mama Din singkat.

Selepas sarapan dan mandi, diantar Bagor dan Fajar, saya berobat ke Mama Sam. Dari tempat saya tinggal, rumah Mama Sam hanya 79 langkah saja jaraknya. Sebelum berangkat ke kediaman Mama Sam, saya bertanya kepada Mama Din berapa harus membayar jasa pengobatan ini. “Cukup rokok satu bungkus saja. Rokoknya harus surya 16.” Jawab Mama Din.

Di ruang tamu kediaman Mama Sam, tikar plastik dihamparkan. Mama Sam meminta saya duduk. Ia kemudian mengambil air yang diwadahi panci kecil. Dengan media air itu, doa-doa yang familiar di telinga saya, dan mantra-mantra berbahasa Kaili yang sama sekali saya tidak mengerti, Mama Sam memijat lutut kiri saya yang sakit parah. Lebih setengah jam Ia mengobati saya. Memijat kaki kiri dan beberapa bagian tubuh lainnya. Usai memijat, Ia lekas membakar rokok kretek favoritnya.

Selain ahli memijat, Mama Sam juga bisa membantu penyembuhan banyak penyakit lainnya. Mama Sam dikenal sebagai dukun kampung di Desa Karawana. Patah tulang dan terkilir, ragam bentuk penyakit dalam, membantu ibu hamil melahirkan, hingga pengobatan kepada orang-orang yang terkena santet, teluh dan sejenisnya, Mama Sam siap berusaha membantu sekuat tenaga, semampunya. Untuk pembayarannya, cukup dengan sebungkus rokok kretek favoritnya.

Mama Sam tidak pernah mengiklankan keahliannya. Para pasien yang datang, tahu dari omongan-omongan orang yang pernah berobat kepadanya. Sudah terlalu banyak orang yang berobat kepadanya. Mulai dari pejabat negara hingga petani kampung pernah Ia obati. Bukan sekali dua orang yang berhasil Ia bantu untuk kesembuhan penyakitnya, memberi hadiah-hadiah barang mewah kepada Mama Sam. Salah seorang pasien yang bisa Ia bantu kesembuhannya dari lumpuh total, pernah menghadiahi Mama Sam sebuah mobil mewah baru, ‘buka bungkus’ kalau istilah Mama Sam untuk barang-barang yang masih gres, masih baru. Mama Sam menolak. Cukup rokok kretek saja. Jika pun hendak menambah dengan hadiah lain, yang wajar-wajar saja. Begitu menurut Mama Sam.

“Bukan, bukan saya yang menyembuhkan. Sama sekali bukan saya. Yang bisa menyembuhkan hanya Allah saja. Saya sekadar membantu.” Ujar Mama Sam terkait keahliannya sebagai dukun kampung.

Tiga kali dipijat Mama Sam, lutut kiri saya semakin membaik. Kini, setelah tiga pekan usai ditekel tentara, lutut kiri saya sudah kembali normal berkat bantuan Mama Sam.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)