REVIEW

Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek

Seorang laki-laki bertanya pada saya, “kenapa Kudus kota kretek?”. Pertanyaan itu terlontar di sela-sela obrolan dalam bus nusantara tujuan Yogyakarta. Kebetulan kita bersebelahan tempat duduknya.

Kita saling menyapa dan berkenalan. Ia memperkenalkan diri dengan nama Zidni Ilma, asli Surabaya dan baru selesai berkunjung ke rumah saudaranya di Kudus yang sudah sekian tahun tidak bertemu. Dilanjutkan ke Yogyakarta untuk mengunjungi anaknya yang kuliah di UGM.

Di sela-sela obrolan, ia menceritakan rasa penasarannya sembari bertanya tentang brandKudus kota kretek. Hal itu terjadi lanntaran di jantung kota Kudus, ia melihat tulisan Kudus Kota Kretek, bahkan ia pun melihat ada mobil truk besar bertuliskan Kudus Kota Kretek. Menurutnya, kota industri rokok besar tidak hanya Kudus, ada Surabaya, Kediri, Malang, Pasuruhan dan lain-lain.

Sebagai orang Kudus, saya harus bisa menjawab. Dengan penuh rasa percaya diri, saya menjawab pertanyaannya. Kira-kira seperti ini:

Berawal dari pengalamannya, H. Jamhari saat sesak nafas dan bengeknya kumat, ia mengambil minyak cengkeh, dioleskan di dada dan tubuhnya. Hasilnya, bengeknya reda. Dari situlah, ia punya pemikiran mencampur bunga cengkeh langsung ke dalam tembakaunya, kemudian dihisap (dirokok). Ketika dibakar, lintingan tersebut berbunyi kretek, kretek, kretek, maka campuran itu kemudian hingga hari ini dikenal sebagai kretek.

Racikan kretek tersebut ternyata berhasil tidak hanya mengurangi rasa bengeknya, tapi malah sakit bengeknya hilang. Berita itu menyebar, hingga H. Jamhari tiap hari banyak orang disekelilingnya yang mengalami sakit serupa minta tolong dibuatkan rokok yang bercengkeh. Bertambahnya hari, makin banyak yang pesan rokok kretek, tidak hanya dari kalangan kecil sampai orang-orang pemerintahan ikut menikmati rokok kretek sebagai obat. Kejadian ini sekitar abad 19an, dan belum diproduksi skala besar (industri), hanya sesuai pesanan.

Berjalannya waktu masih di abad 19an, masifnya permintaan rokok kretek, pada akhirnya diproduksi besar-besaran oleh H. Nitisemito. Satu-satunya industri di Indonesia yang bisa bertahan lama pada masa penjajahan, dibanding industri lain yang hanya bisa bertahan seumur jagung, seperti industri konveksi (produksi pakaian jadi) di Surabaya dan juga di Kudus.

Masa kejayaan H. Nitisemito, sampai terkenal di bumi Nusantara sebagai orang sipil yang kaya raya. Ia membangun 2 rumah besar dengan bentuk yang sama di dua sisi pinggir sungai bernama Kaligelis. Rumah itu terkenal dengan sebutan rumah kembar. Selain rumah kembar, H. Nitisemito membangun rumah yang mirip dengan kapal laut. Tiga bangunan rumah ini, masih bisa dilihat di Kudus, walaupun tidak terawat.

Industri rokok kretek H. Nitisemito bangrut gara-gara diakuisisi penjajah setelah ketahuan ikut serta membiayai dan menyembunyikan para gerilya melawan penjajah. Jatuhnya industri rokok kretek milik H. Nitisemito, tidak melemahkan niat orang Kudus memproduksi rokok kretek. Justru sebaliknya, makin banyak orang-orang Kudus bermunculan membangun industri rokok kretek. Karena, makin banyak permintaan, sampai keluar negeri.

Seiring berjalannya waktu sebelum banyak aturan pemerintah Indonesia yang tidak berpihak pada industri rokok kretek, jumlah industri yang ada di Kudus mencapai ribuan, baik skala kecil (rumahan) hingga industri skala besar. Saat saya masih sekolah di Yogyakarta, sekitar tahun 2000an, masih banyak industri rumahan disekitar rumah saya yang beroperasi. Bahkan dahulu sebelum saya lahir, ceritanya orang tua saya dan saudara-saudara yang lain, juga membuat rokok kretek.

Ketika pulang ke Kudus, kemudian balik lagi ke Yogyakarta, oleh-oleh yang tidak pernah tertinggal adalah rokok kretek. Selain saya hisab sendiri, juga saya bagikan kepada teman-teman satu kos. Pada tahun 2001, terbesit membuat rokok kretek sebagai bisnis, dan terlaksana. Saat itu, saya kasih merek “Djun”, yang kemudian bangkrut karena ketatnya aturan pemerintah.

Industri kretek rumahan tidak beroperasi lagi, setelah diberlakukannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 200/PMK.04/2008, pada pasal 3 ayat 3 mengatur tentang lokasi dan bangunan atau tempat usaha industri kretek. Salah satu bunyinya “memiliki luas bangunan paling sedikit 200 m2. Aturan ini, tidak mungkin terpenuhi industri rumahan. Akibatnya, banyak industri rokok kretek rumahan berguguran, tidak tanggung-tanggung sampai ribuan industri, dan yang tersisa hanya ratusan. Berjalannnya waktu, dari ratusan industri menjadi hanya puluhan. Lagi-lagi ada aturan pemerintah yang tidak berpihak.

Dari dulu hingga sekarang, keberadaan rokok krertek dan industrinya di Kudus, salah satu penopang perekonomian masyarakat. Keberadaannya sangat sangat dibutuhkan bahkan diharapkan. Sebagai contoh, orang yang bekerja di pabrik Djarum Kudus dengan gaji bulanan, masuk dalam kelas tertinggi strata sosial, sejajar dengan pegawai negeri sipil (PNS), guru sekolah swasta favorit, bahkan menjadi calon menantu idaman.

Cerita saya yang terakhir ini, membuat Mas Zidni, tertawa terpingkal-pingkal, sampai sebagian orang di bus melihatnya. Ia sambil berkata, “hebat ya jadi pekerja di Djarum”.

Singkat cerita, setelah turun dari bus, sebelum berpisah, Zidni mengajak bersalaman dan berkata, “Mas ceritamu tadi di tulis aja biar orang pada tahu sejarah dan pentingnya rokok kretek”.

Mendengar hal itu, saya tersenyum sambil berujar “Sudah banyak tulisan sejarah tentang rokok kretek. Yang belum pada tau sejarah pegawai rokok kretek menjadi menantu idaman.” Ia kembali tertawa seru, sambil melambaikan tangan tanda berpisah.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW