Pesan Natal dari Romo Cokro, Seorang Pastor Pencinta Kretek

Sekali waktu di dalam kawasan Keuskupan Agats, Papua, saya berjumpa dengan seorang pastor asal Yogyakarta, saya menyapanya Romo Cokro. Ketika itu pada penghujung tahun 2014, jelang perayaan natal. Sekilas, penampilan Romo Cokro mengingatkan saya pada Romo Mangun. Sosok revolusioner yang menerapkan konsep teologi pembebasan di wilayah-wilayah yang dipandang sebelah mata di Yogyakarta.

Kami berbincang santai menikmati senja di Kota Agats. Dua cangkir kopi panas menemani perbincangan kami. Mulanya Romo Cokro menyampaikan kerinduannya akan Yogyakarta. Sudah lebih tiga tahun Ia tidak pulang ke Yogya, sibuk memberikan pelayanan kepada umat di beberapa distrik di Kabupaten Agats.

Kondisi geografis Kabupaten Asmat yang berawa dengan sungai menjadi satu-satunya sarana transportasi mencapai wiayah-wilayah lain membikin Romo Cokro mau tak mau harus pandai mengendarai perahu bermesin untuk mengunjungi jamaahnya.

Rokok kretek mulai kami bakar. Rokok kretek pabrikan favorit Romo Cokro adalah Dji Sam Soe, sedang saya ketika itu mengeluarkan rokok kretek merek Djarum 76. Selain rokok kretek pabrikan, Romo Cokro juga mengeluarkan tembakau rajangan lengkap dengan cengkeh dan kertas untuk melintingnya. Kepulan asap tebal dari kretek kami, dan asap tipis dari cangkir kopi mewarnai perbincangan kami.

Selain memang hobi merokok tingwe (linting dewe), harga rokok kretek di Agats yang relatif mahal membikin Romo Cokro menyetok tembakau rajangan, cengkeh dan kertas linting sendiri. Kretek baginya, menjadi teman terbaik ketika menjalankan pengabdian melayani umat di Papua.

Bulan Desember ketika itu membikin suasana di seluruh Agats mulai meriah, bergeliat menyambut perayaan natal. Jalan-jalan dihias, rumah-rumah mulai memajang pohon natal, lampu-lampu berwarna-warni sudah dipasang di banyak rumah di sana.

Saya yang tak pernah merayakan natal, ikut terbawa suasana kemeriahan persiapan natal. Selanjutnya kami berbincang banyak hal terkait teologi Katolik dan konsep-konsep keberagamaan di dalamnya.

Ketika menyinggung peristiwa natal, Romo Cokro berujar, “Saat ini, sepertinya perayaan natal hampir di seluruh penjuru bumi sudah kehilangan konteks dan ruhnya.” Ia mengambil jeda sejenak usai mengatakan ini, mengisap rokok kretek miliknya, menarik dalam-dalam asap rokok kemudian menghembuskan kepulan asap keluar mulut, lalu melanjutkan, “Manusia terjebak dalam seremoni-seremoni miskin makna. Mereka merayakan natal sekadar berpesta saja. Makan-makan, saling tukar hadiah, tanpa menghayati makna suci yang terkandung dalam perayaan natal.”

Saya manggut-manggut saja mendengar uraian Romo Cokro. Ia kemudian melanjutkan, “Natal bukan sekadar perayaan kosong makna. Pesta-pesta dan makan-makan saja. Bahkan natal itu bukan sekadar misa. Untuk apa hadir dalam misa jika pesan utama natal tidak benar-benar dihayati dalam kehidupan keseharian.”

“Lalu, menurut Romo, apa pesan natal yang menurut Romo kurang dihayati itu?” Tanya saya.

“Bahwa kelahiran Yesus, adalah sebuah tanda, sebuah simbol, perihal pembebasan, perihal perjuangan pembebasan dari penindasan dan perjuangan pemenuhan hak-hak mendasar manusia dan kemanusiaan. Kelahiran Yesus mesti dimaknai sebagai bentuk pembelaan terhadap mereka yang tertindas untuk selanjutnya membebaskan manusia dari praktik penindasan agar mereka terlepas dari ketertindasan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia. Mengenai semua ini, konteks Papua betul-betul membutuhkan semua itu.”

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)