Sebatang Kretek, Sebatang Perlawanan terhadap Penjajah

The founding fathers, Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno dalam pidatonya menyampaikan, bahwa bangsa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun. Pernyataan lain, seperti diungkapkan Gubernur Jenderal De Jonge pada tahun 1930an, bahwa Belanda berkuasa di India Timur sejak hampir 300 tahun.

Jika Belanda mengacu penjajahan dimulai saat De Outman datang sekitar tahun 1602, kemudian diinterupsi penduduk Inggris selama 5 tahun dan 3 tahun diduduki Jepang, maka Indonesia dijajah Belanda selama 335 tahun (hitungannya 1945-1602-5-3= 335).

Jika dihitung semua, maka Indonesia dijajah Inggris, Jepang dan Belanda selama 343 tahun. Terlepas mana yang benar, pada intinya bangsa Indonesia pernah mengalami masa yang sangat sulit di bawah kekuasaan dan cengkraman bangsa lain dalam waktu yang sangat lama.

Pada masa penjajahan itu, kretek lahir kurang lebih pada abad 19an, terhitung sudah ratusan tahun. Melalui jari-jemari H. Djamhari rokok kretek muncul. Ia mencoba meracik tembakau di campur cengkeh, kemudian dibungkus. Kali pertama, bungkus rokok yang digunakan adalah jagung.

Masa penjajahan, daun jagung mudah di dapat, karena rerata rakyat Indonesia sebelum merdeka, jagung menjadi idola makanan pokok. Bukan berarti padi/nasi tidak ada, akan tetapi padi lebih dikuasai penjajah. Bahkan tidak jarang rakyat mempunyai padi dirampas penjajah atau terkadang untuk membayar pajak pada penguasa (penjajah).

Begitu juga, munculnya rokok kretek, mulanya yang mengkonsumsi adalah masyarakat kecil dan untuk pengobatan. Sedangkan, orang kaya dan para penguasa saat itu memakai “cangklong” untuk menikmati tembakaunya. Cangklong menjadi ciri khas orang kaya dan penguasa. Rakyat biasa memilih daun jagung sebagai pembungkus olahan tembakaunya yang sudah dicampur cengkeh. Cangklong saat itu, menjadi barang mewah, tidak sembarang orang bisa mendapatkan barangnya dan bisa membelinya. Selain barangnya langka, harganya mahal.

Tidak jarang, rakyat kecil yang merokok kretek dapat ejekan orang-orang kaya, terutama penjajah. Mereka (penjajah) mengejek dengan mengatakan, “rokok sampah” sambil tertawa disaat melihat rokok kretek dengan bungkus jagung.

Seperti kesaksian Zariatus Saadah, putri salah satu pembuat kretek di Kudus pada masa penjajahan. Saat ini, ia sudah bermur 90 tahuan. Di atas tikar, ia membagikan pengalamannya saat kecil sebagai anak pengusaha rokok kretek skala rumahan. Ia tidak merokok, namun punya pengalaman seputar rokok kretek masa penjajahan.

Ia mencritakan, bahwa rokok kretek dahulu dibungkus daun jagung yang telah dipotong dan diasapkan  kebara. Dahulu belum ada setrika, seperti saat ini, mudah menggunakan setrika untuk mengeringkan dan menata daun jagung.

Dan jagung dahulu mudah diperoleh di rumah dan di sekitarnya. Dahulu daun jagung tidak usah membeli, bisa didapat di pekarangan rumah atau di kebun dan di sawah.

Masih menurut, Zariatus Saadah, bapaknya bernama Bahran (almarhum) pernah mengatakan, adanya rokok kretek sebagai pembeda dengan Belanda. Saat itu, banyak para kiai di Kudus (salah satunya KH. Makmun Ahmad almarhum dan KH. Badrus Zaman almarhum) mengharamkan meniru apa-apa yang dilakukan penjajah, termasuk merokok dengan cangklong.  Tetapi merokok kretek dengan daun jagung diperbolehkan, karena diciptakan oleh pribumi. Pada intinya masyarakat tidak boleh meniru apa-apa yang berbau Belanda, baik kelakuan, cara berpakaian, bahkan sampai makanan.

Kalau di telisik, pelarangan para Kiai tersebut bukan tanpa alasan, dengan meniru budaya penjajah saat itu, maka sama saja suka ata senang dijajah. Sebab penolakan terhadap semua yang berbau penjajah adalah salah satu simbol pergerakan nasional. Seperti halnya tulisan Abdul Rivai dalam koran Bintang Timoer, terbit 03 Oktober 1927, berbunyi, “kopinya bukan kopi saringan, tapi kopi tubruk, sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula Jawa. Susu tidak dipaksa sebab tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan nationaal, ini terus (berlangsung-ed) sampai pagi hari”.

Dari cerita ibu Zariatus Saadah dan tulisan Abdul Rivai, bisa jadi terciptanya rokok kretek di Kudus, selain untuk pengobatan, juga untuk menandingi kebiasan penjajah. Saat itu, aktivitas merokok dengan cangklong, kali pertama dipopulerkan di Indonesia oleh orang-orang Belanda, kemudian mewabah ke kalangan elit di keraton. Untuk itu, diciptakan rokok kretek sebagai pembeda. Cangklong hanya memakai tembakau ditaruh ujung lubang dan di sulut, rokok kretek dibuat dari racikan tembakau dan cengkeh (tanaman asli nusantara) dan dibungkus dengan daun jagung. Perkembangannya rokok kretek di bungkus memakai kertas khusus, dinamakan (papir).

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).