OPINI

Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing

Organisasi  yang mengampanyekan antirokok di Indonesia membawa agenda kepentingan asing. Pintu masuknya melalui lembaga penelitian, rezim kesehatan, organisasi kemasyarakatan hingga sebagian masuk melalui organisasi keagamaan. Kepentingan asing memberikan sokongan dana melalui Bloomberg Initiative, program utamanya pengendalian penggunaan tembakau.

Bloomberg Initiative adalah program filantropis di Amerika Serikat yang telah bekerjasama dengan industri farmasi, untuk mendanai perang terhadap industri rokok. Selain kerjasama dengan Bloomberg Initiative, farmasi memberikan sokongan dana terhadap organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, yaitu World Health Organization (WHO). WHO menjadi kepanjangan tangan industri farmasi multinasional.

Bloomberg Initiative dan WHO menjadi ujung tombak untuk agenda perang antitembakau yang diselancarkan industri farmasi. Isu perang yang getol disuarakan adalah tembakau menjadi penyebab penyakit degeratif, penyebab kemiskinan, menambah beban biaya kesehatan, sampai pada penyebab kematian utama manusia.  Agenda utama perang antitembakau adalah merebut pasar nikotin dunia.

Nikotin bagi ahli farmakologi dan ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat bagi manusia.  Nikotini sangat bermanfaat dan sangat dibutuhkan sebagai obat dan untuk aneka terapi. Salah satu manfaat nikotin bisa meringankan nyeri, gelisah, depresi, dapat meningkatkan konsentrasi bagi penyandang kelainan hiperaktif, meringankan penderita skizofrenia akut, sindroma taurette, parkinson dan alzheimer.

Zat nikotin (C10H14N2) terkandung dalam daun tembakau sekitar 0.5-3.5 persen per 100 gram daun tembakau. Kandungan ini  lebih besar dibandingkan dengan kandungan nikotin dalam kembang kol hanya 3.8 gram per satu kembang, terong mengandung 10 gram per satu buah, kentang mengandung 15.3 per satu buah, tomat mengandung 4.1 gram per buah.

Dalam perang perebutan nikotin, rezim kesehatan dan organisasi anti rokok di Indonesia, menjadikan industri rokok sebagai kambing hitam. Semua kegiatan kampanye anti rokok dan beberapa penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka menjatuhkan citra buruk terhadap produk hasil tembakau (rokok).  Salah satu penyebabnya, tembakau di Indonesia mayoritas pemanfaatannya untuk rokok dengan harga jual daun tembaku relatif baik dan menguntungkan bagi petani.

Banyak lembaga dan organisasi yang berkembang di Indonesia memperoleh dana hibah dari Bloomberg Initiative bertujuan memberikan intervensi dalam rangka pengendalian tembakau. Salah satu lemabaga yang mendapatkan donor dari Bloomberg Initiative adalah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Hasil penelusuran Nuran Wibisono dan Marlutfi Yoandinas, dalam bukunya berjudul “Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia” yang baru terdeteksi, YLKI mendapat tiga kali kucuran dana. Periode pertama pada bulan Mei 2008-Juli 2010 menerima dana berkisar 454.480US$ untuk advokasi dan penegakan peraturan tentang daerah bebas asap rokok dan kebijakan larangan iklan rokok.

Periode kedua, pada bulan Januari 2011- April 2012, YLKI menerima dana sebesar 127.800 US$ untuk advokasi penerapan peraturan bebas asap rokok di Jakarta. Periode ketiga, pada bulan Desember 2012-Januari 2014, YLKI menerima dana sebesar 105.493 US$ untuk penguatan implementasi regulasi kawasan tanpa rokok. Dan besar kemungkinan dana tersebut diterima YLKI sampai sekarang.

YLKI bukan satu-satunya lembaga atau organisasi yang mendapatkan donor dari Bloomberg Initiative. Masih banyak lembaga atau organisasi lain yang mendapatkan donor bersumber dari Bloomberg Initiative, seperti LSM No Tobacco Community (NTC) di Bogor, Forum Warga Kota Jakarta, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi, Dinas Kesehatan dan lain sebagainya.

Tentunya, mereka peneriman dana, harus menyukseskan program yang telah dibuat Bloomberg Initiative. Pada intinya persyaratan proposal yang harus diajukan adalah fokus pada pencapaian perubahan kebijakan yang akan mengarah pada pengurangan substansial dalam penggunaan tembakau.

Tujuan utama Bloomberg Initiative sangat berseberang dengan kondisi riil bangsa Indonesia. Tembakau yang kemudian diolah menjadi rokok dan selanjutnya di bakar dan dihisap, adalah warisan budaya turun menurun. Menanam tembakau menjadi wajib di area yang sangat cocok karena kearifan lokal (tidak ada tanaman yang bisa hidup dan mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi petani).

Satu-satunya industri dengan daya beli dan keterserapan daun tembakau tinggi di Indonesia, pemanfaatannya hanya untuk rokok. Kemudian, melalui proses dari mencampur dengan cengkeh sampai melinting menjadi rokok, adalah bentuk kreatifitas anak bangsa dengan harus berlatih dan belajar, seharusnya mendapatkan apresiasi positif. Belum lagi industri rokok kretek di Indonesia merupakan industri padat karya, melibatkan banyak pihak terlebih kaum hawa.

Keberadaan industri kretek di Indonesia sampai detik ini menjadi kekuatan ekonomi nasional, yang memperkuatan dari pinggiran dan kota-kota kecil. Bahkan dewasa ini dari hasil pungutan rokok berupa cukai, sangat membantu program pemerintah menyehatkan masyarakat melalui pembayaran BPJS yang baru terjangkit defisit.

Dengan demikian, keberadaan pertembakauan di Indonesia menolak isu, bahwa tembakau menjadi penyebab kemiskinan, tembakau tidak menyehatkan,  penyebab menambah beban biaya kesehatan, sampai pada penyebab kematian utama manusia.

Untuk itu sebagai lembaga dan organisasi anti rokok yang berdiri, hidup dan berkembang di bumi Nusantara ini, seharusnya melihat, realita lapangan bahwa industri hasil tembakau dari segi manapun sangat bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Jangan sampai, kepentingan asing mendahului kepentingan nasional. Sebaliknya, kepentingan nasioanl harus dikedepankan untuk menjaga harga diri dan kedaulatan Bangsa. Boleh mengambil donor dari luar, asalkan sinergi dengan  kepentingan nasional.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

Comments are closed.

More in:OPINI