OPINI

Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan

Dalam satu chapter komik One Piece, Luffy pernah menolong musuhnya setelah mereka bertarung satu sama lain. Sang musuh lantas bertanya kepada Luffy, kenapa dia mau menolong musuhnya, saat itu Luffy menjawab “Ketika dua orang pria telah bertukar tinju, maka mereka adalah teman”.

Pernyataan Luffy seharusnya dapat kita jadikan sebuah panduan dalam sebuah kompetisi, dalam konteks ini adalah Pilpres 2019 yang tengah berlangsung.

Sejak awal 2018 aroma persaingan Pilpres sudah dapat dirasakan di tengah-tengah masyarakat. Akibat dari persaingan tersebut, kini terdapat polarisasi yang cukup tajam. Bagi pendukung Jokowi mereka disebut sebagai cebong, adapun di kubu Prabowo mereka disebut sebagai kampret.

Cebong vs kampret kemudian tak hanya semata menjadi sebuah sebutan bagi kelompok-kelompok pendukung, bahkan sudah dilekatkan sebagai identitas dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi intensitas perdebatan cebong vs kampret ini juga digaungkan di media sosial setiap hari.

Efeknya adalah identitas ini masuk ke ranah lingkungan kerja, tempat tinggal, hingga keluarga. Di tempat kerja pembahasan perbedaan politik terjadi. Begitupun di lingkungan tempat tinggal dan keluarga. Tak jarang perbedaan politik kemudian memecah harmonisasi antar rekan kerja, antar tetangga, dan keluarga.

Bayangkan ketika sedang ada di tongkrongan, ada teman yang membahas urusan politik dengan gaya juru kampanye tim pemenangan salah satu pasangan calon. Lalu ketika ada yang berbeda pandangan, dia terus memaksakan pandangannya kepada teman-temannya yang lain.

Tentunya kopi menjadi tak lagi hangat, suasana hening menyelimuti, dan hanya ada anggukan kepala satu sama lain. Padahal anggukan tersebut belum tentu tanda sepakat, bisa jadi isyarat agar perdebatan cepat selesai.

Masyarakat kita jadi kurang rileks. Perbedaan tak lagi dianggap sebagai rahmat.

Mungkin cebong dan kampret ini seharusnya meniru sikap perokok dalam memaknai perbedaan. Kami para perokok meskipun berbeda pendapat dengan antirokok, tentu kami tetap menghargai mereka. Tidak pernah kami mengepulkan asap rokok kami ke muka mereka ketika sedang berdebat.

Karena kami tau meskipun berbeda prinsip, tapi kami tidak boleh merenggut hak mereka sebagai orang yang tidak merokok. Dan kami berusaha untuk meletakan sesuatu pada tempatnya. Berdebat ada tempatnya, begitupun dengan merokok juga ada tempat dan waktunya.

Pernahkah berpikir para cebong dan kampret ini ketika mereka membawa identitas tersebut dalam kehidupan sehari-hari, akan ada hak orang yang terenggut? Ketika di tempat kerja membawa identitas maka ada hak rekan kerja yang ingin pekerjaannya lepas dari hiruk-pikuk pembahasan politik. Di lingkungan tempat tinggal kita ada hak tetangga yang ingin hidup damai di lingkungannya tanpa ada perbedaan-perbedaan.

Ketika sedang nongkrong dengan teman pun disana terdapat hak teman-teman lain yang ingin melepaskan penat dengan cengkrama hangat antar teman. Tidak bisakah cebong dan kampret ini meletakkan perdebatan politik pada tempat dan waktunya?

Suatu ketika pernah ada foto-foto para politikus yang enjoy duduk dan bercengkrama hangat satu sama lain dengan rokok terselip di tangan dan bibir mereka. Padahal mereka habis berdebat sengit di acara debat salah satu stasiun televisi.

Dari foto tersebut tersirat makna pernyataan Luffy bahwa ketika dua orang pria telah bertukar tinju, maka mereka adalah teman. Ya habis berdebat bukan berarti mereka menjadi musuh sepanjang waktu. Begitupun tersirat makna dari sikap perokok santun yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ya perdebatan hanya ada di forum debat. Berdebat ada waktu dan tempatnya. Ketika waktunya untuk merokok bersama, tak ada lagi identitas cebong-kampret. Semua harus sama-sama menikmati rokok yang ada di jari-jari tangan masing-masing.

Ingat apapun pilihan politik kita, berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

    You may also like

    Comments are closed.

    More in:OPINI