Dua Bungkus Kretek Pemberian Jangat Pico

Banyak yang bilang konsumsi rokok itu membikin ketergantungan. Sekali dua mencicip rokok, kemudian rutin merokok, selanjutnya akan selalu ketergantungan terhadapnya. Jika sudah begini, saat kesulitan mendapat sebatang rokok untuk dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu, ketergantungan itu akan menyebabkan gelisah, sulit berpikir jernih, dan bermacam efek buruk lainnya.

Namun tidak bagi saya. Dan saya yakin bagi banyak orang lainnya. Saya bisa rutin mengonsumsi rokok. Bisa satu bungkus per hari, bisa dua bungkus per hari, bisa hanya enam batang per hari, atau di bawah itu.

Tetapi saya bisa juga tidak mengonsumsi rokok untuk jangka waktu yang lama. Seharian tidak merokok ya tidak masalah. Pernah sepekan sama sekali tidak merokok, bahkan hingga sebulan lebih tidak merokok, ya biasa saja. Tidak ada efek buruk karena ketergantungan yang muncul pada tubuh saya. Biasa-biasa saja. Saya tetap bisa lancar menulis, tetap bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain serta beragam aktivitas lain.

Baca juga: Cigarretes After Sex, Benarkah Nikmat?

Seperti hari itu. Hari yang hingga kini selalu saya kenang sebagai hari yang begitu baik mengenai hubungan antar manusia, hubungan antara orang dewasa dan anak-anak, hubungan antara guru dan murid, yang melibatkan langsung rokok kretek di dalamnya.

Saya memperkirakan usia Jangat Pico ketika itu sekira 13 atau 14 tahun. Ia anak rimba yang tinggal bersama komunitas Orang Rimba (atau lebih sering disebut Suku Anak Dalam) di Taman Nasional Bukit 12, Jambi. Jangat Pico satu dari sekian banyak anak rimba yang menjadi murid Sokola Rimba tempat saya pernah bertugas di sana menjadi sukarelawan guru.

Siang itu, ketika Jangat Pico tiba di sebuah rumah panggung di tengah hutan tempat saya tinggal, bangunan yang biasa disebut ruma sokola, tersisa saya seorang diri di sana. Anak-anak lain yang biasa menemani saya tinggal di rumah, sebagian sedang pergi ke sisi lain hutan membantu orang tua mereka mengumpulkan makanan. Sebagian lainnya bermain di hutan sembari menenteng ketapel mereka. Pico kembali lebih dahulu.

Baca juga: Mereka yang Merokok dan Melampaui Waktu

Ketika saya berjumpa dengan Jangat Pico siang itu, adalah hari ke-35 saya di tengah hutan dan hari ke-9 saya tidak merokok sama sekali. Rokok kretek favorit saya sudah sembilan hari sebelumnya habis.

Untuk membeli rokok, saya harus berjalan keluar hutan menuju desa terdekat yang terdapat kios yang menjual rokok. Lama perjalanan itu memakan waktu sekira lima hingga tujuh jam jalan kaki, tergantung kondisi fisik dan beban yang dibawa. Saya biasa saja menitip untuk dibelikan rokok oleh beberapa Orang Rimba yang kebetulan sedang keluar hutan. Namun saya tidak melakukan itu.

Rumah tempat saya tinggal di tengah hutan berjarak sekira satu jam jalan kaki dengan rumah tempat orang tua Jangat Pico tinggal ketika itu. Cukup jauh jika mendengarnya, namun bagi mereka yang terbiasa berjalan kaki seperti Orang Rimba, jarak itu biasa saja, bahkan dianggap dekat.

Setelah berbincang lama perihal apa saja dengan Jangat Pico, kami kemudian berbincang perihal rokok. Perbincangan kami menggunakan Bahasa Rimba, pada tulisan ini, langsung saya terjemahkan saja.

“Faway, kenapa kamu nggak merokok?” Tanya Pico.

“Rokokku habis, Pico. Sudah sembilan hari habis.” Jawab saya.

“Belangun! (ungkapan dalam bahasa rimba yang biasanya digunakan untuk mengungkapkan rasa terkejut) Kenapa bisa sampai selama itu. Titip minta dibelikanlah sama mereka yang keluar rimba.”

“Nggak usah, nanti saja sekalian belanja logistik. Aku juga harus ke kota, ambil uang karena uangku hampir habis.”

Baca Juga: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek

Bagi laki-laki Orang Rimba, peran rokok begitu penting dan vital. Semua orang rimba dari anak-anak hingga orang tua paham peran rokok ini. Sehingga ketika Jangat Pico mengetahui saya sudah sembilan hari tidak merokok, Ia begitu terkejut (untuk mengetahui lebih jauh tentang peran rokok dalam komunitas Orang Rimba, silakan baca tulisan saya berjudul ‘Mengisap Lintingan Tembakau Sebagai Penanda Dewasa Orang Rimba’ pada situsweb ini).

Usai perbincangan itu, Jangat Pico kemudian pamit. Ia bilang Ia hendak menyusul teman-temannya yang pergi bermain ketapel di hutan. Ia bilang tidak akan terlalu lama akan segera kembali karena sore hari kami semua ada jadwal belajar di Sokola Rimba lanjut bermain sepakbola.

Menjelang senja, Jangat Pico kembali. Lagi-lagi Ia kembali lebih dulu dibanding anak-anak lainnya. Tanpa basa-basi, Jangat Pico lantas menyerahkan dua bungkus rokok kretek kepada saya, “Ini untuk kamu. Aku kasihan sama kamu sudah sembilan hari nggak merokok. Ambillah. Gratis.” Ia lantas tertawa usai mengucapkan kata gratis.

Saya tentu saja terkejut lalu mengucapkan terima kasih. Ternyata pamitnya Jangat Pico ketika itu untuk pulang ke rumahnya, Ia lantas menyampaikan kepada Bapaknya bahwa saya sudah sembilan hari tidak merokok dan meminta sebungkus rokok milik bapaknya untuk diberikan kepada saya. Bapaknya memberikan tambahan sebungkus rokok lagi.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)