Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional

Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk perangkat rokok tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya heat not burn (HNB) iQOS.

Perangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau.

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.

Selain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya.

Bisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.

Watak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.

Sesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun.

Ya kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?

Tentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.

Kretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.

Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok.

Dari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.

Lalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek