OPINI

Riset Kesehatan Rokok Elektrik

Gumpalan asap tebal menyelimuti hampir seluruh ruangan berukuran delapan kali enam meter. Empat orang di salah satu sudut ruangan dengan benda aneh di tangan mereka masing-masing menjadi sumbernya. Asap itu mengeluarkan aroma wangi. Sangat wangi. Saya menduga itu aroma buah-buahan. Aliran asap tersebut, karakteristiknya berbeda dengan asap hasil pembakaran sebatang rokok misalnya. Itulah kali pertama saya melihat rokok elektrik atau lazim disebut vape beberapa tahun yang lalu.

Asap yang ditimbulkan akibat aktivitas mengisap vape berbeda dengan asap yang ditimbulkan dari asap rokok. Ia bergerak cenderung horizontal dan vertikal ke bawah, sedangkan asap rokok vertikal ke atas usai dihebuskan ke arah mana saja. Setelah saya coba cari tahu, proses reaksi yang terjadi dari keduanya memang beda. Prinsip kerja rokok konvensional adalah proses pembakaran. Sedangkan pada rokok elektrik, terjadi proses penguapan menggunakan panas yang bersumber dari sebuah plat yang energi pemanasnya didapat dari baterai.

Asap hasil pembakaran dengan asap hasil penguapan memiliki masa jenis yang berbeda. Pembakaran biasanya menghasilkan asap dengan masa jenis yang lebih ringan dibanding penguapan. Dari kajian personal yang saya lakukan itu, hingga saat ini saya belum mau mencoba rokok elektrik, karena menurut pendapat pribadi saya, tubuh akan lebih berat bekerja mengolah asap hasil penguapan dibanding asap hasil reaksi pembakaran.

Namun begitu, sejak maraknya penggunaan rokok elektrik di negeri ini, terutama di beberapa kota besar di Indonesia, rokok elektrik tersebut dianggap sebagai alternatif yang lebih menyehatkan di banding rokok konvensional. Rokok elektrik dikampanyekan sebagai sarana antara bagi mereka yang ingin berhenti merokok konvensional karena dianggap mudharatnya lebih kecil dibanding rokok konvensional.

Apa benar seperti itu?

Belum terlalu banyak riset mendalam dilakukan guna mengetahui manfaat dari rokok elektrik dan terutama risiko-risiko yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk yang familiar disebut vape itu. Ini berbeda jauh dengan riset terkait rokok konvensional. Sudah cukup banyak. Baik yang bernada positif, lebih-lebih yang bernada negatif dan adakalanya tidak cukup berimbang.

Beberapa riset yang pernah dilakukan tersebut di antaranya adalah riset selama tiga tahun yang dilakukan oleh pihak Universitas Catania di Italia. Pada 2017, mereka merilis hasil riset yang menyebutkan bahwa konsumsi vape tidak menimbulkan risiko kesehatan serius dibandingkan dengan rokok biasa yang dikonsumsi dengan cara dibakar. Riset tesebut menyebutkan bahwa konsumsi vape tidak menyebabkan masalah pada paru-paru, bahkan pada konsumen yang menggunakan rokok elektrik secara reguler, hal ini dilihat dari sisi fisiologis, klinis, ataupun inflamasi.

“Kami tidak menemukan bukti adanya masalah kesehatan, terkait penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang berdasarkan riset kami,” kata Riccardo Polosa, Direktur Universitas Catania di Italia.

Laporan ini merupakan hasil studi selama 3,5 tahun dengan menyasar pengguna vape pada usia 23-35 tahun, serta menyasar sekelompok orang non-perokok lainnya dengan rentang usia yang sama. (http://www.tribunnews.com/lifestyle/2017/12/20/riset-dari-italia-sebut-rokok-elektrik-minimalisir-risiko-kesehatan-secara-signifikan)

Pada penelitian lainnya, tim peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) bekerja sama dengan Universitas Padjajaran. Tim ini melakukan riset bersama mengenai apa yang terjadi di rongga mulut ketika seseorang merokok.

“Kajian di rongga mulut pada sel yang kita ambil dari dalam pipi. Itu kita kerok lalu diteliti di bawah mikroskop, itu memperlihatkan perilaku sel,” papar Amaliya, salahseorang peneliti YPKP dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Amaliya melanjutkan, ketika banyak inti-inti kecil sel yang mengelilingi inti besar, hal tersebut menunjukkan ketidakstabilan sel. Sel itu dapat berupa menjadi keganasan berupa tumor, kanker, dan penyakit lainnya.

“Tapi untuk pengguna rokok eletrik (rotrik) ketidakstabilan sel ini tidak terlihat,” jelas dia.

“Kita bisa melihat paparan zat bahayanya berkurang, sampai tinggal hanya lima persen, sehingga sel menjadi stabil ketika membelah sudah lebih baik dan normal dibanding rokok konvensional,” jelasnya.

Amaliyah menjelaskan, baik rokok konvensional ataupun elektrik memang tidak sehat. Hanya saja, jika ingin mengurangi bahaya kesehatan dapat beralih ke rotrik (rokok elektrik). Melalui penelitian di Inggris, tambah Amaliyah, rokok konvensional mempunyai zat berbahaya sampai risiko keselamatan 100 perse dibanding vape.

(https://www.jawapos.com/kesehatan/health-issues/30/01/2018/hasil-riset-dibanding-rokok-konvensional-vape-ternyata-tak-berbahaya)

Akan tetapi, tidak semua hasil penelitian mengenai rokok elektrik melulu bernada positif. Penelitian yang dilakukan oleh dr. Nauki Kunugita dari National Institute of Public Health di Jepang misalnya, menurut hasil penelitiannya, dalam salah satu rokok elektrik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen (kelompok zat yang secara langsung dapat merusak DNA, mempromosikan atau membantu kanker) dibandingkan satu batang rokok biasa.

Menurut Irina Petrache, dokter dan spesialis paru-paru di Indiana University, Indianapolis, dan tim peneliti yang dibentuknya menyimpulkan bahwa vaping tidak lebih baik dari merokok, jika menyangkut kesehatan paru-paru.

Pada penelitian yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham, para peneliti membuat sebuah alat meniru seseorang sedang mengisap rokok elektrik dengan melibatkan sampel organ tubuh dari delapan orang non-perokok. Para peneliti kemudian menemukan asap rokok elektrik menyebabkan pembengkakan dan merusak aktivitas alveolar macrophages—sel-sel yang berpotensi melawan partikel debu, bakteri, dan pemicu alergi. (https://www.bbc.com/indonesia/majalah-45178673)

Pada penelitian lainnya masih mengenai rokok elektrik, Sven Jordt, salah satu peneliti dalam laporan yang dirilis Kamis (18/10/2018) di jurnal Nicotine and Tobacco Research menyebutkan bahwa perisa kimia dan pelarut, (yang membentuk) cairan itu, dan berada di dalam rokok elektrik, mereka bisa membentuk senyawa kimia baru. Jordt yang merupakan pengajar ilmu anestesi, farmasi, dan cancer biologydi Fakultas Kedokteran Duke University melanjutkan, “Senyawa-senyawa baru ini bisa menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan pemakai rokok elektrik. Hidung, mulut, dan tenggorokan kita memiliki ujung saraf yang bisa merasakan kandungan kimia yang menyakitkan atau pedih dalam udara yang dihirup. Misalnya rasa panas dan menyengat saat mengisap rokok, dimediasi oleh ujung saraf ini. Ujung-ujung saraf tersebut juga bisa memicu bersin dan batuk, pada dasarnya untuk menjaga paru-paru dari zat kimia beracun yang dihirup.”

(https://www.beritasatu.com/kesehatan/517337-penelitian-terbaru-ungkap-risiko-rokok-elektrik.html)

Itulah sedikit yang bisa disimak dari hasil riset terkait rokok elektrik. Klaim-klaim lebih sehat dan lebih baik dan lebih berisiko kecil dan lain sebagainya, belum bisa dipastikan dan belum tentu benar. Bahkan malah mungkin sekali jauh lebih berbahaya. Saya kira, merokok elektrik dan merokok konvensional, adalah hak yang sama-sama dilindungi oleh negara. Yang kurang bijak adalah, mengklaim lebih baik dan lebih menyehatkan sembari menjatuhkan lainnya. Padahal itu sama sekali belum benar-benar terbukti.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI